Menyoal tentang Buruh dan Kaitannya dengan Sistem Ekonomi #13

May Day atau Hari Buruh Internasional yang ‘dirayakan’ setiap 1 Mei memang sudah menjadi akan pengingat perjuangan kelas buruh. Walau saya lebih senang, mengistilahkan kata ‘buruh’ dengan kata, “pekerja”. Ternyata, sudah sejak tahun 1980 dulu dicanangkan. Isi tuntutan yang tak jauh berbeda, tuntutan akan kesejahteraan dan kehidupan yang layak, serta berbagai jaminan sosial. Tuntutan yang saya rasa, tak pernah berubah ini, bukan tak bersebab. Justru, memang sedari awal hingga sekarang, tak ada perubahan yang berarti dari apa yang mereka aspirasikan. Pekerja masih menjadi kelas yang terpinggirkan, bekerja siang-malam tanpa henti, tereksploitasi, dan miris nya dengan upah yang tidak sesuai dan berbagai kejadian penganiyaan baik secara verbal maupun fisik.   
Ada studi klasik menarik dari ahli sejarah buruh terkemuka, David Montgomery, dalam studi yang berjudul “The Fall of The House of Labor”, dituliskan, “Dominasi korporat dalam kehidupan masyarakat Amerika tampak aman…Rasionalisasi bisnis kemudian dapat dilanjutkan dengan dukungan utama pemerintah sebagaian besar dikuasi oleh sektor swasta” berkat hal tersebut, akhirnya menyebabkan sejarah buruh di Amerika penuh dengan kekerasan. Bahkan, Lindholm dan Hall dalam kajian nya yang berjudul, “Is the United States Falling Apart?” menyimpulkan betapa “kematian akibat kekerasan terhadap buruh terjadi di Amerika Serikat pada abad ke-19 lebih banyak-baik dari jumlah maupun proporsinya terhadap besaran polulasi-ketimbang negara lain, kecuali Rusia pada era Tsar”.
Ternyata, Adam Smith pernah mengistilahkan nya, “Semua untuk kita sendiri, tidak tersisa apa-apa bagi orang lain” setelah dia menganalisis kondisi Para Saudagar dan Pemilik Pabrik di Inggris pada zamannya. Kondisi dimana para pemilik modal yang bercokol dalam korporasi pasti lebih mementingkan diri mereka sendiri. Bahkan parah nya, tidak akan mereka sisakan untuk orang lain. Tentu, salah satunya adalah para buruh. Ketamakan itu akhirnya benar terjadi. Fry dan Kochhar dalam kajian nya, “America’s Wealth Gap Between Middle-Income and Upper-Income Families Is Widest on Record” menyatakan, “kekayaan dapat diakumulasikan hingga melampaui imajinasi ketamakan mereka, Dalam satu decade terakhir, 95% pertumbuhan ekonomi masuk ke kantong 1% populasi”. Kondisi Buruh yang sudah sebegitu ‘mengenaskan’ nya, ternyata diperparah dengan kebijakan jaminan sosial yang buruk dan jauh dari keadilan. Hal ini menjadi penggenap akan penderitaan yang sudah menimpanya.
Buruh sebagai kelas yang turut berkontribusi terhadap perekonomian suatu bangsa, ternyata tidak mendapatkan balasan yang sesuai. Ketika ditarik pada akar permasalahan nya. Sampailah pada penyakit utama yang menjangkiti nya, yaitu sistem ekonomi liberal, walau saat ini sudah bergeser pada term neoliberal. Istilah yang sering diperdengarkan oleh kalangan ekonom liberal, “laissez-faire” memang menjadi sebuah sihir yang mematikan menurut Noam Chomsky. Berlepasnya pengontrolan terhadap ekonomi, yang dimana negara hanya menjadi ‘wasit’. menyebabkan hal tersebut sangatlah jauh dari keadilan. Noam Chomsky menuturkan, “Most of economy is dominated by massive corporations with tremendous control over their markets and that therefore face precious little competition of their sort described in economic textbook and politican’s speeches”. Walau buruk tetap saja hal tersebut dilakukan.
Meminjam kalimat Krugman, “Argued that bad ideas flourish because they are in the interest of powerful groups, with doubt that happens”. Mereka yang kuat, mereka yang menentukan. Neoliberalisme ini sejatinya sedang menerapkan hukum rimba, “siapa kuat, dia yang menang. Terlebih, ‘hukum rimba’ ini makin diperparah dengan pergumulan antara negara dengan para pengusaha. Sudahlah tidak adil, ditambah adanya tendensi ketidakadilan pula!
Maka, melihat realitas seharusnya kita semua paham. Bahwa, sistem ekonomi yang berakar pada sebuah dogma besar, ‘sekulerisme’ telah sempurna mencekik kita semua, terlebih kaum buruh. Ketidak merdeka-an manusia ini memang menjadi suatu yang perlu kita sadari. Disamping itu pula, kiranya kita perlu menuntut ketidak merdeka-an ini. Kita perlu melihat bagaimana membebaskan diri ini. Sejatinya, pembebasan hakiki terhadap terhadap kesewenang wenangan dan kebodohan, serta ketidak merdeka-an ini, hanya dapat ditemukan dalam Ideologi Islam. Meminjam kalimat Syaikh Taqiyuddin An Nabhani, tentang ari kemerdekaan dalam Islam, “Kemerdekaan sejatinya adalah membebaskan penghambaan dari segala makhluk, menuju penghambaan hanya kepada Al-Khalik, semata!”
Singkat kata, “Jayalah Buruh, jayalah dengan Islam! We Stand on your side!”

Purwokerto, 1 Mei 2017

You Might Also Like

0 comments