Kopi & Keimanan

I’m  Coffee addict!“ Saya rasa bagi (sebagian) dari kita kalimat sebelumnya benar adanya. Entah golongan tua maupun muda. Baik itu kopi hitam pekat atau yang saat ini nge-trend dengan berbagai kopi olahannya. Yang pasti semua nya adalah pencinta kopi, entah itu karena kebutuhan karena perlu ‘dopping’ atau hanya sekedar hobby. maybe for him/her, coffee like a water or like a juice.

Jujur, saya adalah penikmat sekaligus pencinta kopi. Awal mula saya ‘jatuh hati’ pada minuman hitam pekat nan pahit ini berawal dari kebiasaan di asrama saat jaman SMA dulu. As we know, apapun itu, semua adalah milik bersama, termasuk minuman kopi. Jadi, awal mulanya saya hanya nyicipin kopi temen tapi akhirnya malah ‘ketagihan’ ditambah saat itu memang saya membutuhkan ‘dopping’ tapi saya rasa ini masih masuk akal dibanding seorang teman saya yang memilih ‘dopping’ kratingda*** (minuman berenergi). 

Lambat laun, setiapkali saya memerlukan ‘dopping’ maka kopi-lah pilihan terbaik saya. Baik di malam hari maupun siang hari. Kejadian ini terus berlangsung hingga saya lulus di SMA. Saat memasuki bangku perkuliahan, saya rasa ‘dopping’ merupakan hal yang wajib melihat tugas akademik yang menumpuk belum ditambah dengan tetekbengek di organisasi. Namun, makin ke sini, saya makin merasakan ada sebuah pergeseran perspektif. Kopi yang awal mula saya pilih sebagai ‘dopping’ tapi saat ini (ya, persis saat saya menulis tulisan ini) saya selalu membutuhkan kopi.  Saat ini kopi tidak hanya saya gunakan sebagai dopping saja, tapi telah beralih menjadi sebuah kebiasaan saya. 

Ya, begitulah hal nya dengan sebuah kebaikan dan kebenaran. Memang tak mirip dengan “Kisah Jatuh Hati saya dengan Kopi”, namun setidaknya ada pelajaran yang bisa saya dapatkan darinya. Bagi sebagian orang kopi adalah minuman pahit dan sama sekali tidak menyegarkan, terlebih bila kalian mencicipi kopi hitam dengan ampasnya, yang terkadang bila terminum terasa tidak enak di tenggorokan. Tapi, ternyata kesukaran itu bila kita mau tuk mencoba, berfikir postiif, dan mau terus menerus dilakukan (istiqomah) maka hal tersebut akhirnya bukan lagi menjadi sebuah halangan bagi kita, tapi menjadi sebuah kebutuhan dan kebiasaan. Terlebih, kita memang diawal membutuhkannya. 
Inilah aktivitas kebaikan dan kebenaran. Memang, aktivitas ini bukan aktivitas yang mudah dan gampang. Ini aktivitas yang membutuhkan pengorbanan. Mengenyampingkan nafsu diri, mengacuhkan bisikan setan, mengalahkan rasa malah, mengalahkan ambisi yang tak terkontrol. Padahal jelas aktivitas kebenaran dan kebaikan bila dilakukan hanya akan berujung kepada JannahNya, tentu dengan syarat niat dan caranya sesuai dengan aturanNya. Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كل أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى، قيل ومن يأبى يا رسول الله؟! قال: من أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى

“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga“

JannahNya merupakan suatu tempat yang tentu diinginkan seluruh umat muslim, bahkan seluruh umat manusia. Tapi menang terkadang kita enggan, persis seperti apa yang sudah dikatakan oleh Rasulullah SAW. Enggan kerana tidak mentaati Rasulullah SAW, tentu mentaati Rasulullah SAW juga akan menataati Allah SWT. Ya itu lah arti dari keimanan, seperti apa yang sahabat Ali bin Abi Thalib katakan, “Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan dengan hati dan perbuatan”. 

Dalam ayatnya Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman : 
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Ahqaf: 13-14).

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman pula : 

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yan lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 6). 

Ayat ini memerintahkan untuk istiqomah sekaligus beristigfar (memohon ampun pada Allah). Ibnu Rajab Al Hambali menjelaskan, “Ayat di atas “Istiqomahlah dan mintalah ampun kepada-Nya” merupakan isyarat bahwa seringkali ada kekurangan dalam istiqomah yang diperintahkan. Yang menutupi kekurangan ini adalah istighfar (memohon ampunan Allah). Istighfar itu sendiri mengandung taubat dan istiqomah (di jalan yang lurus).”

Terkadang sesuatu yang yang sukar, sulit, dan bahkan tidak enak bila hal tersebut dilakukan terus menerus tentu dengan keikhlasan maka yakinlah dikemudian hari hal tersebut akan berjalan sendiri seperti kita membutuhkan makan 3 kali sehari. Maka, lakukan lah kebiasaan itu dalam aktivitas kebaikan kita, baik itu amalan nafilah, amalan jamaiy maupun amalan hati. Seberat, setidak enak apapun itu, tak ada cara lain kecuali kita mencoba nya, kuncinya hanya mencoba! Serta lakukan lah kebaikan itu sedikit demi sedikit, namun terus diulang, karena istiqomah bukan melihat jumlah namun keterulangan kebaikan yang kita lakukan kemudian perbanyaklah istighfar, mungkin niat kita ada yang melenceng, mungkin kita lupa hakikat makhluk-khalik, mungkin kita futur karena kelelahan. Terakhir, percayalah merengguk surga bukan dilakukan dengan kemudahan dan berleha leha, namun dilakukan dengan keseriusan dan keteguhan hati dalam memegang kebenaran. 

Seperti firman Allah SWT : 
“Ataukah kamu mengira kamu akan masuk surga,padahal belum datang cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu seperti kamu?”

[Al Baqarah: 214]


Wallahu a’lam bishowab


Purwokerto, 10 Januari 2017



M Imadudin Siddiq




Sumber :
- Jami’ul ‘Ulum wal Hikam karya Abdurrahman bin Syihabuddin al Baghdadi ad Dimasyqi.
- Al-Qur’anul karim. 

You Might Also Like

0 comments