Kelas Borjuis-Proletar dalam Pandangan Marx serta Pengaruhnya #12

Borjuis-Proletar sebuah istilah yang sudah umum diperdengarkan oleh gerakan-gerakan kiri. Bila melihat tipologi gerakan mereka, ini menjadi sebuah menu wajib untuk memberikan 'gebrakan politik' ala mereka. Salah satu filusuf yang mashur dikalangan mereka, adalah Marx, yang jua merupakan salah satu murid dari Filusuf Hegel, hingga tentu sedikit banyak dia terpengaruh dengan pemikiran sang guru dan 'Pengikut Hegel', yaitu Young Hegellian (Hegelian Muda).

Kritik Marx pada Modernitas akhirnya melahirkan sebuah teori emansipasi. Emansipasi yang tak lepas dari teori perbedaan kelas, Borjuis-Proletar. Marx melihat perlunya emansipasi kelas proletar terhadap borjuis dalam modernitas ini. Terlebih melihat konteks saat itu pada periode revolusi prancis terjadi, yang bertema besar, "Kebebasan Individu" yang diartikulasikan oleh para Filusuf Pencerahan bahwa individu adalah objek yang otonom, prasosial, sehingga perlu dilakukan konstruksi terhadap individu tersebut, dalam artian hanyalah menjadi sebuah yang artifisial.

Melihat apa yang disampaikan oleh para Filusuf Pencerahan, Marx pun berupaya memberikan arumen nya, terhadap apa yang disebut sebagai, kebebasan individu, menurutnya :
"Membebasakan individu bukanlah memberikan kebebasan berekspresi untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, tetapi sekedar mengangkat para individu yang teralienasikan dari 'spesies' atau dunianya, untuk berkompetisi, menundukan lawan-lawannya".

Kemudian dalam dalam mengejawantahkan arti sebuah kebebasan individu tersebut akhirnya, dia menemukan alat emansipasi alternatif di dalam kelas proletar, bahwa sebuah kelompok di dalam masyarakat sipil yang kepentingan emansipasi unversial sesuai dengan kepentingan mereka. Hingga Marx memberikan kritik pertamanya terhadap pemikiran modern mengenai kemerdekaan yang ada sebagai ganti, malah hampir sepenuhnya berisikan tentang ide bahwa uang, pasar, pertukaran, kmoditas, dan karena itu individualisme sebagai kompetisi bagi kepentingan individu yang merepresnetasikan kekuatan utama yang mengalienasi di dalam masyarakat modern. Hingga aplikasi teori tersebut ranah politik Marx berpendapat, : "Kuasa tertinggi bagi kebutuhan praktis dan individualisme adalah uang".

Tak cukup sampai disitu, pengaruh nya pun akhirnya berdampak pada tatanan sosial-kemanusiaan, dia menyatakan :
"Manusia membebaskan dirinya secara politik dari agama dengan menyingkirkan dari ranah publik dan menjadikan nya sebagai hak pribadi. Agama tidak lagi sebagai spirit negara yang dijalankan oleh manusia, sebagai sebuah spesies yang hidup di dalam komunitas dengan pihak lain sekalipun di dalam cara yang terbatas dan di dalam bentuk paritkular dan ruang yang khusus: agama menjadi spirit masyarakat sipil, ranah egoisme, bellum omnium contra omnes ('perangnya masing-masing orang melawan setiap orang). Intinya tidak lagi di dalam masyarakat, melainkan di dalam perbedaan. Ini menjadi ekspresi terpisahnya manusia dari akal sehatnya (common sense), dari dirinya sendiri dan dari orang lain, sebagaimana sejak awalnya"

Hingga akibatnya aplikasi pandangan Marx dalam persoalan emansipasi proletar-borjuis, tak kan pernah berhasil. Kelas tersebut tidak dapat mengatur diri mereka sendiri. Para anggotanya butuh aliansi dengan komunitas yang lebih tinggi untuk menjauhkan mereka dari upaya memperkaya diri yang tanpa batas sebagai tujuan, yang malah bisa merusak masyarakat sipil itu sendiri.

Pandangan Marx tentang emansipasi kelas, yang akhirnya tak jauh berbeda dengan pandangan Para Kapitalis (Ideologi Kapitalisme) dengan semangat Imperialisme nya, untuk terus memperkaya diri, pun dengan padangan ke-agama-an yang sedikit mirip yaitu pemisahan agama dari kehidupan (sekulerisme), walau dalam khazanah pemikiran kiri ada beragam pandangan terkait tentang Agama, walau semua berujung pada teori yang Menurut, Weber, "Agama adalah produk Kebudayaan". Sebut saja salah satunya Nietzche yang menyatakan, "Tuhan telah mati".

Akhir kata, maka lihat relalitas pandangan tersebut, cukup menurut hemat saya, untuk kita tidak terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran 'sampah' tersebut, terlebih kita sebagai Muslim, sudah diberikan sepaket tata aturan yang komprehensif tentang kehidupan, dan satu hal yang perlu kita camkan dalam diri, sebuah Hadits. Sabda Rasulullah Saw, “Islam itu tinggi dan tiada yang melebihi ketinggiannya”!

Bogor, 21 April 2017

**
Sumber :
1.      Kultur, Multikultur, dan Postkultur: Keragaman Budaya dan Imperialisme Kapitalisme Global, Karya Jhon S Khan.
2.      Sosiologi Agama, Karya Max Webber.
3.  Foto diunduh dari http://gerakanaksara.blogspot.co.id/2016/04/borjuasi-kelas-yang-berhasil-dalam_17.html

You Might Also Like

0 comments