2 Poin Penting dalam Penulisan Ilmiah

2 Poin penting dalam melakukan penulisan ilmiah
Alhamdulillah liburan semester ganjil kemarin saya berkesempatan berbagi pengalaman dengan adik-adik PEMI_KIR di SMAIT Insantama. Tepatnya hari Sabtu, 2 Februari 2015. Memang bukan hal pertama, liburan semester sebelumnya sebenarnya juga sudah pernah tapi mungkin karena waktunya yang terlalu mepet akhirnya mereka hanya jadi pendengar saja.
Sehari sebelumnya, tepat pada tanggal 1 Februari 2015, saya diminta sekolah untuk membantu pada workshop kepenulisan tuk kelas 10. Ketika itu yang mempimpin adalah Pak Karebet W. Sebenarnya, saya lebih banyak memberikan tips trik dalam kepenulisan ilmiah, metode pencarian. Selepas, acara tersebut saya melihat banyak sekali bahkan hampir semua anak belum mengerti apa itu penulisan ilmiah dan seperti apa bentuknya, kalo saya rasa ini merupakan hal yang wajar, mengingat mereka yang masih duduk dibangku kelas 10 SMA semester genap.

Melihat keadaan pada hari sebelumnya di workshop kepenulisan dan pada saat yang sama pula ternyata hari itu adalah waktu eksul pertama kali bagi adik-adik kelas 10. Oleh, karena itulah menurut saya tema dan isi pembicaraan yang saya akan bawakan lebih ditekankan pada gambaran secara umum apa itu penulisan ilmiah, teknik-teknik dasar dalam kepenulisan dan lebih mengkhususkan pada bagaimana cara kita dalam mencari ide.
Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar, hingga pada sesi tanya jawab. Ada seorang anak yang menanyakan kepada saya kurang lebih seperti ini,
 “Kak, sebenarnya bagaimana caranya mencari ide itu ?”
 Deg! saya agak kaget mendengar hal tersebut, bagaimana tidak, dalam proses penulisan ilmiah menurut saya yang paling krusial ada dua hal sebenarnya, (1) Ide, (2) Niat.
Poin pertama, terkait ide memang menjadi hal yang gampang sebenarnya, tapi tentu tingkat kegampangan ini berbanding lurus dengan ke-khas-an dan ke-menarikan ide tersebut, semakin gampang dan mudah kita mendapatkan ide tersebut menurut saya ide tersebut biasa-biasa saja, dan tidak bernilai apa-apa. Berbeda dengan ketika dalam pencarian ide tersebut kita mengerahkan segala kemampuan yang ada, membaca banyak literatur, entah buku atau secara softcopy, melihat keadaaan sekitar, dan mencoba mensintesis antara ilmu dengan keadaan sekitar, lalu menganalisis serta didapatkan lah sebuah hipotesis awal yang masih perlu di cek ke-khas-annya, apakah sudah pernah dilakukan ataukah belum, setelah dipastikan hal tersebut adalah hal baru karena memiliki ciri khas maka itu baru dikatakan hipotesis yang siap tuk di’telur’kan. Poin pertama ini alhamdulillah sudah saya sampaikan saat itu, dan sudah saya beri beberapa gambaran terkait tips trik, tentu intinya adalah ilmu yang banyak, mau tidak mau kita harus banyak membaca buku, jurnal, atau artikel terkait. Dan saya menyarankan untuk membaca Buku karya Wahyu Wibowo (2011) yang berjudul “Cara Cerdas Menulis Artikel Ilmiah” menurut saya buku tersebut lumayan memberikan gambaran yang secara global terkait kepenulisan, entah itu yang bersifat sosial ataukah yang berbasis percobaan.
Nah, pada poin kedua ini saya benar-benar lupa tuk menyampaikannya, mungkin karena saya terlalu fokus pada poin pertama. Saya baru tersadarkan setelah hampir 2 minggu berlalu, ketika saya membaca buku karangan Ustadz Hafidz Abdurahman (1998) yang berjudul “Islam : Politik dan Spiritual”. Entah, saya merasa menemukan jawaban itu. Walau secara isi memang tak berisikan pembahasan terkait penulisan ilmiah tapi setidaknya poin kedua yaitu niat bisa terjawab. Dalam 
“Bab Perbuatan Manusia Menurut Islam” setidaknya kesimpulan terkait mengapa manusia melakukan suatu perbuatan tertulis :
“Dengan demikian, dalam melkukan perbuatan, manusia mestilah memperhatikan tahapan-tahapan dalam melaksanakan perbuatan tersebut (red, menulis ilmiah), yaitu ; (1) Naluri atau kebutuhan jasmani, (2) Mengindra dorongan yang muncul dari naluri atau keperluan jasmani, (3) Menetapkan motivasi perbuatan (4) Berfikir tentang cara bagaimana dorongan tersebut dapat dipenuhi dengan baik, benar, dan sempurna termasuk menentukan sebab-akibat, (5) Usaha untuk mencapai naluri dan keperluan jasmani, (6) Nilai yang ingin dicapai “
Poin kedua terkait niat, sebenarnya lebih kepada motivasi menulis, kemauan (dorongan) tuk berjuang dalam menulis, istiqomah, dan nilai dari aktivitas menulis yang ingin dicapai. Melihat pembahasan di buku “Islam : Politik dan Spiritual” dan membandingan problem yang kadang muncul bagi penulis, khususnya anak-anak KIR entah di tingkat SMA atau di tingkat Perguruan tinggi. Saya rasa, di poin kedua ini lah yang masih belum terjawab secara jelas. Bahkan, saya rasa, bagi Mahasiswa poin pertama merupakan makanana sehari-hari. Tapi entah mengapa ternyata, banyak sekali akhirnya Mahasiswa yang gagal menyelesaikan studi hanya karena masalah skripsi yang urung selesai hingga waktunya tiba.
Maka, sudah jelas bagi kita semua, sebelum memulai untuk terjun dalam dunia kepenulisan, khususnya kepenulisan ilmiah, maka wajib bagi kita tuk menjawab dua poin diatas, yaitu ide dan niat. Dan benar-benar harus clear jawaban tersebut agar tidak menjadi penghalang pada nantinya. Dan kedua buku tersebut kalo ingin lebih mendalaminya silahkan dibeli dan dibaca, agar pemahaman diantara keduanya bisa lebih jelas.
Baik, sekian sedikit pengalaman yang saya bisa bagi. Memang saya bukan siapa-siapa, saya pun masih sangat jauh dari taraf jago, hanya seorang manusia yang memiliki cita-cita bisa menjadi seorang ilmuan dan pengusaha yang bisa mengabdikan dirinya untuk agama dan umat. Semoga hal itu nantinya bisa tercapai, aamiin dan tentu saya butuh bantuan dan dorongan teman-teman semua J semoga bermanfaat. Terimakasih banyak.

M Imaduddin S
(Markaz Al Liwa, Purwokerto 19/2/2015)


Sumber :
Abdurahman H, 1998. Islam: Politik dan Spitiual. Lisanul Haq. Singapore.
Wibowo W, 2011. Cara Cerdas Menulis Aritkel Ilmiah. Kompas. Jakarta.
  


You Might Also Like

0 comments