POLITIK BUSUK ALA KAPITALISME



Politik dalam Kacamata Masyarakat


Politik, kata yang mungkin umum diperbincangkan ditengah-tengah masyarakat. Politik sudah bukanlah menjadi hal yang tabu dewasa ini. Tak peduli, siapa, dan dimana politik itu dibicarakan. Terlebih, dengan semakin mudahnya arus informasi. Definisi politik, fakta politik, hasil politik, semuanya sudah terpampang secara jelas. Pun setidaknya masyarakat sedikit banyak mengerti, definisi politik. Menurut Cambridge Dictionary definisi Politics adalah:

“The activities of the government, members of law-making organizations, or people who try to influence the way a country is governed”

Masyarakat saat ini pun sudah terbiasa tuk menilai kondisi perpolitikan yang ada. Membicarakan politik sudah tak mengenal ‘background’ pendidikan, bahkan tukang ramesan, tukang angkringan pun tak ketinggalan membicarakan politik, hingga akhirnya muncul istilah, ‘Angkringan Politik’-‘Burjo Politik’. Memang fakta nya, politik itu sangatlah dekat dengan masyarakat. Realitas itu setidaknya menjadi angin segar bagi kita. Masyarakat sudah lebih peka terhadap kondisi perpolitikan, walau tentu sangat perlu arahan-arahan kedepannya.

Masyarakat sudah semakin ‘dewasa’ dalam arti mereka paham bahwa politik adalah aktivitas yang mengatur, menilai, bahkan menentukan kehidupan mereka. Tukang burjo semakin mengerti bahwa harga beras yang semakin mahal diakibatkan pula oleh aktivitas politik, tukang angkot sudah semakin paham melambungnya harga bensin pun imbas dari aktivitas politik, bahkan tukang ronda pun terkadang marah-marah ketika mengomentari Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK terhadap Para Koruptor, mereka semua tahu bahwa setiap kejadian yang terjadi itu tak lepas dari hasil aktivitas politik.

Disisi lain, masih terdapat pula masyarakat yang ‘anti’ terhadap politik. Mereka menilai politik adalah hal yang harus dijauhkan. Sejumlah anak muda, bahkan orang tua, dan parahnya ada pula intelektual dan kaum terpelajar justru mengatakan, “Jangan ikut kedalamnya, politik itu menghalalkan segala cara, lebih baik kau hindari”, “Jangan bicara politik, kamu masih kecil” Itu kalimat yang sering disampaikan oleh mereka yang ‘anti’ dan alergi.

Ketidaksukaan mereka terhadap politik ternyata di akibat oleh faktor lingkungan. Iklim politik yang ada dan mengenai mereka sedikit banyak tak ramah, bahkan lebih banyak merugikan. Kejadian itu yang terus  berulang kali terjadi akhirnya menjadi sebuah ‘penyakit kronis’. Penyakit kronis yang sudah sangat mengakar tlah membuat sebuah keputusasaan mereka akan sebuah ‘kesembuhan politik’. Terlebih, itu diperparah oleh sikap generalisasi, Membuat semakin genap lah semangat mereka tuk menjadi ‘anti politik’. Sikap acuh dan membenci Dunia Politik. Namun, ternyata sikap seperti itu tak merubah banyak, apa yang mereka sebuat ‘penyakit kronis’ tadi. Sama sekali tak ada yang berubah. Justru dengan sikap mereka, malah membahayakan lingkungan per-politik-an. Seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin dalam Kitab Takatul Hizbi yaitu akibat adanya kelompok politik yang rusak-yang meracuni masyarakat, menyebabkan sulit munculnya partai politik yang benar.

‘Anti politik’ tentu malah membuat hasil yang kontraproduktif terhadap apa yang mereka inginkan, yaitu ‘kesembuhan politik’. Politik yang adil, mensejahterakan, berpihak terhadap masyarakat, menjadikan negara yang ‘gemah ripah loh jinawi’, politik yang menjadi asbab turunkan kebaikan di alam raya. Kontraproduktif akibat anti politik, menurut Penyait asal  Jerman, Bertolt Brecht disebut dengan Buta Politik. Yaitu sebagai berikut.

“The worst illiterate is the political illiterate, he doesn’t hear, doesn’t speak, nor participates in the political events. He doesn’t know the cost of life, the price of the bean, of the fish, of the flour, of the rent, of the shoes and of the medicine, all depends on political decisions. The political illiterate is so stupid that he is proud and swells his chest saying that he hates politics. The imbecile doesn’t know that, from his political ignorance is born the prostitute, the abandoned child, and the worst thieves of all, the bad politician, corrupted and flunky of the national and multinational companies.”
  
Politik Kotor dan Busuk Kapitalisme

Praktik politik kotor yang menyebabkan muncul-nya orang-orang yang ‘buta politik’, ketika ditelisik secara mendasar diakibatkan oleh cara pandang dalam berpolitik itu sendiri. Terlebih cara pandang adalah sebuah tuntunan dalam bersikap. Bagaimana mungkin mengharapkan orang yang berpandangan bahwa politik adalah jalan tuk meraup materi tuk memperkaya diri, untuk banyak memberikan pelayanan ditengah-tengah masyarakat, tentu sungguh mustahil. Terlebih praktik politik dalam Ideologi Kapitalisme meniscayakan demikian. Praktik politik yang didasari oleh cara pandang materialisme dan keuntungan semata, ditambah dengan cara pandang sekuler yang secara sempurna membuat dimana praktik politik tidak didasari keterikatan akan hubungan manusia dengan tuhan-nya. Akibatnya, bagi penganut Ideologi tersebut, menghalalkan segala cara demi terapai nya apa yang diinginkan, bahkan akhirnya muncul istilah, “Tak ada kawan abadi, yang abadi adalah kepentingan semata. Busuk? Ya sangatlah busuk!  
            
Menilik praktik politik politik busuk ini, kira nya perlu menilik bagaimana sikap politik negeri yang mengemban Ideologi Kapitalisme terkuat dan terbesar di Dunia. Tak lain, adalah Amerika Serikat (AS). Bagaimana politik luar negeri AS dalam mengontrol Dunia, khususnya Dunia Ketiga. Noam Chomsky dalam bukunya, “How the World Works” menuliskan bagaimana AS telah menjadikan Negara Dunia Ketiga, sebagai  negara yang akan “memenuhi fungsi utama mereka sebagai sumber bahan mentah dan pasar” bagi masyarakat industri kapitalis, sebagaimana mandat dalam memo Departemen Luar Negeri AS pada tahun 1949. Negara Dunia Ketiga berfungsi untuk “diekspolitasi” (menggunakan istilah kennan) demi rekonstruksi Eropa dan Jepang (dokumen merujuk pada Asia Tenggara dan Afrika, tetapi poin-poinnya bersifat umum). Tentu, sikap politik seperti itu bukanlah sikap politik yang akan adil, apalagi mengharapkan turunya kebaikan di Alam Raya.
            
Politik Ideologi Kapitalisme yang busuk ini dijalankan dalam sistem pemerintahan yang khas. Yaitu sistem politik demokrasi. Ternyata bila kita merujuk pada diskursus perpolitikan ada dua makna yang perlu dipahami. Pertama adalah makna literal sesuai kamus, dan yang kedua adalah makna yang berguna untuk melayani kekuasaan-yakni makna doktrinal. Itu pula yang disampaikan ol eh Noam Chomsky, apa arti dari istilah demokrasi. Menurut makna common sense, sebuah masyarakat dapat dikatakan demokratis bilamana rakyat bisa berpartisipasi penuh mengatur hubungan-hubungan mereka. Namun, makna doktrinal demokrasi sama sekali berbeda-istilah itu merujuk pada sistem ketika keputusan dibuat pleh bisnis dan elit-elit politik terkait. Masyakarat hanyalah “para penonton aksi” dan bukan “partisipan” (sebagaimana dijelaskan oleh ahli demokrasi terkemuka, Walter Lippman). Akhirnya, masyarakat hanya diperkenankan meratifikasi keputusan terbaik pada elite dan memberik dukungan, tetapi tak boleh ikut campur dalam persoalan yang bukan urusan mereka-seperti kebijakan publik.

Perekonomian pun tak lepas dari hasil politik. Ideologi Kapitalis dengan basis kekuatan ekonomi tentu sarat akan permainan per-ekonomian. Joseph E. Stiglitz, pemenang Nobel Ekonomi pada tahun 2011, yang menentang keras para banker dan pelaku bisnis keuangan di AS, tulisannya di Vanity Fair 5 menyatakan bahwa di AS, hanya 1 persen elite yang menguasai tak kurang dari 40 persen kekayaan negeri AS. Di tengah gaya hidup yang gila-gila an segelintir orang superkaya dekaden negeri ini, makin banyak orang menjadi miskin dan makin banyak warga AS yang tuna wisma. Kejadian itu tak jauh berbeda dengan negeri kita, Indonesia. Kondisi ketimpangan perekonomian dapat dilihat dari rasio gini, BPS menyampaikan per April 2016 lalu rasio gini berada pada posisi 0,40 memang turun 0,01 poin dari tahun sebelumnya (2015), namun yang jadi permasalahan tahun 2016 pemerintah Indonesia mendefinisikan garis kemiskinan dengan perdapatan per bulannya (per kapita) sebanyak Rp. 354,386 (atau sekitar USD $25) yang dengan demikian berarti standar hidup yang sangat rendah, juga buat pengertian orang Indonesia sendiri.

Situasi di Afrika bahkan lebih buruk lagi. Bencana kapitalisme terasa sangat parah terutama pada 1980-an. Sebuah “mimpi buruk yang tak kunjung usai” di domain-domain kekuasaan Barat, demikian istilah yang sangat tepat yang dicetuskan kepala Organization of African Unity. World Health Organization memperkirakan bahwa sebelas juta anak meninggal saban tahun di negara-negara berkembang, sebuah tindakan genosida diam-diam yangbisa segera diakhiri jika sumber daya digunakan untuk kebutuhan rakyat banyak, alih-alih untuk memperkaya segelintir orang.
            
Kebusukan politik ekonomi yang dijalankan oleh AS dengan Kapitalisme nya itu pula yang disampaikan oleh seorang Economic Hit Man (EHM), Jhon Perkins dalam bukunya Confenssion of an Economic Hit Man :

“Apakah ada seseorang di Amerika Serikat yang tanpa dosa? Walaupun mereka yang berada di puncak piramida ekonomi memperoleh yang paling banyak, berjuta-juta dari kami bergantung- baik secara langsung maupun tidak langsung- pada eksploitasi negara-negara terbelakang untuk mata pencarian kami. Sumber daya dan tenaga kerja murah yang memberi makan hampir semua bisnis kami berasal dari tempat-tempat seperti Indonesia, dan sangat sedikit yang dikembalikan ke sana. Pinjaman bantuan luar negeri memastikan bahwa anak-anak hari ini dan cucu mereka akan dijadikan sandera. Mereka akan harus membiarkan korporasi kami menjarah sumber daya alam mereka dan akan harus mengorbankan pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial yang lain hanya untuk membayar kami kembali. Fakta bahwa perusahaan kami telah menerima sebagian besar uang ini untuk membangun pembangkit tenaga listrik, bandar udara, dan kawasan industri tidaklah diperhitungkan ke dalam rumusan ini. Apakah alasan bahwa kebanyakan orang Amerika tidak tahu akan hal ini merupakan ketidakberdosaan? Tidak tahu dan sengaja memberikan informasi yang salah, ya-namun tanpa dosa?”

Keberpihakan yang timpang dalam hal ekonomi memang telah menjadi stuktur ekonomi global ala Kapitalisme yang dirancang untuk kepentingan dan kebutuhan korporasi dan lembaga keuangan internasional, beserta beragam sektor yang melayani mereka, kebanyakan orang menjadi sia-sia.
            
Kegagalan ekonomi kapitalisme ini sudahlah sangat parah. Itu pula yang disampaikan oleh Stiglitz dalam tulisannya, The Globalization of Protest :
“…perasaan bahwa sistem sekarang telah gagal, dan keuakinan bahwa bahkan dalam suatu demokrasi, proses electoral tak akan bisa membetulkan kesalahan…para pengejar rente (rent seekers) kaya menggunakan kekayaan mereka untuk memperngaruhi legislasi demi melindungi dan meningkatkan kekayaan mereka (yakni para pemrotes itu) benar, memang ada yang salah dengan sistem kita.”


Khatimah

Inilah sejatinya praktik politik busuk ala Kapitalisme yang tidak sama sekali berpihak pada rakyat. Kalaupun muncul kebijakan yang terkesan ramah, sejatinya bukan lah untuk rakyat. Praktik busuk akibat cara pandang Kapitalisme ini memang menjadi ‘borok’ yang harus segera diamputasi dan dibuang. Tidak hanya dalam urusan politik, ekonomi, pemerintahan, dan sebagainya. Namun cara pandang Kapitalisme sebagai sebuah sistem kehidupan yang seharusnya dicampakan dan dibuang segera. Meminjam istilah Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani terkait teori kemunculan partai politik yang benar, maka untuk memunculkan suatu pandangan politik yang benar ditengah-tengah masyarakat tanpa adanya sikap ‘anti politik’ maka wajib bagi kita tuk menyiapkan kondisi politik yang benar pula, termasuk cara pandang dalam berpolitik yang benar. Melihat realitas masih berdiri tegaknya Ideologi Kapitalisme sebagai sistem perpolitikan, yang secara gamblang telah menyebabkan kerusakan yang nyata, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencampakkan dan membuang Ideologi Kapitalisme sebagai sebuah sistem. Kemudian menggantinya dengan cara pandang politik yang bersumber dari Tuhan, yaitu Ideologi Islam [].

Wallahu a’lam Bishowab
  
Sumber :
-          How the World Works karya Noam Chomsky
-          Demokrasi, Ekspor Amerika Paling Mematikan karya William Blum
-          Takatul Hizbi karya Syiakh Taqiyuddin an-Nabhani
-          Confenssion of an Economic Hit Man karya John Perkins
-          Data BPS per April 2016
-          Online Cambridge Dictionary http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/politics
-          Online Quotes https://www.goodreads.com/quotes/541442-the-worst-illiterate-is-the-political-illiterate-he-doesn-t-hear


You Might Also Like

0 comments