Who is the new Mu’tazilah, Right Now?


Di awal permulaannya masuk ke Nusantara, ide yang dibawa oleh seorang ulama timur tengah di daratan Suku Aborigin berada. Melalui komunikasi yang terjalin dengan salah satu ulama besar asal Kota Hujan, Bogor. Ide yang tidak hanya ide kosong, namun membawa misi besar lagi revolusioner bagi sebagian orang yang telah mengerti, namun terlalu ‘ekstrim’ bagi sebagian yang belum mengerti. Memang, sudah menjadi rahasia publik pada rezim Orba yang memang terkenal kejam dan sangat membenci gerakan-gerakan ‘separatis’ ‘tafsir’an ORBA, tentu akan dibrangus habis-habisan, tak terkecuali ide tersebut pula. Hingga akhirnya ide ini, tersebar secara ‘underground’ di kalangan Mahasiswa di salah satu PTN tersohor di Kota Hujan lewat pesantren mahasiswanya di tahun 90an. Terus tumbuh dari sel-sel kecil menjadi puluhan bahkan ratusan, dan hingga hari ini, kurang lebih 20 tahun perjalanan ide ini sudah hampir tersebar keseluruhan Bumi Nusantara.

Namun, tentu ditengah perjalanan nya banyak lika-liku yang mengrintangi ide ini. Memang telah menjadi sunnatullah dimana ada sebuah kebenaran, maka disitulah kan timbul pertentangan-pertentangan yang dihembuskan oleh keburukan-keburukan. Beragam tipu muslihat dilakukan demi mengerem laju penyebaran ide ini, namun apa daya Makar Allah tentu lebih manjur dibanding seribu tipu muslihat terbaik sejagad raya ini, hingga akhirnya tak satu pun yang dapat mengerem laju penyebaran ide ini. Ditengah terpaan isu-isu miring tentang ide ini, yang salah satu nya ide ini di samakan dengan ide Mu’tazilah, dengan sebutan neo-mu’tazilah, Mereka(Pembenci red) memakai dalih bukan dalil, bahwa ide ini sangat mengedepankan akal manusia saja, berhukum dan menyimpulkan menggunakan akal dan sebagainya. Memang, ide mu’tazilah ini sudah menjamur selepas meninggalnya Rasulullah, hingga masa-masa ke-khilafahan dahulu, dan memang penganut ide ini ditentang keras, karena inti ide mu’tazilah ini adalah mengedepankan akal manusia dibanding dengan dalil syari’, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Memilih sebuah kesimpulan dalam berhukum dan berprilaku sesuai logika semata yang tentu lahir dari akal manusia, dan mengenyampingkan dalil syari’, dengan menomor duakan, bahkan tidak meng-indahkan sama sekali dalil syari’ dan hanya menggunakan logika semata. Hingg akhirnya, isu miring yang sengaja dihebuskan oleh pemebenci-pembenci kebenaran ini pun sirna, karena memang tak ada satupun catatan yang tertuang dalam ide ini mengedepankan akal manusia dibanding dalil syari’, bahkan sebaliknya dilihat dari ide ini, ternyata dipenuhi dengan dalil-dalil syari’ yang mendukungnya, tanpa sedikitpun mengenyampingkan dalil syari’ tersebut. Memang dalam tata penarikan suatu pemikiran dan hukum tak mungkin terlepas dengan yang namanya logika, tentu akal yang membedakan manusia dengan hewan terletak pada akal yang tentunya memiliki arti penting dalam penentuan tata kehidupan manusia, namun memang akal ini harus dan wajib dituntun dengan dalil syari’, karena bila tidak tentu lah syaitan dan hawa nafsu lah yang kan menguasainya, hingga akhirnya tentulah jauh dari sang pemberi akal ini.
Terus berkembang, di tengah terpaan dan isu-isu ini. Namun, seperti yang Allah telah katakan, “kun fayakun" Jadi! Maka jadilah. Dengan izin Allah, ide ini tetap eksis hingga saat ini, tanpa ada sedikit pun terpaan serius hingga melenyapkan ide ini. Memang ide ini takkan dapat tersebar se-luas ini tanpa adanya pendakwah-pendakwah ikhlas yang rela siang malam mengetuk dari pintu ke pintu tuk menyampaikan cahaya ide ini, yang memang ide ini menuntut seorang yang telah mengambil ide ini tuk mendakwah kan nya, sebuah ke-otomatisan ketika ide ini sudah merasuk ke dalam diri seseorang, maka orang tersebut akan bergerak semaksimal mungkin tuk menyebarkan ide ini kesekelilingnya, dan mustahil seseorang tersebut kan diam dan ide ini hanya mengendap dan hanya menjadi penambah kepuasan intelektual belaka bila memang ide ini tertajasud dalam diri seseorang.
Hingga datang lah suatu siklus lima tahunan yang sebenarnya tak terlalu wah dan  tak berarti menuju sebuah kebangkitan hakiki, namun ternyata masih saja ada sekelompok orang yang mengaku sebagai seorang muslim yang taat beragama, dan telah berjanji tuk menjadikan islam sebagai pedoman hidup satu-satu nya, namun di siklus 5 tahunan tersebut mereka seolah luntur jubah yang selama ini menyelimuti mereka, mereka terlanjur ‘latah’ dalam berkata-kata, banyak dari mereka yang terlalu mengedepankan logika belaka dibanding sebuah kebenaran yang datangnya dari Allah SWT semata. Dengan beragam kata-kata “Kalo kalian golput, nanti orang kafir menguasai nusantara dan menjadikan nusantara negara nasr*** dan yahu**”, “Pilih si Prabo**!, jangan pilih Joko**, nanti nusantara dikuasai oleh syi**” Padahal masih terngiang-ngiang, sebelum pileg dahulu mereka juga menyatakan “Jangan golput, agar nusantara tidak dikuasai oleh partai sekuler”. Namun, nasi telah menjadi bubur. Di tingkat grassroot, mereka terpaksa gigit jari dan menelan ludah yang sudah mereka lemparkan ke muka saudara se-iman, dan akhirnya mereka pun ‘terpaksa’ merapat ke salah satu partai gembong sekuler yang tentu mengusung calon sekuler. Hingga, detik ini pun hinggar-bingar ini masih terus terasa dan semakin menyebalkan, mereka sudah tak ubahnya sebagai seorang peng-gunjing terhadap lawan politik nya, dan terlihat ‘buta’ terhadap calon sekuler nya.
Hingga, ide yang diawal ini diceritakan sampai pada sekelompok orang tersebut, ide ini menerangkan bahwa solusi tuntas tuk nusantara hanyalah dengan syariah dan khilafah, bukan melalui ketoprak moderen yang di dalangi oleh ‘UAS’ dan ‘wahyudi’. Namun bukan disambut baik, malah mereka menyerang balik dengan kata-kata menyebalkan seperti diatas dan ditambahi, “Kita tau Khilafah itu solusi tuntas, namun realistislah saat ini, bila kita tidak masuk ke parlemen, apakah nanti kalian mau, agama kita akan hilang digantikan oleh wahyudi dan nasra** ???” Tanpa sedikitpun menyinggung dalil syari’ yang jelas-jelas menyatakan, “Innal hukmu lillah” sesungguhnya hukum adalah milik Allah SWT, dan tak ada satu pun makhluk yang dapat menyangin kebesaran Tuhan semesta alam ini. Hingga akhrinya, kita semua bisa menjawab sendiri sebenarnya siapakah ‘Neo-Mu’tazilah’ yang hanya mengagung-agungkan akal dan logika semata dibanding dalil syari’??? [ErkenZaver]


Nb:
*Cerita ini sekedar tuk memantik keingintahuan teman-teman akan keadaaan saat ini, dan tak ada sedikitpun rasa kebencian terhadap saudara sendiri dan niatan tuk menjelekannya, hingga akhirnya penulis pun ‘terpaksa’ menuliskan ini tuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu saling menasehati, mungkin bagi penulis ini salah satu cara yang bisa dilakukan tuk menebus kewajiban itu.
*semua pihak yang ada disamarkan

*Jzk Khairon katsiron

You Might Also Like

0 comments