KAPITALISTIK, sebuah Distingtif Keberpihakan #11


Hegel dalam pandangannya tentang kolonialisme Eropa, menurutnya bahwa secara historis hal tersebut penting dan bisa dijustifikasi jika seseorang hendak menyebarkan rasionalitas dan penghargaan tinggi dari modernitas Barat untuk peradaban lain di dunia (Joel S. Khan dalam Kultur, Multikultur, Postkultur : Keragaman Budaya dan Imperialisme Kapitalis Global). Melihat pandangan Hegel, membuat kita paham bagaimana pandangan nya terhadap proses kolonialisme yang dijalankan oleh bangsa Eropa terhadap bangsa lain nya.

Aplikasi penyebaran ide kolonialisme ini menjadi semakin menarik ketika memperhatikan terjadinya sebuah distingtif. Bagaimana perbedaan sikap Hegel terhadap Filsafat India dan Filsafat Indian. Memang Filsuf Jerman sedikit banyak terpengaruhi dengan Filsafat India yang menurut mereka, "statis, irrasional, dan primordial" sehingga yang terjadi, Hegel pun bisa dibilang meng-amini dan mencoba mensintesis kan filsafatnya dengan Filsafat India. Namun, hal ini berbeda dengan tanggapan dia tentang pemikiran indian, bahkan dia menggelari nya dengan, "Ketinggalam zaman, lebih sederhana, dan tidak sempurna". Secara jelas, Hegel telah melakukan pembedaan.  

Proses distingtif yang dilakukan Hegel, akhirnya kita melihat dengan jelas, siapa yang dikoordinasikan dan disubordinasikan. Perlakuan yang berbeda terhadap suatu bangsa, namun tetap dengan semangat ‘kolonialisme’ yang sama. Hal ini dapat kita lihat bagaimana proses distingtif tersebut diartikulasikan dalam semangat kolonialisme nya, dan secara nyata hasil nya saat ini terlihat, minimal dalam konteks kenegaraan yang eksis saat ini.

Tebang pilih, mencoba menerapkan apa yang menurut Machiavelli (Pencetus Negara Republik Pertama, dalam bukunya The Prince) inginkan, melalui cara politik, "Devide et Impera". yang akhirnya sering berjalannya waktu munucl idiom, “Tak ada kawan abadi, yang ada kepentingan sejati”, dan lagi-lagi bicara kolonialisme setali tiga uang dengan imperialisme yang menurut Ania Loomba berakar pada ekonomi, maka dari itulah watak asli Ideologi KAPITALISTIK yang berakar pada standar keuntungan semata!

Perjalanan Purwokerto-Cianjur
18 April 2017

**
Sumber :
1. Kultur, Multikultur, Postkultur : Keragaman Budaya dan Imperialisme Kapitalis Global, Karya Jhon S Khan.
2.  Kolonialisme/Neokolonialisme, Karya Ania Loomba.
3.  The Prince, Karya Niccolo Machiavelli. 
4.  Foto diambil dari google images

You Might Also Like

0 comments