JIL, Siapa Mereka?


Jaringan Islam Liberal (JIL) 
JIL dan komplotannya memang semakin menggila. Beberapa waktu yang lalu mereka memberikan ‘tafsir’ ala JIL yang mengatakan bahwa homoseksual itu boleh dalam Islam, seorang perempuan boleh menjadi imam sholat jamaah yang dimakmumi laki-laki maupun perempuan sendiri, dan yang pasti kawanan ini tak setuju dengan konsep one nation-one aqidah-one ummah, apalagi kalau bukan Negara Islam. Tentulah mereka menolak nya, wong mereka saja banyak medapatkan suntikan dana dari Barat yang notabene nya musuh yang juga tidak menginginkan Islam sebagai Rahmatan lil Alamiin ini tegak dengan kokoh, dan tinggi. Karena “Agama Islam adalah yang tertinggi dan tak ada yang lebih tinggi darinya”.
            Sebenarnya mereka mereka bukanlah muslim yang bodoh, dalam arti tidak mengetahui hukum yang ada dalam Al-Qur’an. Sebagian mereka adalah lulusan Universitas Islam Negeri di Indonesia dan yang pasti mereka mempelajari ilmu-ilmu agama yang lebih mendalam ketimbang mahasiswa yang kuliah ditempat umum, bahkan beberapa dari mereka merupakan jobolan pesantren pesantren salaf yang tentu kental dengan ilmu agama karena telah mempelajari nya sedari awal. Namun, mengapa? ‘Tafsir’ (Red. Sebenarnya bukan tafsir, tapi pengertian yang ngawur blas :p) mereka terhadap Al Quran dan As Sunnah sangat lah berbeda dengan ulama-ulama salaf dan ulama lain pada umumnya bahkan sangat lah bertentangan, hingga menabrak rambu rambu Agama Islam? Apakah karena kejahilan mereka dalam ilmu agama yang mereka miliki? Atau seperti apa sebenarnya?


Dalam Surah Ali-Imran [3] : 7-9, Allah SWT berfirman :هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٧)رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (٨) رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (٩)Arti dari Surah Ali Imran [3] : 7-9 :Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (7) (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)".(8) "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya". Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (9)
Dalam Kitab Taisiru Al-Aliyyul Qadir Li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1 Karya Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Imam Ibnu Katsier menafsirkan ayat tersebut bahwa “Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecendrungan dalam kesesatan”, yakni keluar dari kebenaran kepada kebatilan, “maka mereka mengikuti ayat mutasyabih [1]”. Yakni, mereka hanya mengambil ayat-ayat mutasyabih yang memungkinkan mereka untuk  mengubahnya sesuai dengan tujuan jahatnya, sebab ayat mutasyabih itu dapat dikelola lafal nya. Adapun ayat muhakam[2] tidak mendapat perhatian dari mereka, sebab ayat ini mengalahkan mereka dan membatalkan hujjah mereka. Oleh karena itu, Allah berfirman “guna menimbulkan fitnah”, yakni untuk menyesatkan para pengikutnya dengan memberikan kesan kepada mereka seolah-olah dirinya melegitimasi perbuatan bid’ahnya dengan ayat Al-Quran, padahal ayat itu justru mengalahkan mereka, bukan memenangnkannya ; seperti orang Nashrani berhujah bahwa Al-Qur’an telah mengatakan Isa itu merupakanruh dan kalimat Allah SWT yang disimpan ke dalam diri Maryam, dan merupakan bagian dari ruh Allah SWT, dan mereka tidak berargumen dengan ayat yang berbunyi, “Sesungguhnya misal (penciptaaan) Isa di sisi Allah SWT adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman, ‘Jadilah’, mak jadilah dia”, serta ayat-ayat muhakam lainnya yang sudah jelas menunturkan bahwa Isa merupakan salah satu makhluk Allah, hamba, dan rasul Allah SWT.

Sudah cukup bagi kita fakta-fakta di lapangan terkait aktivitas JIL dan komplotannya seperti apa, serta bagaimana Allah SWT sudah mengabarkan ternyata kepada  kita jauh sebelum kawanan ini muncul di Indonesia. Dan sudah cukup alasan tersebut bagi kita untuk menolak ide yang dibawa oleh kawanan itu. Sungguh Allah mengingatkan kita semua lewat firmanNya dalam Surah An Nisa’ : (150-151), yang artinya :

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul rasulNya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasulNya, dengan mengatakan,"Kami beriman kepadasebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain)", serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir)”.(150) “Merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir itu azab yang menghinakan”  (QS. An Nisa’[4] :150-151)
So, menurut Al-Qur’an siapa kah mereka sebenarnya?








Catatan Kaki
Sebelum menjelaskan apa itu ayat mutasyabih dan muhakam. Sebenarnya Para Ulama ber-ikhtilaf ihwal ayat muhakam dan mutasyabih (Nasib Ar-Rifa’i M, 1999)
[1] Ayat Muhakam menurut Ibnu Abbas ra. “Ayat muhakam ialah yang menasakh, ayat yang berkenaan dengan masalah halal, haram, had-had, hukum-hukum, perkara yang diperintahkan, dan yang harus dikerjakan.
[2] Ayat Mutasyabih menurut Abu Fakhitah, ayat mutasyabih ialah ayat-ayat pembuka surat. Ada yang mengatakan ayat mutasyabih ialah yang dinasakah, didahulukan, diakhirkan, perumpamaan, sumpah, ayat yang diimani namun tidak di amalkan.

Daftar Pustaka
1.     Al-Quran Al Karim

2.    Nasib ar-Rifa’i M, 1999. Taisiru Al-Aliyyul Qadir Li Ikhtisari Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1. GEMA INSANI PRESS. Jakarta.

You Might Also Like

0 comments