PENTINGNYA ‘ALAT BEDAH’ DALAM KEHIDUPAN

PRAKATA

Secara umum sebuah riset tentu akan menghasilkan sebuah data, baik itu secara kualitatif maupun kuantitatif. Alat bedahnya pun beragam, ada yang secara deskriptif maupun menggunakan analisis statistik, baik itu ANOVA, Tukey HSD, uji T, uji normalitas, LSD, dan beragam lainnya. ‘Pisau bedah’ ini yang kita biasa disebut dengan Ilmu Statistik, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan mempresentasikan data. Tentu setiap riset memiliki ‘pisau bedah’ yang tidak sama, karena harus disesuaikan dengan rancangan penelitian serta data apa yang ingin dapat dan disampaikan.

Ilmu Statistik ini simple nya, kita ingin menilai suatu populasi, baik itu sekelompok orang, kejadian, atau benda yang dijadikan obyek penelitian, dengan menjadikan sebagian objek dari populasinya sebagai sampel yang kan kita amati. Misalkan, dalam ruang lingkup kefarmasian, saya ingin mengetahui kepuasan pasien Diabetes Melitus (DM) di Rumah Sakit X dalam menggunakan obat insulin injeksi generasi baru, dengan durasi 48 jam, namun dengan tingkat ke-nyeri-an yang lebih dari obat insulin generasi sebelumnya. Tentu populasinya adalah seluruh pasien DM di Rumah Sakit X tersebut, dan sampel yang saya gunakan tentu tidak mungkin seluruh nya, hanya sebagian saja, tentu dengan protokol dan parameter yang tepat, baik itu parameter ekslusi, inklusi, dan sebagainya. Intinya dari hasil riset tersebut, kita kan mendapatkan data, yang kemudian data dari  sekumpulan datum tersebut yang kemudian diolah menjadi sebuah informasi yang kedepannya akan dapat digunakan untuk menjadi ‘dalil’ dalam menilai sesuatu.  

ALAT BEDAH ‘BAHAN ALAM’
           
‘Alat bedah’ dalam dunia akademisi tentulah sangat beragam, bahkan sebelum kita membahas alat bedah dalam hal pengolahan data (ilmu statistik), kita juga dapat memerlukan alat bedah ‘tingkat pertama’ (dalam istilah penggunaan obat, first line or second line). Tak terkecuali pada salah satu peminatan di ilmu kefarmasian, yaitu Bahan Alam. Sebenarnya ‘Bahan Alam’ itu apa sih? Simple nya menurut saya adalah salah satu dari beragam kajian yang ada di lingkup kefarmasian, yang berfokus membahas perkembangan dan pengembangan perobatan (kefarmasian) yang berfokus pada pemanfaatan bahan alam, baik itu batang, daun, akar, dan bahkan fungi, jamur, dan lain sebagainya, yang kedepannya akan membatu pengembangan ilmu kefarmasian secara ilmiah. Mungkin simpel nya, seperti ‘saintifikasi’ jamu, yaitu bagaimana jamu yang memang secara empiris sudah digunakan kemudian dibuktikan secara sanitifik sehingga memiliki kekuatan dalam keilmuan yang memang dibangun atas dasar itu.
           
Dewasa ini, kajian bahan alam, lebih ditekankan pada tingkat molekuler. Dalam arti, lebih mendalam dan mendetil hingga dapat berbicara apa yang yang ada dibalik suatu senyawa itu, apa yang dapat berpengaruh, dan lain sebagainya. Kajian molekuler juga menjadi salah satu tonggak penting perkembangan kefarmasian kedepannya, tentunya. Dalam kajian bahan alam ini, kita tak kan dapat lepas dari ilmu terkait, yaitu kimia medisinal dan kimia analisis instrumen, dan tentu ilmu lain nya seperti, biokimia, dan bahan alam itu sendiri.
            
Setelah sebuah bahan alam diekstraksi (mengeluarkan zat/metabolit sekunder dari batang/daun/dsb ke sebuah larutan) yang kemudian didapatkan sebuah maserat (hasil ekstraksi proses maserasi) dari bahan alam, setelah itu perlu dilakukan pemurnian dan pemisahan kemudian dilanjutkan dilakukan pembacaan spektra menggunakan instrument tertentu, kemudian dianalisis menjadi sebuah struktur. Maka, disitu lah peran llmu kimia analisis instrument.

Pada proses pemisahan dan pemurnian kita mengenal metode kromatografi yang saat ini ter-mutakhir, dengan instrumen High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) sebagai leading nya. Kemudian setelah dilakukan pemisahan dan pemurnian, dilakukan pembacaan dari senyawa yang sudah murni tersebut, untuk penentuan strukturnya. Hal ini biasa menggunakan beragam instrument yang menurut saya bagai ‘lego’, karena insturmen satu dengan yang lainnya, dapat digabungkan atau dipisah sesuai dengan apa yang diinginkan. Insturmen yang masyhur adalah, Spektroskopi UV-VIS, spektroskopi Infra Red (IR), spectrometri masssa (MS), dan spektroskopi nuclear magnetic reconance (NMR). Beragam instumen spektroskopi ini akan menghasilkan sebuah spectra, atau sinyal-sinyal yang nantinya akan menjelaskan bagaimana sebuah struktur tersebut. Menurut yang saya ketahui, dalam menentukan suatu struktur senyawa yang tidak diketahui (unknown structure), instrumen spektroskopi tersebut tidak lah bisa digunakan sendiri-sendiri, melainkan perlu dilakukan bersama-sama karena spesifitas mereka yang berbeda-beda.

Pada interpretasi data spektra, seperti pada instrument Spektroskopi Uv-Vis yang hanya akan memberikan sinyal dengan struktur yang memiliki farmakofor yang salah satunya dapat ditandai dengan adanya cincin aromatis, seperti benzene dan lain sebagainya. Kemudian, NMR, yang dapat menilai hanya atom H dan C karena yang dapat pula mendapatkan memberikan informasi posisi nya, maka dari itu diperlukan IR yang dapat menjelaskan gugus fungsi yang ada pada senyawa tersebut, walau tidak dapat menjelaskan secara pasti jumlah dan posisi, kemudian ditambah dengan MS yang dapat memberikan informasi suatu atom lain, yang tidak dapat dijelaskan dengan NMR maupun MS, dengan melihat nilai MR (masa relatif) pada suatu senyawa tersebut.

Setelah dilakukan pengkajian secara struktur, dan juga pengkajian secara aktifitas farmakologis, kemudian dilakukan pengkajian kimia medisinal. Hal ini penting disebabkan pada kimia medisinal, kita kan membahas bagaimana suatu struktur kimia (gak usah dibayangin kayak struktur nya, aing ge riyeut nempo na’ ) berpengaruh secara farmakologis yang dilihat dari gugus fungsi, jenis atom yang ada, tingkat kepolaran, stereoisomer yang khas, R/S pada sturktur tersebut, dan lain sebagainya, juga bagaimana menciptakan sebuah struktur kimia dengan mereaksikan sesuatu A dengan sesuatu B, yang nanti akan menghasilkan C atau yang biasa disebut dengan sintesis. Hal tersebut yang nantinya kita sebut sebagai Structure Activity Relationship (SAR).

KEHIDUPAN PUN PERLU ‘PISAH BEDAH’
            
Ternyata, usut punya usut, sebagai seorang muslim, kehidupan yang kita jalani pun tidak lepas dari ‘pisau bedah’ tersebut. Tentu, tidak menggunakan pisau bedah yang saya sampaikan diatas. Kehidupan sebagai suatu hal yang penuh dengan permasalahan tentu memerlukan sebuah pisau bedah yang tajam dan lancip hingga dapat membongkar secara mendalam hingga ke tingkat ‘molekuler’ kemudian kita lakukan pengkajian untuk menilai bagaimana baiknya kita menyikapi hal tersebut.
Dalam menyelesaikan masalah kehidupan tentu kita memerlukan sangat sebuah pisau bedah yang jitu. Karena mengapa? Karena kita hidup hanya sekali (Bahasa keren nya You Only Life Once; YOLO). Dan tentu, setelah kehidupan ini kita akan ada kehidupan yang kekal, yaitu negeri akhirat. Dan, tentu apa yang kita lakukan di dunia ini akan mempengaruhi posisi kita di negeri akhirat, nanti. Apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung atau kah orang-orang yang merugi (Naudzubillahimin dzalik). 

Permasalahan pribadi, bagaimana kita mengatur pakaian, bagaimana kita mengatur makanan dan minuman, bagaimana kita mengatur perhiasan kita (akhlak). Pada permasalahan dalam hubungan dengan sesama, bagaimana kita mengatur keluarga, tata kemasyarakatan, bagaimana kita mengatur ekonomi untuk dapat mensejahterakan semua, bagaimana kita mengatur sistem politik yang bersih, tanpa diskriminasi golongan tertentu, tanpa memihak asing maupun aseng sebagai kapitalis, bagaimana memberikan efek jera bagi pelaku kriminalitas, mulai pencuri ayam hingga yang ‘maling’ duit negara bermiliar bahkan bertriliunan, bagaimana kita bersikap terhadap pelaku LGBT, kepada para peleceh agama dan lains sebagainya. Tak cuma itu, kita pun memiliki segudang permasalahan dalam hal keribadatan, bagaimana  naluri bertuhan kita disalurkan, bagaimana kita beribadah dengan benar, yang hanya menghamba pada zat yang memang tepat tuk disembah, tidak menyekutukan nya, baik secara dhahir maupun tidak, seperti tidak mau taat terhadap aturan-aturanNya yang telah Dia turunkan melalui pengemban risalahNya.

Segala permasalahan ini tentu wajib bagi kita, sebagai seorang muslim tuk kita jawab dengan mustanir (cemerlang). Ternyata, hal ini sudah dicontohkan oleh Baginda Besar, Rasulullah SAW. Dengan apa? Hal yang paling pertama adalah selalu terikat dengan Islam. Islam yang dimaksudkan disini, tidaklah sekedar Islam sebagai agama yang mengatur hubungan transeden dengan Allah SWT, namun juga keterikatan kita terhadap agama islam dalam hal urusan bermasayarakat dan bernegara, dan juga dalam hal urusan diri kita sendiri terhadap diri ini. Yang hanya akan tercermin dari muslim yang telah terinstal Ideologi Islam dalam dirinya. Itulah ‘pisau bedah’ yang sejatinya diperlukan oleh seorang Muslim. Dari Ideologi Islam itulah akan melahirkan Muslim yang ber-islam secara ideologis.  
Mengapa Islam ideologis? Karena, Islam bukan agama ritualitas belaka, melainkan Islam adalah sebagai ‘deen’ (baca tafsir para mufasirin terkait deen), yaitu agama yang mengatur seluruh sendi kehidupan. Jadi, nonsense pemikiran sekuler, yang berprinsip, “fashulddin anil hayah” yaitu pemisahan agama dari hidupan ada dalam Agama Islam, karena sekali lagi Islam adalah yang menyeluruh (kaffah). Islam yang menyeluruh (kaffah) itulah Islam Ideologis, yaitu yang menjadikan segenap aturan yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadist serta ijma’, dan qiyas sebagai aturan dalam berkehidupan, tanpa kompromi, tanpa pilah-pilih sesuai nafsu, tanpa tapi dan tanpa nanti. Inilah sejatinya bentuk ketaqwaan tertinggi kepada Allah SWT.  

PENUTUP

Menjadikan Ideologi Islam sebagai ‘pisau bedah’, karena Islam adalah agama yang menyeluruh. Tidak hanya diperlukan orang yang beragama Islam, namun juga non muslim, bahkan alam semesta sekalipun. Maka, dari itu lah, Allah SWT menggaransi, bahwa ketika Islam diterapkan sebagai sebuah ideology yang tentunya sebagai sebuah system kehidupan, Allah SWT menjanjikan sebuah kerahmatan untuk semua, “Rahmatan Lil’ Alamin” yaitu kebaikan yang kan dirasakan oleh segenap penduduk bumi baik yang beragam Islam, maupun tidak, dan juga oleh tumbuhan, hewan dan seluruh yang ada di alam semesta ini [].

Wallahu’alam Bishowab

You Might Also Like

0 comments