ISLAM & TANTANGAN ZAMAN


Setiap medio pergantingan tahun hingga awal tahun masehi, selalu saja muncul sebuah perdebatan. Terlebih ketika mulai memasuki tanggal 25 desember hingga 31 desember. Seakan-akan perdebatan itu terus diulang ulang bagai kaset tape rusak yang tak pernah diganti walau sudah jelas-jelas rusak dan perlu sangat dibuang. Memang sudah jelas dalam Islam, bahwa mengucapkan selamat hari raya agama lain, apalagi merayakannya itu terlarang. Hal serupa juga ketika sampai pada pergantian tahun, 31 Desember, dimana muda-mudi, tua-muda merayakan malam tersebut. Namun, selalu saja muncul sentimen bodoh yang coba dilontarkan oleh kaum sekuler yang tidak suka Islam. Ada saja dari mereka yang berkata, “Alah, sok-sok-an mengharamkan natalan, mengharamkan tahun baru, padahal nyebarin dakwah nya juga lewat fb (facebook, red), yang buatan orang yahudi! Sama-sama haram G*blo*!”.

Terkadang banyak dari kita yang mendapatkan realitas demikian akhirnya bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana Islam menjawab tantangan zaman. Seperti munculnya beragam produk teknologi yang memang faktanya di-invensi juga diproduksi oleh orang kafir. Disisi lain, kita juga sedang mengadopsi produk pemikiran orang kafir. Terkadang beragam pertanyaan itu muncul. Tak cukup demikian, muncul anekdot, “Ustadz-ustadz (orang yang paham ilmu agama, red) itu pasti kuper (kurang percaya diri akibat tidak tahu teknologi), pasti kotor, dan gambaran gambaran buruk lagi menyeramkan lainnya”. Intinya, mereka ingin mencitrakan muslim=kuper, muslim=bodoh, muslim=kotor dan bau.

Realitas hari ini memang menjadi sebuah fakta yang mengerikan bagi kaum muslim. Ternyata, ketika kita usut lebih jauh, menilik sedikit sejarah yang lalu, kejadian hari ini merupakan akibat kemunduran umat islam sejak abad XII Hijriyah (Abad Ke-18 Masehi). Saat itu, dunia Islam mengalami kemrosotan yang sangat parah. Dari masa kejayaan, kemudian jatuh ke dalam jurang kemunduran yang amat sangat mengerikan. Ini pula yang tlah dijelaskan dalam kitab Daulah al-Islamiyah karya Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, beliau menjelaskan :

Pada pertengahan abad ke-12 H/18 M, keadaan berubah. Kelemahan dalam negeri Negara Khilafah mulai muncul ke permukaan. Negara berdiri di atas sisa-sisa system Islam yang penerapannya telah rusak. Negara dibangun di atas pemikiran-pemikiran yang justru menggoyahkan Islam dan kedalamannya. Hukum-hukumnya mengambang dan lebih banyak di luar system daripada dalam system Islam. Ini akibat dari pemahaman yang salah tentang pemikiran Islam, buruknya penerapan system islam, serta tidak adanya ijtihad, yang tentu mengakibatkan tidak adanya mujtahid.

Pada abad ke-13 H/19 M neraca (timbangan) Negara Islam dan negara-negara non-Islam mulai berayun-ayun, kemudian neraca dunia Islam mulai menurun, sementara timbangan negara-negara Eropa sedikit semi sedikit menguat dan semakin berat. Di Eropa mulai lahir kebangkitan dan hasilnya mulai tampak. Sementara di tengah kaum Muslim, hasil kejumudan berpikir dan buruknya penerapan Islam juga mulai mencuat keluar.

Ini terjadi karena pada abad ke-19 M di Eropa muncul gerakan revolusi pemikiran yang dipelopori oleh para filsuf, pujangga, dan pemikir. Mereka bekerja keras dan mencurahkan seluruh kemampuannya, hingga lahirlah revolusi di seluruh daratan Eropa. Revolusi itu mampu mengubah secara menyeluruh pemikiran Eropa, hingga menghidupkan bangsa-bangsa mereka. Kemudian munculah gerakan-gerakan yang memiliki pengaruh kuat dalam mengahasilkan berabagai pemikiran baru tentang pandangan hidup.

Revolusi itu kemudian memberikan pengaruh yang sangat kuat dalam memperkuat Eropa dan memajukan pemikiran dan kekayaan materi. Kekayaan materi dan kemajuan ilmu ini mengakibatkan neraca dunia Eropa dan dunia Islam tampak lebih berat, lalu mengubah pemahaman tentang masalah ketimuran. Kekhawatiran terhadap ancaman Islam tidak sampai menyerang Eropa karena ancaman itu justru menjadi kejumudan yang menggrogoti negara ‘Utsmani atau malah memecah-belahnya menjadi beberapa negeri. Revolusi pemahaman masalah ketimuran dan beberapa kondisi baru yang muncul di Eropa akibat meningkatkannya taraf pemikiran, kemajuan ilmu, revolusi industry, dan aspek-aspek lain mengenai kelemahan dan perpecahan yang menghantam negara ‘Utsmani’ menghantarkannya pada revolusi politik di negara Islam dan negara Kafir. Perkembangan berikutnya, neraca bangsa Eropa semakin menguat, sementara neraca kaum Muslim semakin melemah, dan akhirnya tahun 1924 M negara ‘Utsmani’ benar-benar lenyap.

Pada masa itu pula, seorang pemikir, filsof moral, dan pendidik dari Aljazair, Malek Bennabi (1905-1973) mengambarkan kondisi peradaban Islam saat itu, ditengah gempuran peradaban barat yang muncul. Dalam sebuah metafora yang sangat menarik, Bennabi membandingkan masyarakat Islam modern, “dengan seorang penunggang kuda yang telah kehilangan kendali atas sanggurdinya dan gagal menangkap kembali” Peradaban Islam, tulisnya,

“Terlontar dari jalurnya oleh berabagai gagasn yang betolak belakang atau berlawanan; pada satu sisi, gagasan-gagasan yang menghadapkannya dengan berabgai masalah peradaban-berabasis-teknologi tanpa membangun keterkaitan nyata dengan akar-akar peradaaban; dan pada sisi lain, gagasan-gagasan yang berhubungan dengan semesta budaya aslinya tanpa mengambil contoh-contoh terbaik dari semesta ini”.

Tak cukup sampai disitu, Pada tahun 1984, Mahathir bin Muhammad, Perdana Mentri Malaysia, berbicara pada Konferensi Internasional Pemikiran Islam ketiga, yang bertempat di Kuala Lumpu. Beliau berkata,

“Jika umat Muslim benar-benar menginginkan tatanan sosial yang Islami, mereka harus memeriksa setiap aspek modern dari persektif Islam dan melakukan koreksi yang diperlukan. Kemudian, mereka harus menintegrasikan pengerahuan baru ke dalam korpus warisan Islam dengan menghilangkan, mengubah, menafsirkan ulang, serta mengadaptasikan komponen-komponennya sesuai dengan pandangan Dunia Islam”

Kegagapan kaum muslim untuk menerima perubahan zaman saat ini semakin tidak terkendali. Menyebarnya perubahan zaman bernapaskan sekulerisme menjadikan masalah semakin pelik. Tidak hanya dalam urusan model pakaian, atau menggunakan ungkapan-ungkapan islami dalam bertutur kata. Lebih dari itu. Perkembangan teknologi yang semakin pesat seakan menggilas identitas seorang Muslim. Lebih tragis lagi, kehancuran Islam dimulai dari sini. Kegagapan kaum muslim dalam menerapkan konsep hadarah wal madaniyyah telah menjadikan rusaknya tatanan kehidupan. Dalam Kitab Nizhamul Islam dijelaskan bahwa Hadlarah adalah sekumpulan mafahim (ide yang dianut dan mempunyai fakta) tentang kehidupan. Sedangkan Madaniyah adalah bentuk-bentuk fisik dari benda-benda yang terindra yang digunakan dalam berabgai aspek kehidupan. Hadlarah bersifat khas, terkait dengan pandangan hidup. Sementara madaniyah bisa bersifat khas, bisa pula bersifat umum untuk seluruh umat manusia, alias universal. Tentu, hadlarah tidak dapat diadopsi oleh kaum muslim jika itu berasal dari cara pandang khas di luar aqidah Islam. Seperti sekulerisme, liberalisme, demokrasi, nasionalisme, dan sebagainya. Sedangkan madaniyah, ada yang dapat diadopsi ada pula yang tidak, tergantung apakah madaniyah tersebut tercampuri dengen hadlarah tertentu atau tidak.

Pengadopsian peradaban Barat yang jelas-jelas bertentangan dengan  peradaban Islam, dan dijadikan bagian dari pemahaman-pemahaman mereka. Kebanyakan mereka mengatakan bahwa Barat mengambil peradaban dari islam dan kaum Muslim. Karena itu, mereka menafsirkan hukum-hukum Islam sesuai dengan peradaban barat. Dengan demikian, mereka menerima peradaban Barat secara sempurna dan penuh kerelaan, seraya memperlihatkan bahwa akidah dan peradaban Islam sesuai dengan peradaban barat.

Munculnya beragam intelektual yang bertsaqofah asing dan buruknya pemahaman mereka terhadap tsaqofah Islam, memunculkan pemahaman-pemahaman Barat dalam kehidupan mereka, yang sangat bernafaskan materialistik. Semua itu disebabkan oleh peradaban Barat yang dibangun atas dasar pemisahan agama dari negara (sekulerisme). Akhirnya, merka merasa sudah melaksanakan kewajiban-kewajiban agama dengan meyakini Allah dan menjaga shalat semata-mata. Sementara pengaturan urusan dunia, dikembalikan dengan pandangan dan keinginan mereka semata yang terlahir dari konsep serta gambaran peradaban yang mereka anggap terbaik saat ini, yaitu peradaban Barat.

Kegagalan kaum muslim saat ini menghadapi tantangan perubahan zaman lebih diakibatkan oleh lemahnya pemahaman Islam yang sangat luar biasa yang dimiliki kaum Muslim. Bahkan menimpa para mujtahid serta penerusnya kala itu. Hal itu telah disampaikan oleh Al-Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dalam kitabnya as-Syakhsiyyah al-Islamiyyah Juz I, beliau menyampaikan,

“Setelah murid-murid para mujtahid datanglah para pengikut mazhab-mazhab dan orang-oraang yang bertaqlid kepada mereka. Merka tidak melanjutkan metode yang ditempuh oleh para imam dan pemuka-pemuka setiap mazhab dalam ijtihad dan istinbath hokum, juga tidak melanjutkan metide yang ditempuh oleh murid-murid para mujtahid, seperti mengkaji dalil-dalil dan enjelaskan aspek pengambilan serta percabangan terhadap hukum-hukum dan menjelaskan berabagai masalah”

Kemunduran dalam hal pemikiran itu diperparah dengan pernyataan  bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Akibat hal tersebut, mengakibatkan negara dan umat islam semakin terpuruk, padahal setelah itu masih banyak dijumpai para mujtahid yang mumpuni. Lemahnya pemikiran itu menyebabkan kondisi yang sangat kritis. Keadaan itu mempengaruhi negara. Terlebih saat itu pula Negara Utsmani sedang dirundung beragam kekalahan dalam peperangan yang akhirnya pemerintahana Islam berpindah ke tangan Mamalik, yang menyebabkan Bahasa Arab semakin terpinggirkan dari diri umat Islam.

Maka, cara Islam tuk menjawab tantangan zaman, tidak lain dan tidak bukan hanya dengan meningkatkan pemahaman Islam yang benar. Dapat memisahkan antara hadarah wal madaniyah. Serta menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sebuah pedoman, yang tentu sangat memerlukan pemahaman dalam peningkatan tsaqofah islam yang hanya dapat dipahami secara sempurna dengan bahasa Arab [].

 Wallahu'alam Bishowab

Referensi
[] Kitab Daulah al-Islamiyyah, karya Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nahbani.
[] Kitab as-Syakhsiyyah al-Islamiyyah Juz I, karya Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nahbani.
[] Kitab Nizhamul Islam, karya Al-‘Allamah Syaikh Taqiyuddin an-Nahbani.
[] Mafahim Islamiyyah; pokok-pokok pemikiran Islam, karya KH Hafidz Abdurahman, MA
[] Krisis Peradaban Islam; antara Kebangkitan dan Keruntuhan Total, karya Ali A. Allawi.


You Might Also Like

0 comments