Otak yang tak Sekedar Otak

Salam Pembuka

Setelah sekian lama vakum. Akhirnya, rasa ini membuncah, muncrat berceceran #aslilebay. Alhamdulillah, hawa menulis ini kembali hadir. Banyak faktor pendukungnya, tapi yang pasti sedikit demi sedikit ‘tugas negara’ bisa mulai dicicil. Yap, berhubung saat ini sudah memasuki tanggal 29 Desember 2016, maka terhitung malam ini, saya akan mencoba memaksakan jemari ini tuk kembali menari-nari di atas keyboard laptop ini. Materi yang coba saya bawakan masih sama seperti sebelumnya, abstrak. Baik, politik, budaya, sejarah, science, bahkan cinta. Bukan tidak ingin fokus, tapi lebih kepada pembiasaan diri untuk terus menulis. Yang berbeda adalah konten yang lebih berbobot dari segi sumber. InshaAllah bisa menjadi bahan referensi kawan-kawan semua. Biar gak berlama-lama, tulisan #1 ini kan membahas tentang “OTAK”.
Neuroscience
            
Saya yakin se-yakin yakin nya, tentu kita sudah pernah mendengar apa itu otak. Bahkan, (mohon maaf) yang tidak pernah menamatkan tingkat dasar pun tahu. Namun, ternyata banyak orang tak tahu bahwa otak, tidak sekedar otak. Mungkin sedikit berputar-putar, ya, saya rasa juga begitu. Begini, dari yang saya ketahui, terkadang orang mengetahui otak hanya sebagai tempat menyimpan memori, memang tak ada yang salah dengan hal tersebut. Lebih dari itu, otak adalah ‘otak’ dari segala hal tentang tubuh (fisik), pun tentang pemikiran (hal abstrak).
            
Sering terdengar istilah di masyarakat, “wah, ‘otak’ pembunuhan nya si ‘A’” dan lain sebagainya. ‘Otak’ yang dimaksudkan disini tentu bukan lah otak sebagai salah satu organ tubuh manusia, namun lebih kepada fungsi yang ada pada otak tersebut.  Otak sejatinya ibarat sebuah pusat kendali yang lebih canggih dari sekedar processor yang tertanam pada laptop. Karena mengapa? Otak tidak hanya berfungi sebagai pusat kendali kedua hal (baca, otak adalah ‘otak’…), namun otak juga menjadi sebuah big storage memory dengan pembagian jangka waktu memory, short and long term. Pada ilmu kedokteran, kita mengenal otak sebagai salah satu Central Nervous System (CNS) ; system syaraf pusat, yang dimana bidang studi terkait CNS ini termasuk dalam bidang neuroscience.

Brain as Central Nervous System (CNS)
            
Otak sebagai CNS tentu tidak berdiri sendiri, otak dibantu oleh spinal cord/sum-sum tulang belakang. Pada tubuh manusia pun, sistem neuron tidak terdiri dari CNS saja, ada yang disebut dengan Peripheral Nervous System (PNS) ; system syaraf tepi, tapi disini saya hanya akan memfokuskan pembahasan pada CNS. Sebelumnya, para peneliti menilai aktivitas neuronal dan terjadinya hubungan sebagai regulator pada otak adalah hal yang tunggal atau yang biasa disebut neuronocentric, namun hal ini sudah digantikan bahwa otak berfungsi sebagai konsep yang terintegrasi yang melahirkan presepsi yang terjadi secara virtual pada sel yang terdiri dari neruo-glia-vascular sebagai aktivitas neuronal [1-3]. Salah satunya adalah aktivitas berpikir.

Ternyata, konsep yang ‘mirip’ sudah dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin An Nabhani [4], pada tahun 50an, bahwa proses berfikir atau bisa kita sebut salah satu aktivitas neuronal adalah sistem yang terintegrasi antara, memori (ma’lumah as-sabiqah; pengetahuan sebelumnya), dan fakta yang terindra (tentu memerlukan indra yang sehat dan fakta yang diindra) yang kemudian dikenal sebagai sinyal saraf, yang kemudian menghasilkan presepsi yang proses ini terjadi secara virtual pada otak.
            
Proses berpikir merupakan salah satu hal menarik yang ‘dikerjakan’ di otak. Apapun yang kita pikirkan, kita kerjakan, semua datangnya dari otak. Otak ibarat mesin yang fantastis yang menentukan potensi kita, batas kita, bahkan karakter diri kita, meminjam istilah Prof. Dick Swab, seorang neuroscientist asal Belanda yang juga merupakan founding father Netherland Brain Bank (NBB), bahwa kita sesungguhnya adalah otak kita, “we are our brain”. Otak merupakan salah satu organ yang luar biasa. Dari otak pula kita dapat mengungkap rahasia-rahasia mengapa kita saat ini seperti ini. Serta banyak hal lain yang sangat berkaitan dengan organ spesial ini.
            
Dalam ilmu kedokteran, kita mengetahui yang membahas tentang suatu penyakit atau bisa disebut patologi. Pada organ spesial ini pun turut ‘bertanggungjawab’ dalam hal tersebut. Salah satu yang baru-baru ini diketahui adalah hubungan antara imunologi dengan neuroscience. Hal ini tentu perlahan mengungkap kejadian penyakit yang beberapa nya belum diketahui secara jelas, penyebab kejadian penyakit tersebut. Hubungan antar kedua ilmu tersebut, mulai disebut peneliti sebagai neuroimmunology. Hal yang kemudian dapat diungkap seperti bagaimana reaktiv astrosit yang menjaga molekul dan membatasi reaksi inflamasi pada penyakit neuro degenerative seperti Multiple Sclerosis (MS) yaitu penyakit yang mengganggu konduksi impuls saraf karena terjadinya degenerasi / berkurangnya myelin di sel saraf [1].
Brain as Reflection of our Life
            
Ternyata lebih dari itu, menurut Prof. Dick Swab dalam bukunya, “We are Our Brains From The Womb to Alzhemers” menuturkan bahwa perkembangan manusia yang dimulai dari perkembangan otak, ternyata sangat dipengaruhi oleh factor lingkungan. Perkembangan manusia, intelegensia, fungsi kognitif, dapat di lihat dari otaknya. Penelitian yang dilakukan oleh Prof Dick Swab, ditemukan bahwa pada anak dengan ganggunan intelegensia dan lingusitik, prefrontal cortices pada otak mereka berukuran lebih kecil dibanding yang lain. Hal ini sekali lagi disebabkan dari faktor lingkungan [5]. Terlebih, diawal kita sudah membahas bagaimana posisi otak sebagai tempat terjadinya proses berpikir, dimana proses berpikir akan menghasilkan sebuah aksi berupa aktivitas sehari-hari yang tentu akan memperlihatkan bagaimana sifat seorang manusia tersebut. Mungkin, ini yang bisa kita sebut bahwa otak adalah ‘refleksi’ dari kehidupan kita.

Dalam terminologi Agama Islam, kita mengenal istilah hati/qalb yang dikatakan dapat berubah-ubah dan merefleksikan diri kita seperti apa. Seperti sabda Rasulullah SAW sebagai berikut,

“Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya dan Jika ia buruk, maka buruklah seluruh tubuhnya, ia adalah hati.” (Muttafaq ‘alahi).

Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, “Ihya Ulumuddin” [6] membagi makna hati menjadi dua, sebagai berikut.

1. Daging kecil yang terletak di dalam dada sebelah kiri dan di dalamnya terdapat rongga yang berisi darah hitam

2. Bisikan halus ketuhanan (rabbaniyah) yang berhubungan langsung dengan hati yang berbentuk daging. Hati inilah yang dapat memahami dan mengenal Allah serta segala hal yang tidak dapat dijangkau angan-angan.

Entah mengapa, hipotesis saya yang dimaksudkan dengan segumpal daging yang disebutkan dalam hadist diatas adalah, “otak”. Memang otak adalah daging? Tentu! Daging adalah kumpulan dari protein, dan otak merupakan kumpulan protein pula, dimana kita ketahui otak merupakan tempat aksi obat yang bersifat lipofilik (mudah larut dalam lemak). Ya, memang sekali lagi ini hipotesis saya dari beragam informasi yang saya dapatkan. Terlebih dalam bahasan hati pada ilmu kedokteran, hati yang disebut dengan liver, memang merupakan tempat dimana terjadinya metabolisme beragam senyawa, termasuk senyawa toksik (berbahaya) yang kan mengubah senyawa toksik tersebut menjadi lebih aman. Ketika terjadi penyakit tertentu, hati pun mengalami kerusakan, namun ternyata tak hanya organ liver saja yang seperti itu, masih ada ginjal, timus, dan beragam organ lainnya. Tentu, pemecahan ini sangatlah menarik.

Penutup

Terlepas dari apa yang sebenarnya siapa si “gumpalan darah” tersebut. Kita bisa sedikit menyimpulkan sebuah narasi diatas, bahwa otak yang berada tepat paling atas dari tubuh kita ini, meruapakan organ yang bukan sembarangan. Otak tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan nya memori, tetapi juga sebagai tempat terjadinya system yang terintegrasi yang menyebabkan terjadinya proses berfikir, lebih dari itu, otak dapat pula menjadi sebuah refleksi kehidupan kita saat ini. Maka, tak ayal istilah “otak, tidak sekedar otak” menurut saya cukup mewakili hal diatas [].

Purwokerto, 11 Januari 2017


M Imadudin Siddiq
 



Referensi :
[1]Verkhratsky A, Zorec R, Rodrı´guez JJ, Parpura V: Astroglia dynamics in ageing and Alzheimer’s disease. Curr Opin Pharmacol 2015, 26:74-79.
[2] Cheslow L, Alvarez JI: Glial-endothelial crosstalk regulates blood–brain barrier function. Curr Opin Pharmacol 2015, 26:39-46.
[3] Petrelli F, Bezzi P: Novel insights into gliotransmitters. Curr Opin Pharmacol 2015, 26:138-145.
[4] Taqiyuddin An Nabhani, Nidzhamul Islam.
[5] Al Ghazali, Ihya Ulumudin.

You Might Also Like

0 comments