Pemuda, Perubahan & Masterpiece of Allah SWT #10

Konstelasi pemikiran dewasa ini semakin menarik. Setidaknya bagi saya pribadi. Entah mengapa, berbagai pemikiran saat ini sudah tidak malu-malu lagi untuk menampakkan identitias pemikirannya. Bisa jadi karena memang situasi dan kondisi yang mendukung, dan boleh jadi karena memang secara alami pemikiran tersebut tidak bisa dipendam dalam diri, gelisahlah siapa yang tlah mengadopsi pemikiran tersebut, sehingga akhirnya disebarkanlah dan disampaikanlah pemikiran itu. Tentu yang saya maksudkan dengan pemikiran disini adalah pemikiran yang terpancar dari sebuah Ideologi.
Ideologi yang terpancar darinya pemikiran ini kita bisa rasakan saat ini mulai menggeliat muncul kepermukaan. Walau kapan pergerakan pemikiran itu ada, wallahu’ alam bishowab. Berbagai pemikiran ini mulai mengisi relung pemikiran masyarakat. Mengisi bak teh panas yang dituangkan dari teko ke cangkir-cangkir kaca. Panas memang, namun perlahan tapi pasti, pemikiran yang ‘panas’ itu mulai digandrungi oleh banyak kalangan. Bersinggungannya masyarakat dengan pemikiran yang dalam bahasa ulama sebagai aktivitas sibghoh al fikr itu mulai merasuk menjadi standar berpikir beberapa lapisan masyarakat.
Proses bersinggungan nya pemikiran yang muncul dari Ideologi ini semakin di akselerasi dengan fakta keadaan dan kondisi teraktual. Kondisi dan keadaan masyarakat yang semakin tercekik dengan keadaan yang tidak menguntungkan. Rezim represif, ‘kemandulan’ supremasi hukum, jual beli tahta, kongkalikong para kapitalis asing dan aseng membuat masyarakat semakin terjepit dalam himpitan kondisi yang sudah di-design dari sebelumnya. Terlebih kondisi ini diperparah dengan muncul nya para ‘asong-an’ yang malah sudi melacur, menjajakan bangsa dan negara nya kepada para kapitalis, hanya untuk urusan isi perut dan beberapa jengkal dibawahnya.
Kondisi ditengah-tengah masyarakat yang secara gradual mengarah kepada tuntutan perubahan, membuat masyarakat akhirnya mengakselerasi dalam memilah-memilih produk ideologi, yaitu pemikiran. Walau typical masyarakat secara umum, memang tak lebih dari sekedar hal yang instant. Itu pula yang dijelaskan oleh Noam Chomsky dalam Bukunya, How The World Works, “Hanya minoritas masyarakat menjadi penggerak opini perubahan, sedangkan umumnya hanya sebagai pengikut opini umum yang berkembang”. Masyakarat memang akan selalu menuntut kebaikan untuk dirinya, dan sungguh itu suatu hal yang wajar.
Masyarakat yang menuntut perubahan ternyata tak selalu dibarengi dengan riuh nya aktivitas tuk menuju perubahan. Terlebih kebanyakan dari mereka adalah penuntut bukan penggerak. Kemudian, wilayah siapa kah yang seharusnya menjadi penggerak perubahan itu? Tentu tak lain adalah para pemuda. Para pemuda yang dimana mengalir dalam dirinya semangat hidup dan gagasan cemerlang terlahir. Memang pemuda ‘miskin’ akan pengalaman dan tidak sama sekali menawarkan pengalaman, namun pemuda menawarkan gagasan dan cita. Bila ‘kaum tua’ sudah kenyang dengan pengalaman, maka kaum muda justru sebaliknya, ‘haus’ akan pengalaman. Kehausan akan pengalaman itu akhirnya menuntut dia tuk terus menggulirkan gagasan yang menurut dia baik, walau terkadang di-cemooh dan kata, “It doesn’t any make sense” bahkan di olok-olok, “senseless” alias tolol. Itulah sebenarnya idealism para pemuda. Ke-tolol-an menurut ‘kaum tua’ itu sejatinya bagai percikan api semangat untuk dapat membuktikan, “siapa sebenarnya si tolol itu!”.
Narasi besar perubahan ala Para Pemuda memang acap kali premature. Memang faktornya pun setali tiga utang dengan potensi dalam diri Para Pemuda. Ketika membaca dalam konteks pemikiran, narasi besar perubahan itu sering kali tidak lah muncul dari pemahaman yang utuh akan perubahan dalam narasi itu. Tak jarang mereka bergerak lebih didasari pada interest mereka. Terlebih, narasi tersebut bagi mereka adalah hal yang baru dan belum sama sekali pernah dicobakan dalam konteks masyarakat dewasa saat ini.
            Dalam memilih sebuah labuhan narasi perubahan dalam konteks saat ini, penting kiranya kita mengetahui perubahan yang bagaimana kah yang diinginkan itu? Juga definisi yang bagaimana perubahan itu sebenarnya? Jikalau perubahan hanya-lah perubahan secara parsial seperti perubahan rezim dan para kroco-nya, maka hemat saya tak usah bicara perubahan secara serius untuk hal itu. Silahkan ceburkan jari kelingking anda ke dalam ‘toples’ tinta berwarna biru keungu-unguan, maka anda telah menjadi penggerak perubahan itu. Namun bila perubahan secara fundamental lah yang diinginkan, maka siapkan diri kita tuk terjun sepenuh hati dalam pergolakan menuju perubahan itu. Jangan pernah terpikir untuk mundur atau menghilang dari jalan perjuangan itu. Itu pula yang dikatakan oleh Mukhtar Lubis dalam Jalan Tak Ada Ujung, “Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan”. Tak ada pulang sebelum selesai, selesai ketika kita semua pulang menghadap yang Maha Kuasa.
            Berbicara kebangkitan tentu kita takkan dapat dilepaskan dengan kebangkitan dalam diri manusia. Jalan menuju kebangkitan takkan pernah berhasil bila manusia sebagai subjek kebangkitan itu tidak bangkit. Maka, tentu kita perlu memahami hakikat kebangkitan dalam diri manusia. Kebangkitan dalam diri manusia sejatinya terletak dari pemikirannya. Pemikiran lah yang menyebabkan diri nya bangkit. Bicara sebuah pemikiran tentu sangatlah berbeda dengan ‘doktrin’, pemikiran dalam diri para pemuda adalah hal yang tidak bisa dipaksakan, mereka mengalir bak aliran oksigen yang mengisi relung paru kita, bukan karena kita ingin hirup dia, tapi memang perbedaan tekanan yang membuat akhirnya hal tersebut terjadi. Dan kehausan Para Pemuda adalah kondisi yang menyebabkan hal tersebut bergerak secara alami. Ketika pemikiran terjadi tentu hal tersebut takkan dapat kita lepaskan dari proses berfikir dimana akal menjadi titik sentralnya.
            Dalam konteks Agama Islam. Cak Nun dalam Buku Demokrasi La Roiba Fih pernah bertanya, “Apa bekal utama manusia untuk menjadi Muslim yang baik?” Menurut beliau, hampir 100% menjawab, “Al-Qur’an dan As Sunnah”. Menurut beliau, itu bukan jawaban yang dia inginkan, beliau melanjutkan, “Sebegitu suci dan sakral nya Al-Qur’an & As Sunnah, sehingga umat Islam kebanyakan lupa pada kalimat kecil di Kitab Suci itu sendiri, Sungguh Aku menciptakan manusia sebagai masterpiece…Inna Khalaqnal Insani Fi Ahsani Taqwim” Karya Allah yang terunggul dan tertinggi derajatnya buan Malaikat, bukan Al-Qur’an, melainkan manusia. Beliau menuturkan, bahwa modal utama manusia menjadi Muslim bukan Al-Qur’an melainkan akal. Akal yang membuat manusia ini dapat berpikir lah yang menyebabkan manusia ini bangkit. Seberapa banyak Allah Swt berfirman, “Apakah engkau tidak berpikir”, “Apakah engkau tidak menggunakan akal?”.
            “Pemikiran yang mendasar dan menyeluruh tentang hidup, alam semesta, dan manusia, serta hubungan ketiganya, dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan yang ada sesudahnya”. Sungguh pemikiran yang demikian lah yang kan membentuk presepsi terhadap segala sesuatu. Menjadi standar dalam perpikir dan bertindak. Pemikiran yang menyeluruh dan mendasar ini merupakan landasan berpikir (al-Qaidah al-Fikriyah) yang kan menderivatisasi mabda menjadi pemikiran cabang akan kehidupan. Menurut Syaikh Taqiyuddin An-Nahbani, “Hal tersebut itu adalah solusi fundamental dalam diri manusia, apabila solusi fundamental itu dapat teruraikan maka terurailah masalah lainnya” ketika berbicara pemecahan masalah tersebut, Beliau menambahkan, “pemecahan yang benar tidak akan dapat ditempuh kecuali dengan al-fikru al-mustanir (pemikiran cemerlang)”. Pemecahan inilah yang akan menghasilkan Ideologi, yang kan menghasilkan pemikiran cabang akan prilaku dan peraturan-peraturannya.
            Maka sebagai seorang pemuda, berbicara akan perubahan, maka tak kan dapat dipisahkan dari peran sebuah ideology untuk men-generate sebuah perubahan itu. Mengenggam sebuah Ideologi ibarat mengenggam bara api. Ideologis dan tanpa kompromi, serta idealis menurut Ideologi nya adalah ciri khas pemuda yang tlah terinternalisasi Ideologi dalam dirinya, sehingga tak ada kata diam, yang ada hanya bergerak,bergerak, dan bergerak. Terus menyuarakan Ideologi tersebut, menyampaikan, dan melakukan pergolakan pemikiran yang bersebrangan dengan Ideologinya. Akhir kata, patut kira nya kita merenungi perkataan Cak Nun, lantas perpikir dan memilih dimana kita ‘menjadi’ dalam perubahan itu,

“Setiap orang bicara tentang suatu hal. Apalagi aku tergolong orang yang tau sedikit tentang sedikit hal. Sementara Anda orang yang tahu banyak tentang sedikit hal. Anda yang lain tahu sedikit tentang banyak hal. Dan Si Anda yang spesial : tahu banyak tentang banyak hal!”

Wallahu ‘alam Bishowab

Purwokerto, 21 Februari 2017           


*Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Purwokerto


Sumber foto :
http://www.voicesofyouth.org/en/posts/the-struggle-of-silence 

You Might Also Like

0 comments