ANTARA KEWAJIBAN & HAK


Teringat ceramah KH. Didin Hafiduddin akhir tahun lalu disalah satu walimahan yang saya hadiri. Beliau menyampaikan intinya seperti ini,

"Kaum Muslim sekarang banyak nya minta HAK dulu, semua bicara HAK, sampai hak yang bertentangan dalan Islam pun seperti, hak kebebasan bependapat ; hak kebebasan kerprilaku ; hak beragama ; dan beragam hak lain. Tapi, sangat jarang dari kita yang mau bicara KEWAJIBAN. Orang gak ada yang bicara kewajiban. Seakan semua nya tlah ditunaikan dengan baik, padahal belum bahkan tidak dikerjakan sama sekali. Padahal dalam agama Islam, kita beragama itu berdasarkan KEWAJIBAN. Kewajiban Shalat lima waktu ; kewajiban menutup aurat ; dan beragam kewajiban lainnya. Mengapa? Karena tentu ketika disitu ditunaikan KEWAJIBAN maka secara langsung HAK pun kan mengikuti"

Logis menurut saya. Sangat mencerahkan. 
Tentu KEWAJIBAN-HAK itu perlu penempatan yang pas. Ya, kalau kita gak mau menempatkan dengan posisi yang pas ya bakal beda, akhirnya. Tentu kewajiban ditaruh terlebih dahulu, baru setelahnya hak. Simpel nya, coba kita lihat bagaimana seorang pekerja di sebuah perusahaan. Tentu gaji itu (hak) diberikan setelah kewajiban tertunaikan. Ndak ada ceritanya gaji diawal.

Kemudian perlu nya sangat penempatan presepsi akan sesuatu yang pas. Jangan sampe keliru. Karena kalau keliru tentu akan gagap pula membicarakan kewajiban & hak. Sama ketika bicara pemimpin/pemerintah. Kalau memandang pemimpin/pemerintah hanya institusi yang mengatur jalannya kenegaan tok pasti berbeda dengan pandangan bahwa sejatinya pemerintah/pemimpin itu adalah khadim (pelayan), padahal persepsi pemimpin adalah khadim itu yang ada dalam Islam. Maka, wajar ketika kita bicara siroh nabawiyyah atau khulafaurrasyiddin, bagaimana para Khalifah ketika itu memang benar-benar menjadi pelayan ummat. Mereka tak pernah merasa tuk dihormati, bahkan mereka tak pernah meminta hak mereka sebagai seorang pemimpin. Karena Hak mereka sudah diberikan secara otomatis ketika kewajiban mereka jalankan dengan baik.

Maka dari itu perlu. Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama, jadikan posisi kewajiban & hak sebagai barometer dalam bersikap, terlebih jadikan kewajiban sebagai hal yang pertama dan utama. InshaAllah, hak kan mengikuti. Kedua, jadikan definisi/presepsi dalam memandang sesuatu itu berdasarkan agama Islam, bukan kapitalis juga bukan sosialis. Dengan begitu kewajiban dan hak kan berjalan dengan serasi dan akhirnya memang menampakan kebaikan tuk bersama [].
Wallahu 'alam bishowab

**
Images source :
http://tapi.ipnodns.ru/table-top-view-office.html

You Might Also Like

0 comments