Mahasiswa motor pergerakan menuju kebaikan (kacamata Allah SWT)

Salam

Sepertinya sudah sangat lama tak menggoreskan tinta di blog ini ^^ Oya, untuk sambungan part ttg IISEF 2013 belum diteruskan ya, nanti deh. InsyaAllah secepatnya di selesaikan part nya.
Isi kali ini saya mau share tentang sebuah ke-galau-an sebagai mahasiswa. Tepatnya bukan cuma ke-galau-an saja, malu lah! Kapan move on nya kalo gitu.
check this out, guys!



“IRON STOCK!” “AGENT OF CHANGE!” dan beragam slogan-slogan yang saya dapatkan ‘bada’ ospek a.k.a penindasan yang di’shahih’kan. Ya, sebagai salah satu entitas masyarakat yang terpelajar, mahasiswa dituntut bisa menjadi motor perubahan! Namun apa daya? Slogan tinggal slogan! Bahkan banyak sekarang yang berpendapat mahasiswa sebagai kaum hedonis borjuis, egois, kebebasan yang lewat batas (asusila red) baca masyarakat rusak! Fakta memang fakta, saya tidak bisa menyalahkan nya.  sudah beragam kejadian yang telah mencoreng slogan itu! Baik, namun saya akan mencoba menuturkan mengapa dan bagaiman hal itu terjadi juga hubungan dengan selogan itu.

Yang saya dapatkan dalam ospek, khusunya slogan itu. “AGENT OF CHANGE” ya, saya akan sedikit mengulas dia. Agent of change, bila diartikan dalam bahasa indonesia kurang lebih adalah agen perubahan. Sebagai agen, tentu hal itu adalah cap khusus yang ada pada mereka. Perubahan, sebuah perbaikan menuju kearah yang baik (masih abstrak). Saya yakin 100% setiap mahasiswa tahu dan mengerti akan hal itu. Namun, mengapa hasil perubahan itu tak terlihat jelas? Apakah perubahan itu bersifat kelompok? satu sisi? Atau bagaimana? Juga beragam pertanyaan yang ada dalam benak saya.

[1] Ke-galau-an pertama. Ketika bidang yang katanya harus dijadikan awal sumbangsih kita menuju perubahan(masih di klarifikasi) di’hancur’kan oleh kekuasaan yang serba kapitalistik. Contoh saja, saya sebagai mahasiswa farmasi berusaha memberikan inovasi dan masukan saya lewat bidang saya. Kejadian obat-obatan berbahan dasar haram (babi, monyet, dsb) dengan mudah beredar, bahkan dilegalkan dengan beragam alasan yang di’paksa’kan (lebih murah, mudah mendapatkan, dsb), padahal faktanya sudah banyak obat-obat yang dibuat dari barang yang halal berhasil dibuat dengan hasil dan biaya yang tak jauh berbeda. Kesalahan pada ketidak pekaan mahasiswa melihat permasalahan atau kebijakan yang bodoh!

[2] Ke-galau-an kedua. Mahasiswa hanya dijadikan kambing hitam dalam percaturan kekuasan kotor. Ketika sebuah pemerintahan dilaksananakan, namun hasilnya masih sangat jauh. Lalu, beragam Gerakan Mahasiswa (GM) melakukan sebuah aksi/demo. walau kalau ada yang anarkis itu sebuah kesalahan. Selalu saja disalahkan, dengan beragam dalih, tak patuhlah, membangkang lah, kenapa tak memilih ketika pemilu kepada yang benar-benar akan membawa perubahan, dsb. Mahasiswa hanya dijadikan tumbal!

[3] Ke-galau-an ketiga. Yang ini adalah akhir dari semua ke-galau-an yang saya rasa semua mahasiswa alami. Kearah manakan mereka harus bergerak? Juga perubahan seperti apa yang seharusnya meraka lakukan? Contoh real adalah tumbangnya rezim orba tahun 98, ketika soeharto di’turun’kan oleh mahasiswa, walau tersiar kabar ada dorongan USA juga, beberapa kapal perang USA sudah berada di laut Jakarta. Namun, ketika reformasi itu terjadi? Apakah ada sebuah perubahan yang mendasar bagi Indonesia? Fakta bisa kita lihat sendiri, bagaimana Indonesia tetap menjadi Negara korup, miskin.

Ternyata ke-galau-an itu sangat-lah menggambarkan ternyata mereka masih peduli, mahasiswa umum nya menginginkan sebuah peruabahan, namun mereka tak mengerti bagaimana dan seperti apa perubahan itu seharusnya terjadi.

Perubahan itu dibagi menjadi dua, reformasi dan revolusi. Reformasi adalah perubahan yang lumayan membutuhkan waktu, sedangkan revolusi adalah sebuah perubahan cepat. Untuk menentukan apa yang seharusnya dilakukan mahasiswa, bisa kita lihat kesalahan apa yang sebetulnya terjadi, ditingkat apa? Apakah cabang, teknis, apa sistem?

Bila kita tinjau pada cabang, kita bisa lihat memang masih banyak penyelewengan, namun ternyata hal ini hasil dari sistem yang membentuk nya. korupsi masih merajalela, karena sistem(uu, birokrasi, dsb) sangat lah ‘basah’ a.k.a sistem mendukung. Sangatlah tak adil menyalahkan koruptor tanpa menilik apa pendorong lainnya. Bila ditilik dari teknis, saya berani berkata, sebenarnya kita kuat, siap, bahkan sangatlah siap! Contoh kecil, pesawat buatan PT.DI yang merupakan salah satu yang terbaik  di Dunia, namun di’sekarat’kan oleh pihak tak tahu diri. Lalu yang terakhir sistem, sistem adalah sekumpulan uu, kebijakan,yang itu menjadi hal teratas. Sebuah sistem akan berusaha mempertahankan sistemnya berjalan baik. Faktanya banyak kebijakan yang seharusnya tak dilakukan, namun tetap dipaksakan, walau hal cabang atau teknis melihat itu adalah sebuah kesalahan. sistem juga yang membentuk cabang juga teknis menjadi rusak. Contoh diatas sudah sangat jelas menggambarkan nya.

Ternyata ‘penyakit’ yang menyebabkan kerusakan ini tertuju pada kesalahan sistem. Ya, sistem Indonesia dan hampir seluruh Negara di Dunia, menggunakan pandangan/ideologi kapitalisme dengan demokrasi nya. Sudah, saat nya mahasiswa sebagai agent of change mengerti apa yang heharusnya mereka perbuat, dan tau apa penyakit itu, lalu segera memotong dan membuang itu!

Buang kapitalisme n sekularisme dengan demokrasi nya! Ganti dengan syariah dan khilafah yang telah  terbukti 13 abad memimpin dunia dengan peradaban emasnya!

Terlebih, ini adalah salah satu jalan menuju syurga yang telah Allah siapkan bagi mereka yang mau menolong dijalanNya. 

Sebuah perubahan tak terjadi bila kita hanya meng-amiin-kan orang lain, tanpa kita mau berjuang!

Wallahu’alam bishowab

wasalam

[erken]


You Might Also Like

1 comments