Depresi : Penyakit Tuntutan Zaman (Era Kapitalisme) Kah?

Liburan semester ini memang menjadi hal yang berbeda dari libur semester sebelum-sebelumnya. Tentu sebagai mahasiswa lanjut semester saya punya beragam tuntutan lebih dari sebelumnya. Baik itu Tugas Akhir, menyelesaikan beban SKS dan mata kuliah yang mungkin belum terselesaikan, serta beragam hal lain nya. Kebetulan sekali, salah satu mata kuliah yang belum saya rampungkan di bangku perkuliahan untuk menyelesaikan studi adalah Praktek Belajar Lapang (PBL) serta tentu yang sedang saya kerjakan, yaitu Tugas Akhir (TA). PBL ini mungkin kalo di jurusan lain mirip dengan mata kuliah Praktek Kerja Lapang (PKL). Kebetulan saya berpraktek di Apotek Prima Farma yang dimiliki oleh Drs. Leony Apt. salah satu praktisi farmasi senior di Kota Purwokerto. Setelah berpraktek selama 2 minggu full, barulah memasuki minggu pengerjaan Tugas Khusus. Kebetulan saya mendapatkan tugas bersama seorang kawan saya, yaitu mencari 10 penyakit terbesar selama tahun 2016 di Apotek tersebut. Proses untuk mendapatkan 10 penyakit terbesar itu, saya perlu mendata seluruh resep yang masuk ke Apotek selama 1 tahun itu alias 12 bulan.

Setelah merekap seluruh resep yang ada, saya lupa tepatnya berapa, sekitar 3000 resep lebih. Kemudian diolah data tersebut dan akhirnya didapatkan 10 penyakit terbesar di Apotek Prima Farma, sebagai berikut.
1.      Depresi
2.      Infeksi bakteri
3.      Flu batuk
4.      Radang
5.      Epilepsi
6.      Nyeri parah
7.      Asma
8.      Infeksi gusi
9.      Dermatitis
10.  Hipertensi

Mengapa sih penting tuk mencari 10 penyakit terbesar? Sebenarnya hal ini masuk dalam kajian epidemiologi, yaitu bidang kajian yang mempelajari pola kesehatan dan penyakit serta faktor terkait di suatu populasi (kumpulan individu-individu), dan kebermanfaatan kajian ini tentu dalam menunjang dalam sisi bagaimana mempromosikan, mencegah, dan juga mengobati penyakit-penyakit tersebut. Bagi sebuah apotek ini penting dalam hal managemen, tepatnya dalam hal perencanaan pengadaan obat-obatan. Kebetulan sekali, memang sedang diawal tahun, jadi memang waktunya melakukan perencanaan untuk setahun kedepan.  

Hasil dari kajian 10 penyakit terbesar ini bagi saya menarik. Menarik dimana? Ternyata urutan teratas adalah, penyakit depresi. Menurut Wikipedia, Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi Mayor. Setelah saya bertemu dengan pemilik Apotek, yaitu Drs. Leony Apt. beliau juga berkomentar terhadap 10 penyakit terbesar tersebut, ternyata penyakit depresi ini setiap tahun meningkat dari tahun ke tahun, tahun 2015 lalu ada di peringkat ke 3, namun sekarang malah nangkring di peringkat pertama. Menurut beliau, ini bisa mengindikasikan dua hal, 1). Peningkatan jumlah orang yang mengalami depresi dan 2). Semakin sulitnya orang menemukan Apotek yang menjual obat-obat anti depresan karena memang tergolong obat-obat golongan psikotropik yang pengelolaan dan pelaporan nya lebih ribet dibandingkan dengan obat lain.

Bagi saya pribadi ini menjadi sebuah data menarik yang saya dapatkan di Kota Purwokerto. Kota yang tergolong kota “pedesaan” namun ternyata tingkat depresi menjadi penyakit nomor wahid dilihat dari sisi pe-resep-an obat di Apotek Prima Farma (Info yang saya dapatkan, apotek yang menyediakan obat golongan psikotropik hanya beberapa saja di Kota Purwokerto). Lalu, bagaimana kabarnya dengan Kota Metropolitan, macam Jakarta, Bandung, Surabaya? Bisa jadi, data nya semakin mencengangkan, walau tentu harus di lakukan penelitian lebih lanjut. Padahal dari sisi kemutakhiran kota, Kota Purwokerto sangatlah berbeda, untuk ukuran Mall atau pusat perbelanjaan besar saja, mungkin masih bisa dihitung dengan jari dengan satu tangan saja.

Setelah saya coba merenungi fenomena ini. Ternyata inilah salah satu akibat dampak real penerapan Sistem Kapitalisme-Sekulerisme yang sedang dijalankan, yang mengakibatkan faktor ekonomi yang semakin mencekik rakyat kecil, dimana hanya mengistimewakan segolongan kapitalis. Hubungan sosial yang semakin tidak terkontrol dengan paham liberalisme yang semakin menambah akumulasi orang-orang depresi, dan diperparah dengan paham sekulerisme yang dimana mereka seakan lupa dengan Sang Pencipta, semua yang mereka usahakan ternyata tidak dilandasi keterikatan kepada Sang Pencipta, hingga sekalinya mereka ‘terjatuh’, maka depresi lah yang mereka hadapi. Maka, sudah saat nya kita segera meninggalkan Sistem Kapitalisme ini, seraya kembali kepada Sistem Islam yang telah dijamin Tuhan akan memberikan kebaikan untuk seluruh alam semesta ini. 

Wallahu’alam bishowab


*Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Purwokerto & Mahasiswa Farmasi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)

You Might Also Like

0 comments