Islam ya Islam, Bukan Kayak Es Campur


Catatan Bacaan  #1  [4 September 2014 @Markaz Al-Liwa]

Islam hanya mengenal dan mengiktirafkan hanya dua bentuk masyarakat saja, yaitu masyarakat Islam dan masyarakt Jahilliyah.
Masyarakat Islam bukan lah sebuah perkumpulan atau organisasi manusia yang menamakain diri mereka MUSLIM sedangakan syariat islam tidak menjadi undang-undang masyarakat itu, walaupun mereka mereka patuh bersembahyang, menunaikan rukun puasa, dan naik haji ke Mekkah. Bukan juga masyarakat islam itu yang telah diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT dan telah diajar oleh Rasulullah SAW, dengan memakai naman “Islam Liberal” atau “Islam Progresif”
Dengan definisi dan takrif yang terang  dan tepat ini maka termasuklah di dalam golongan “Masyarakat Jahiliyyah” itu semua bentuk masyarakat yang ada sekarang di permukaan bumi ini.


Ya, itu lah sedikit kutipan dari Kitab Ma’alim fi ath Thariq Karya Syeikh pada Bab 8 “Islam Ialah Tamaddun”. Ya, emang begitu adanya Islam ya islam tidak ada campur aduk dengan lain nya. Namun, melihat keadaan saat ini, mungkin banyak sekali kekeliruan yang turun temurun. Banyak yang berkata kalo mau bicara islam ya dimasjid saja. Sungguh, bodoh nya orang tersebut berkata demikian bila dia tlah mengetahui hakekat islam itu sendiri. Apalagi, di jaman yang katanya kita terpaksa memakai sistem demokrasi ; yang jelas-jelas aturan tertingggi nya adalah PANCASILA dan KUHP, tentu ketika menilik uraian Syeikh Sayyid Quthb diatas kita jelas bisa menggolongkan termasuk bagian apakaah Indonesia sesungguhnya. Tentu, masyarakat jahiliyyah. Mungkin hal ini juga sejalan dengan uraian Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Nidzhomul Islam yang mengkategorikan Indonesia sebagai negeri kuffur. Ya Jahiliyyah dan kuffur tentu nya sama-sama tidak menjadikan Syariah sebagai dasarnya bukan?
Setelah kita menilik keadaannya, Lalu, bagaimana seharusnya tindakan sebagai seorang muslim, tentu kembali kepada Islam secara kaffah adalah sebuah panggilan suci ditengah kerusakan yang semakin menjadi. Maka, lewat dakwah lah yang dapat membalikan keadaan yang terpuruk itu. Dakwah yang konsisten, istiqomah, dan mengikuti thariqoh Rasulullah lah hal itu InsyaAllah kan tercapai. Semoga kita semua Istiqomah dalam menggapai ridhoNya, dan tetap bersemangatlah walau yang ‘mau’ hanya beberapa orang, karena sesungguhnya ketika Islam itu datang ASING, dan nanti kan Asing kembali, dan beruntunglah orang-orang terasing itu. Waalhualam bishowab.

(Disandur dari Kitab Ma’alim fi ath Thariq  ; karya Syeikh Sayyid Quthb)

You Might Also Like

0 comments