ISLAM : ANTARA PEJUANG & PEMBENCI


Perjuangan Umat Islam di tahun 2016, memberikan pukulan yang cukup ‘melelahkan’ bagi orang-orang yang membenci Islam. Bagaimana tidak, permulaan yang diawali dari ekskalasi politik tuk mengopinikan penolakan terhadap pemimpin kafir jua penolakan terhadap system kuffur, yaitu sistem demokrasi, yang menurut William Blum, “America’s Deadliest Export Democracy”. Ekskalasi perjuangan Umat Islam terus meningkat. Tak disangka, tak berselang lama setelah itu, Ahok sebagai bakal calon petahana, melakukan tindak pelecehan dengan menyebut, Al-Qur’an sebagai alat kebohongan. Tentu ini mengundang, reaksi Umat Islam. Akhirnya, dilakukanlah Aksi Bela Islam mulai dari jilid pertama hingga jilid ketiga yang akhirnya berhasil menjadi demonstrasi terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Aksi Bela Islam mulai dari jilid pertama hingga ketiga menyimpan sejuta cerita yang takkan pernah habis tuk dibahas. Aksi ini pula akhirnya menjadi sebuah dahaga ditengah isu santer perpecahan dalam diri Umat Islam, pun mematahkan pendapat seperti berikut, “Dengan menjamurnya berbagai gerakan, membuat Umat Islam takkan bisa tuk bersatu!” Kaum Muslim merasakan benar ghiroh perjuangan pra-saat-pasca acara, mungkin yang paling sensasional adalah kisah ‘Aksi Jalan Kaki’ ribuan Kaum Muslim priyangan timur menuju Jakarta. Terlebih, pada Aksi Bela Islam jilid III ini pula, terjadinya pembalikan opini ‘menyesatkan’ akan bendera Ar-Rayyah, yaitu bendera Rasulullah, yang bertuliskan, “La Illaha Illallah, Muhammadur Rasulullah” yang berwarna putih, diatas kain hitam. Ar-Rayyah ini diarak melewati jutaan Kaum Muslim, ketika itu. Semua akhirnya paham bahwa itu adalah bendera perang Rasulullah, bukanlah bendera terorisme.

Ditengah ghiroh perjuangan yang menggelora ini, yang sangat disayangkan, ada pula beberapa oknum yang mengaku Ulama, Tokoh Umat, bahkan Ustadz/ah yang mencibir perjuangan Umat Islam. Ada yang mengatakan bahwa Umat Islam bersumbu pendek, Umat Islam gampang diprovokasi, Umat Islam bodoh, Umat Islam terlalu terbawa emosi, dan yang paling menyedihkan adalah, dicap sebagai ‘intoleran’. Sungguh, sebutan yang tak pantas dikeluarkan oleh mereka yang mengaku beragama Islam. Terlebih, ucapan mereka sama sekali tidak berdasar. Justru mereka yang merasa ‘sok benar’ padahal sejatinya mereka tak peduli terhadap agama Islam. Kalaupun ada kekeliruan secara teknis, tentu tidak lantas mencemooh, bersikap diam tentu lebih baik.

Perjuangan Umat Islam di tahun 2016 lalu, merupakan sebuah momentum tuk semakin menguatkan perjuangan Umat Islam. Memberikan penyadaran kepada Umat bahwa Islam merupakan visi perjuangan yang harus ditempuh, sekaligus memberikan pemahaman bahwa Al-Qur’an adalah sebuah pedoman dalam berkehidupan, tidak hanya dalam ranah pribadi dan masyarakat, namun jua dalam ranah pemerintahan, tak lupa jua memberikan pelajaran berharga kepada Umat bahwa ada upaya masif dan sistematis oleh orang-orang yang membenci Islam tuk menghancurkan Islam. Mereka terus berupaya mengaburkan pemahaman Islam ditengah tengah Umat. Mendegradasi tingkat pemahaman Umat dengan semakin menjauhkan Umat dari pedoman kehidupan (Al-Qur’an dan As-Sunnah), memberikan sebuah distorsi akan sebuah pandangan, menginjeksikan paham sekulerisme, liberalisme, pluralisme ke dalam tubuh Umat. Kemudian, mencekoki para pemuda dengan pil hedonisme yang menyebabkan para pemuda in-produktif, yang malah menjadikan mereka bagai sebuah benalu yang sangat destruktif ditengah-tengah Umat.

Para pembenci Islam seakan semakin ‘liar’ tuk bergerak. Tak hanya non muslim, tak jarang, seorang Muslim pun melakukan self destruction terhadap diri mereka sendiri. Ibarat sebuah sel, mereka telah terjangkiti virus yang merusak kendali, hingga terjadi lah proses penghancuran yang tidak terprogram (nekrosis) di dalam sel tubuh Umat Islam. Kesadaran dan agama mereka terlah rusak akibat terkontaminasi nya pemikiran mereka oleh pemikiran kafir barat. Sekulerisme, pluralisme, nasionalisme, liberalisme serta beragam paham lain yang sangat merusak. Mereka, para pembenci takkan pernah selesai tuk terus merusak Umat Islam. Seperti apa yang tlah Allah Swt firman kan.

Jauh sebelum tahun 2016, ternyata sejarah pun mencatat, Kaum Kuffar tlah melakukan upaya mereka tuk menghancurkan Islam. Dalam Kitab Siroh Nabawiyyah karya Syaikh Mubarakfurry dan Kitab Daulah al-Islamiyyah karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dijelaskan bahwa ketika awal-awal periode kenabian, Kaum Kafir Quraisy sangatlah membenci apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, mereka bahkan menyebut beliau sebagai tukang sihir, dan sebutan buruk lainnya. Tak hanya memberikan sebutan, mereka pun berusaha tuk mencelakakan Rasulullah Saw bahkan berniat tuk membunuhnya. Kebencian mereka pun tak selesai pasca meninggalnya Rasulullah Saw. Malah, mereka semakin menjadi. Waktu terus berlanjut, zaman terus berganti, visi kaum kuffar yang membenci Islam tidak lah berubah, namun mereka akhirnya paham, bahwa Umat Islam takkan kalah dengan peperangan fisik, setelah mereka berusaha keras pada Perang Salib, namun berakhir kekalahan di pihak mereka.

Para pembenci akhirnya menyusun strategi lain. Dalam kitab Mafahim Hizbut tahrir, disebut sebagai perang pemikiran (ghazwu ats tsaqafi) yang bertujuan tuk menghancurkan pemikiran Kaum Muslim dengan mendegradasi pemahaman keislaman. Perang pemikiran yang mereka lancarkan tidak berhenti disitu, mereka secara serius melancarkan serangan ‘pasukan misionaris’ melalui Ilmu pengetahun dan kemanusian. Mereka secara serius mengelontorkan dana yang tak sedikit, Mega proyek ini diwujudkan dengan langkah-langkah konkret. Akhir abad 16 M mereka berhasil mendirikan markaz misionaris di Malta. Kemudian berpindah ke Syam pada tahun 1652 M.

Hasil dari serangan misionaris ini cukup ‘sukses’. Mereka berhasil melahirkan para pemikir muslim yang berpandangan Barat. Pola ini akhirnya, menyebabkan mulai bergesernya subjek pembenci dan perusak secara langsung. Dimana dulu dilakukan secara penuh oleh kaum kafir, saat ini mereka menggunakan pion mereka dengan para pemikir, para cendikiawan muslim yang menurut Syaikh Taqiyuddin dalam Kitab at-Takatul al-Hizbi, para kaum terpelajar hasil didikan kafir barat ini, pemikiran dan perasaaan mereka sudah tercerabut dari dalam dirinya. Mereka tanpa sadar telah terbawa scenario besar tuk menghancurkan diri mereka (agama Islam). Sehingga menyebabkan mereka takkan bisa memandang realitas kemunduran umat Islam. Hingga mereka takkan pernah mengetahui apa yang dapat membangkitkan umat, kecuali apa yang kafir barat narasi-kan.  

Menilik sejarah, salah satunya pada periode akhir Kekhilafahan Turki Utsmani hingga keruntuhannya, ternyata tak lepas dari peran para antek pembenci. Secara lahiriyah muslim, namun pemikiran sangat jauh. Mereka mencoba menafsirkan Islam dengan narasi Barat, seperti Cendikiawan dan tokoh pendidikan India, Sir Syed Ahmad Khan, pada sebuah ceramah ditahun 1884. Sir Syed mengutarakan adanya kebutuhan terhadap suatu rasionalitas baru-sebuah teologi baru yang menafsirkan kembali teks suci Al-Qur’an dalam konteks penalaran dan ilmu pengetahuan. Akibat nya, dilakukanlah telaah ulang teks Islam secara kontekstual, dari sudut pandang manfaat pribadi atau social, hak-hak demokratis, sosialisme, feminisme. Setahun sebelumnya, filosof tekemuka asal Prancis, Ernest Renan menyampaikan ceramah yang berjudul “Islam dan Ilmu Pengetahuan”. Ernest Renan menegaskan bahwa orang-orang Arab menentang Ilmu pengatahuan dan filsafat dan bahwa ilmu pengetahuan apapun yang masuk ke peradaban Islam berasal dari sumber-sumber non-Arab. Ernest Renan pula yang lebih dulu mencoba menafsirkan terkait bangsa pada abad 19. Dalam dokumennya yang bertajuk Qu’est-ce qu’une nation? (Apakah sebuah bangsa itu?)

“Suatu bangsa adalah ruh, suatu prinsip spiritual, sejumlah berat manusia, yang sehat pikiran dan berhati tulus, menciptakan jenis kesadaran moral yang kita sebut sebagai bangsa. Selama kesadaran moral ini membuktikan kekuatannya dengan pengorbanan kedudukan individu bagi kemaslahatan komunitas, ia sah dan berhak ada”

Bahkan, ideolog Pan-Islamis, Sayyid Jamaluddin Al-Afghani menangapi apa yang Ernest Renan katakan. Secara umum dia sepakat dengan Ernest Renan, “Seseorang yang betul-betul beriman harus, pada kenyataannya, berpaling dari berbagai kajian yang bertujuan memperoleh bukti empiris, apa manfaat mencari bukti (empiris) apabila dia meyakini dia telah memiliki segala bukti yang diperlukan?” Bahkan, dia menyebut, “Sudah jelas dimana pun Islam mengakar, agama itu melumpuhkan ilmu pengetahuan”. Sungguh sangat mencengangkan menyaksikan, salah satu wakil terbesar kebangkitan Pan-Islamisme, yang memiliki pengaruh tak tertandingi di zamannya, bahkan memandang rendah peradabannya sendiri. yang menyebabkan kerancuan pandanga, bahwa ada ketidak sesuaian antara Islam dan Sains. Bahkan, menurut Sultan Abdul Hamid II menuliskan dalam catatan hariannya, bahwa Jamaluddin Al-Afghani adalah orang yang sangat berbahaya, dia adalah antek Inggris yang tentu bekerja demi Inggris.

Terakhir, sampai kapan pun, barisan pencela-pejuang akan terus ada. Pencela akan terus ada dan diproduksi tuk mengkonter para pejuang yang inshaAllah Ikhlas berjuang di jalanNya. Mencoba mengaburkan ide Islam yang dibawakan oleh pejuang. Namun, coba lah berfikir sekali lagi bagi kalian para pencela dan pembenci, terlebih kalian yang beragama Islam. Apa yang kalian lakukan saat ini pun bukan yang pertama, sudah banyak pendahulu yang tlah lakukan hal yang sama. Maka, jangan lah berbangga akan hal itu. Terlebih yang kalian lakukan adalah tak lebih dari omong kosong dan kesia-sia an. Saya berpesan, kepada kalian tuk kembali. Lebih baik berjuang bersama tuk mengembalikan kehidupan Islam [].  

Wallahu a’lam bishowab 

You Might Also Like

0 comments