KHOUF WA ROJA’ DAN FUNGI ENDOFIT


PRAKATA

Alhamdulillah, tepat seminggu yang lalu, saya dapat melewati salah satu tahap ‘first step’ dalam ‘tugas negara’ ini. Sidang usulan penelitian tepatnya. Diuji di depan 5 ‘penguji’ (2 pembimbing, dan 2 penguji saya, dan 1 penguji tambahan akibat sistem pararel).Campur aduk lah yang saya rasakan. Entah kenapa pengalaman saya presentasi karya ilmiah sebelum ini, tidak se-‘galau’ itu. Bahkan, sehari sebelum sidang, sedari malam nya saya sudah gusar, tepat dini hari sejak pukul setengah 3 pagi, saya sudah terbangun, dan benar-benar tidak bisa tidur kembali. Loh, memang mengapa? Silahkan anda main-main ke jurusan saya, kemudian sekali-kali ikut sidang yang digelar disana J Oya, dikarenan saya sudah ‘curcol’ terkait sidang saya, maka kali ini topik nya adalah terkait penelitian saya, all about endhopytic J 

ENDOPHYTE ONE OF NATURAL DRUG SOURCE
            
Dewasa ini, jutaan manusia penghuni bumi ini terjangkiti beragam penyakit, seperti kanker, AIDS, penyakit infeksi, dan beragam penyakit lain nya. Tentu, sebagai salah satu manusia, kita tak kan tinggal diam akan kejadian itu. Tentu, kita bergerak sesuai apa yang kita bisa lakukan. Menyumbangkan sedikit ilmu dan pengalaman sebagai sumbangsih untuk kebaikan bersama, tentu ini suatu hal yang diwajibkan, bahkan, “Khairunnas Anfauhum Linnas”. Maka dari itu, sebagai mahasiswa yang berkutat dengan dunia perubatan yang berjuang tuk menjadi “Drug Expert” saya mencoba mencari tahu, apa yang ada dibalik mikroba endofit ini, tentu tujuan nya demi ditemukan nya obat baru.
            
Penemuan obat memang menjadi hal yang menarik bagi saya pribadi. Nalar saya selalu lebih hidup, dan logika menjadi semakin ‘liar’ saat membahas ini. Mungkin, inilah yang saya sebut sebagai passion/kecintaan. Memang selama saya studi tidak melulu membahas penemuan obat. semua dibahas, mulai dari hulu hingga hilir, mulai dari penemuan obat hingga efektifitas penggunaan obat bahkan hingga bagaimana memberikan sebuah edukasi ditengah tengah masyarakat terkait obat. Penemuan obat secara garis besar dibagi menjadi dua jalur, 1. Sintesis 2. Isolasi senyawa bahan alam. Penemuan obat yang dimaksudkan disini adalah penemuan obat non herbal (herbal? Yap, pembahasan jenis-jenis herbal itu bagaimana, semoga saya bisa bahas di lain tulisan ya), sebenarnya bila kita mau membahas lebih dalam, herbal adalah salah satu tonggak penemuan obat, bahkan dalam framework sintesis yang hasil nya sering disebut obat kimia (tentu banyak dari kita yang alergi ketika mendengar obat kimia seakan-akan itu racun yang sangat mematikan, tapi beberapa nya memang benar sih. Hehe ).
            
Penemuan obat dari kedua sumber ini selain memiliki sisi positif dalam efikasi maupun menyembuhan simptomp, namun tentu memiliki beragam permasalahan. Pada sisi, penemuan obat secara sintesis yang sering menjadi permasalahan adalah, kesulitan nya tuk ditemukan struktur obat sintesis yang sederhana dengan tantangan penyakit yang muncul dengan beragam bentuk penyakit akibat perubahan secara genetic. Akibat faktor cuaca yang ekstrem dan kondisi lingkungan yang memprihatinkan yang dapat memicu suatu kuman atau bakteri dapat berevolusi semakin cepat dan semakin kuat dalam menimbulkan suatu infeksi [1]. Keterbatasan sintesis untuk menemukan obat dengen struktur yang kompleks menjadi suatu hal permasalahan tersendiri.
            
Disisi lain, sumber yang kedua, yaitu isolasi senyawa bahan alam memang dia dapat menyelesaikan permasalahan pada struktur kompleks obat, Salah satu permasalahan adalah seringkali terkendala dalam masalah jumlah. Selain itu, pemanfaatan bagian tumbuhan secara langsung untuk pengobatan biasanya membutuhkan banyak biomassa. Hal ini bila dilakukan tentunya dapat mengganggu kelestarian alam [2,3]. Oleh karena itu, akhir-akhir dikembangkan teknologi pemanfaatan mikroba endofit yang hidup pada tumbuhan sebagai sumber baru untuk menemukan senyawa obat.
            
Mikroba endofit (dapat berupa fungi maupun bakteri) merupakan mikroorganisme yang hidup berada di dalam jaringan tumbuhan hidup tanpa merugikan tumbuhan inangnya dan seringkali dapat memproduksi metabolit sekunder yang serupa dengan tanaman inangnya [4,5]. Fungi endofit merupakan mikroba yang hidup di dalam jaringan internal tumbuhan hidup tanpa menyebabkan efek negatif bagi inangnya [7]. Fungi endofit mempunyai fungsi seperti meningkatkan nutrient tumbuhan yang berfungsi dalam memberikan resistensi pada tumbuhan melawan infeksi patogen juga sebagai sumber metabolit sekunder [7,8].

Sebagai contoh, mungkin kita pernah mendengar obat paclitaxel (taxol), obat anti kanker dengan sebutan, “The Worlds First Billion-Dollar anticancer drug” yang diisolasi dari dalam batang tumbuhan Taxus brevolia [5], ternyata penelitian lain dilaporkan didapatkan taksol yang diisolasi dari fungi endofit Taxomyces andreanae dari batang tumbuhan penghasil taksol yaitu Taxus brevolia [6]. Fungi endofit mampu menghasilkan metabolit sekunder yang diduga berasal dari koevolusi atau transfer genetik (genetic recombination) dari tumbuhan inangnya [5]. Metabolit sekunder inilah yang nantinya disebut sebagai senyawa obat, tentu setelah dilakukan rangkaian uji, baik preklinis hingga 3 tahap uji klinis suatu obat hingga benar-benar di sebar ditengah-tengah masyarakat, ditambah uji pasca klinis atau biasa disebut post markering survailance.

Maka, pemanfaatan fungi endofit ini tentu sangatlah menarik. Terutama dalam rangka pencarian obat baru. Namun, selain memiliki beragam kelebihan, namun kelemahan nya adalah kompleksitas proses isolasi nya, baik isolasi fungi maupun senyawa metabolit sekunder (yang nantinya menjadi senyawa obat). Bahkan, saat sidang usulan penelitian minggu lalu, penguji saya berkelakar, meminta saya untuk merevisi jadwal penelitian, beliau menyarankan nemambahkan 1 poin lagi, sebulan berdoa di masjid, karena menurut beliau penelitian ini benar-benar penuh kejutan, bahkan beliau menambahkan, bahwa penelitian dia terkait hal yang sama memakan waktu 2 tahun hingga benar-benar selesai (2 tahun? WHATT… L ).

SIKAP AR-ROJA’ DAN FUNGI ENDOFIT
            
Ar-Roja’ adalah sikap seorang muslim yang berbaik sangka kepada Allah SWT [11]. Berbaik sangka kepadaNya, tentu dalam dapat dilihat dari sikap kita, dengan mengharapkan rahmat Allah SWT, meminta ampunan, mengharapkan pertolonganNya, dan secara aktif mencari jalan keluar atas permasalahan yang ada. Allah SWT bahkan memuji hambanya yang mengharapkan hal tersebut, seperti Allah SWT memberikan pujian kepada hamba nya yang mengharapkan ampunan nya. Allah SWT mewajibkan kita sebagai seorang muslim untuk bersikap demikian, Ar-Roja’ dan berbaik sangka kepadaNya, kemudian mengharapkan rahmatNya. Seperti firmanNya, 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(TQS. Al-Baqarah [2]; 218)

“Dan mereka berdoan kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepad Kami”
(TQS. Al-Anbiya [21]: 90)

Dari Watsilah bin Asqa, ia berkata; berbahagialah karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW, Allah Berfirman :

“Allah berfirman. “Aku tergantung prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila, ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan baginya, dan bila berprasangka buruk maka keburukan baginya”.
(HR. Ahmad dengan sanad hasan dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya)

Sikap Ar Roja’ adalah sikap berbaik sangka terhadap apa yang kita lakukan. Baik itu dalam hal ibadah, maupun yang lainnya. Bila dalam hal Ibadah, berbaik sangka, bahwa Ibadah yang telah kita lakukan akan diterima sebagai amal pahala, tentu ibadah yang dilakukan sesuai tuntunaNya.Disamping Ar-Roja’ dikenal juga Al-Khouf yaitu sikap ketakutan bahwa amal Ibadah kita tak diterima olehNya, sehingga kita melakukan amal Ibadah secara berhati-hati dan serius.

Tentu dalam dunia akademis, salah satu bentuk Ar-Roja’ kita terhadap apa yang kita usulkan dalam sidang dapat bermanfaat, alias kita berbaik sangka penelitian yang kita lakukan akan memang benar benar bermanfat kedepannya. Sikap AL-khouf pun ditunjukan dengan sikap kita tidak dapat memastikan hal tersebut dapat berhasil secara 100%, maka dari itu dibuatlah hipotesis yang kebanyakan memiliki nilai keyakinan 95%, alias keraguan (ketakutan) sebuah kegagalan masih ada, sehingga akhirnya penelitian dilakukan dengan sangat hati-hati, presisi, sesuai prosedur, dan mencatat segala hal yang terjadi selama penelitian tersebut.

Sikap prasangka baik ini, tidak hanya berprasangka tok, tetapi dilanjutkan dengan berusaha kuat untuk mencari jalan keluar atas apa yang terjadi. Seperti kita menemukan fungi endofit sebagai jalan keluar atas beberapa permasalahan dalam pencarian senyawa obat demi ditemukannya obat yang dapat mengakomodir kebutuhan penyakit yang semakin berkembang ini. Sikap menolak menyerah kalah ini lah yang perlu kita munculkan dalam diri. Tidak tinggal diam terhadap cobaan dan permasalahan yang terus mendera.

PENUTUP

Hikmah yang kita bisa petik adalah sikap Khauf wa Roja’ adalah tentu haruslah dimiliki oleh kita, sebagai seorang muslim. Sikap takut dan sikap prasangka baik ini tentu akan membangun kehidupan kita dengan baik. Ternyata, itu pula yang para akademisi sudah lakukan, bahkan konsep ini tidak hanya terkhusus bagi seorang Muslim. Non muslim bahkan atheis pun perlu mengetahui konsep Khouf wa Roja’ untuk diterapkan dalam kehidupan ini. Terlebih, kita sebagai seorang manusia tidak akan terlepas dari yang namanya masalah. Maka, saya berdoa semoga kita semua yang sudah mengetahui konsep ini, dapat istiqomah dengannya, dan yang baru mengetahui, segera menggunakan konsep ini. Terkhusus bagi kalian, para pengemban dakwah yang tiada hari tanpa tantangan, cemohan bahkan. Konsep ini penting demi kuat nya kita mengarungi kehidupan yang penuh permasalahan ini J

Wallahu’alam bishowab.


REFERENSI      
[1] Hilmi, E. dan  Parengrengi, 2012,  Strategi Konservasi Mangrove dalam Mengurangi Dampak Bencana di Pesisir, Jurnal Pembangunan Pedesaan 12 (2): 70-79.
[2] Sumampouw, M., Bara, R., Awaloei, H., dan Posangi, J., 2014, Uji Efek Antibakteri Jamur Endofit Akar Bakau Rhizophora stylosa Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, Jurnal e-Biomedik 2 (1): 1-5.
[3] Fisher PJ, dan Petrini O, 1987, Location of fungal endophytes in tissues of Suaeda fruiticosa: apreliminary study, TransBr Mycol Soc 89: 246-249.
[4] Xu, J., 2015, Bioactive natural products derived from mangrove-assosiated microbes, RSC Adv., 5, 841.
[5] Stierle, A., Strobel, G. dan Stierle, D., 1993, Taxol and taxane production by Taxomyces andreanae, an endophytic fungus of Pacific yew, Science, 260(5105): 214-216.
[6] Strobel, G. A., and Bryn, D., 2003, Bioprospecting for Microbial Endophytes and Their Natural Products, Microbiol. and Mol. Biology Rev., 67 (4): 491-502.Chanway, 1996;
[7] Ting A. S. Y., Meon S.,Kadir J., Radu S., dan Singh G., 2007, Field evaluation of non-pathogenic Fusarium oxyaporum isolates UPM31P1 and UPM39B3 for the control fusarium wilt in pisang berangan (Musa, AAA). Proceeding of theInternational Symposium on Recent Advances in Banana Crop Protection for Sustainable Production and Improved Livelihoods, ISHS Acta Horticulturae. pp. 139-144.
[8] K. Germaine, E. Keogh, G. Garcia-Cabellos, B. Borremans, D. Lelie,T. Barac, L. Oeyen, J. Vangronsveld, F. P. Moore, E. R.B. Moore, C. D.Campbell, D. Ryan and D. N. Dowling, 2004, FEMS Microbiol. Ecol.,,48, 109.

You Might Also Like

0 comments