Nasionalisme Akar Masalah Krisis Rohingya #1

Di penghujung tahun 2016, Dunia kembali digegerkan dengan pemberitaan tentang etnis muslim Rohigya. Kaum Muslim Rohingya di Negara bagian Rakhine kembali menjadi korban. Beragam bangunan dibakar di beberapa kampung tempat tinggal mereka di Myanmar. Hal tersebut diungkapkan lembaga internasional, Human Right Watch (HRW), yang mengeluarkan sejumlah foto satelit yang memperlihatkan 820 bangunan dihancurkan dalam kurun 10 hingga 18 november 2016 yang terdapat di 5 Desa. Kejadian berdarah nan biadab ini merupakan kejadian yang kesekian kalinya menimpa Etnis Muslim Rohingya.

Medio 2015 lalu, dunia internasional dikejutkan dengan eksodus etnis muslim Rohingya ke beberapa negara tetangga, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Etnis muslim Rohingya terpaksa untuk keluar dari negaranya, lantaran terus didiskriminasi dan diteror oleh Pemerintah Myanmar. Myanmar sendiri memiliki sejarah kelam yang panjang dalam mengebiri hak sipil etnis muslim Rohingya. Minoritas di negara bagian Rakhine itu sejak lama tidak diakui sebagai warga negara, oleh sebab itu mereka kehilangan hak untuk menikah secara resmi, mendapatkan pendidikan layak, bahkan  dalam hal beribadah, mereka mendapatkan pelarangan keras. Tentu, ini adalah sebuah kedhzaliman yang amat sangat menyedihkan.

Tindak kedhzoliman yang menimpa kaum muslim bukan hanya terjadi di Myanmar. Palestina, Khasmir, Pattani, Xinjiang, bahkan kejadian di Poso, Indonesia, merupakan kejadian kedhzaliman yang kesekian kali nya yang menimpa kaum muslim. Namun, sayangnya, kita sebagai seorang saudara, lagi-lagi tidak bisa berbuat banyak dalam membantu mereka. Konflik berkepanjangan yang terus terjadi sama sekali tidak bisa kita serahkan penyelesaiannya kepada Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Sudah banyak permasalahan urung selesai dengan campur tangan mereka, bahkan lebih dari itu, menambah runyam keadaan. Satu kata, TAKKAN PERNAH BERES dan TUNTAS!

Permasalahan yang takkan pernah tuntas, bila kita menyerahkan penyelesaian masalah kepada mereka yang sudah terkotori dengan paham nasionalisme. Dimana kaum muslim saat ini hidup dalam sistem demokrasi-sekuler, yang telah terkotak-kotak dalam bingkai nation-state menjadikan kaum muslim bagai biuh dilautan. Negeri-negeri muslim yang berada di Asia Tenggara seakan menutup mata atas kejadian krisis Rohingya, yang sudah sejak lama terjadi. Jumlah kaum muslim memang melimpah, namun mandul dan tak bertaring. Hal ini lebih dikarenakan sudah ternodai nya pemikiran kaum muslim dengan pemikiran nasionalisme.

Paham nasionalisme dalam praksisnya tentu menjadi pedoman dalam menentukan siapa yang menjadi in-group atau out-group. Dalam paham nasionalisme, tentu yang dianggap sebagai in-group adalah siapapun, apapun keyakinan dan agamanya, asalkan ia sebangsa dan setanah air, maka dianggap sebagai saudara sebangsa. Sebaliknya, siapapun yang di luar negaranya, dan bangsanya dianggap sebagai out-group kendati, ia memiliki aqidah Islamiyyah yang serupa dengan aqidahnya. Hal ini menjadikan Kita, Umat Islam terkotak-kotak, bahwa saya adalah saya, dia adalah dia, mereka adalah mereka. Saya orang Indonesia, maka urusan saya hanya akan mengurusi urusan negara saya, Indonesia. Akhirnya, muncul anggapan urusan negara lain adalah bukan urusan saya (seorang muslim). Sungguh miris!

Hal ini pula yang menambah runyam kejadian penindasan yang menimpa etnis muslim Rohingya. Mulai dari aturan negara yang mempersulit dalam membantu hingga kejadian penolakan kedatangan etnis muslim Rohingya yang kabur untuk menyelamatkan diri dan agama mereka, malah ditolak oleh negeri yang notabene nya adalah mayoritas muslim. Apalagi berharap untuk membantu menyelesaikan konflik dengan mengirimkan pasukan untuk menolong etnis muslim Rohingya, mungkin itu berada ada diluar angan-angan dalam konteks nasionalisme.
            
Padahal, ketika ummat Islam masih memiliki kepemimpinan yang satu, harkat dan martabat umat islam terjaga. Khalifah sebagai pelindung ummat menjadi yang terdepan dalam melindungi warganya, bahkan non muslim sekalipun. Hak-hak mereka dijaga. Penindakan tegas terhadap kedhzaliman menjadi hal yang lumrah.  Hal ini dikarenakan kesatuan umat islam didasari pada ikatan aqidah islamiyyah, bukan ikatan kebangsaan, seperti nasionalisme. 

Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara (QS al-Hujurat [49]: 10).

Ayat di atas menunjukan bahwa umat Islam adalah bersaudara, yang diikat oleh kesamaan akidah Islam (ideologi), bukan oleh kesamaan bangsa. Rasulullah saw. bahkan mengharamkan ikatan ‘ashabiyah (fanatisme golongan), yaitu setiap ikatan pemersatu yang bertentangan dengan Islam, termasuk nasionalisme:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ
Tidak tergolong umatku orang yang menyerukan ‘ashabiyah (fanatisme golongan) (HR Abu Dawud).

Singkat kata, kemandulannya negeri-negeri muslim dalam menyelesaikan krisis Rohingya disebabkan oleh paham nasionalisme yang telah menjangkiti kaum muslim. Maka, hanya dengan kembali kepada Aqidah Islam sebagai satu-satunya ikatan pemersatu dengen menerapkan Syariah Islamiyyah dalam bingkai Khilafah.

Terakhir, kita juga berdoa untuk saudara kita, kaum muslim Rohingya, semoga Allah SWT memberi kekuatan untuk mu, saudaraku. Cukup, kallamullah menjadi doamu. Allah SWT berfirman :

ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ ٱلْقَرْيَةِ ٱلظَّالِمِ أَهْلُهَا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَٱجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS. An-Nissa’ [4] : 75) [].

Wallahu a'alam Bishowab


Purwokerto, 11 Januari 2017


M Imadudin Siddiq


Referensi :
Dari berbagai sumber.

You Might Also Like

0 comments