Antara Akal, Manusia, dan Kebenaran #19


De omnibus dubtantum!
Segala sesuatu harus diragukan (Rene Descartes)

Namun segala yang ada dalam hidup ini dimulai dengan meragukan sesuatu, bahkan Hamlet si peragu, yang berseru kepada Ophelia dalam serangkaian cerita William Shakespeare :
Doubt the the stars are fire;
Doubt the sun doth move;
Doubt truth to be liar;
But never doubt I love.

Ternyata, kebenaran itu adalah penyataan tanpa ragu!
***

Mungkin, kalo teman-teman, pernah mengkaji bahasan, Uqdatul Qubro, mungkin mirip dengan bahasan diatas, kemiripan nya terletak pada bahwa kebenaran atau dalam term Islam adalah Aqidah, diawali dari proses keraguan, dalam artian non doktrinasi.
1. Dari mana kita berasal?
2. Untuk apa kita didunia?
3. Mau kemana kita setelah kehidupan dunia?

Menurut, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya, Nidzhomul Islam; Syakhsiyah Islamiyyah Jilid 2. Untuk menjawab 3 pertanyaan tersebut, kita memerlukan yang namanya proses berpikir. Yaitu berpikir menyeluruh tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan, serta apa-apa yang ada sebelum dunia, serta setelahnya, dan hubungan antara ketiganya.

Berpikir untuk mendapatkan kebenaran yg benar (the truth) hanya dapat dilakukan dengan proses berpikir. Ternyata, kalau saja kita merenungi isi ayat Al-Qur'an, berapa banyak ayat yang mengajarkan kita untuk berpikir, semisal, "Laalakum tatafakaruun". Dalam ayat lain, Allah swt, menyampaikan, "Inna khalaqnal insana fi ahsani taqwiim". Lalu, kalo kita mau berpikir sedikit (kalo mau berpikir yah), memangnya apa yang membedakan secara fundamental manusia dengan binatang? Tidak lain dan tidak bukan karena pemberian allah swt, yaitu akal, tentunya untuk berpikir.
Jadi, kalau memang ingin menjadi "khalaqnal insaan" secara utuh, kita perlu untuk memfungsikan pemberian Allah Swt ini, yaitu akal untuk berpikir, terlebih berpikir untuk menyibakkan tabir kebohongan untuk mencari kebenaran itu, akhirnya.

Termasuk dalam memahami Al-Qur'an dan perangkat lain yang Allah Swt turunkan. Namun sekali lagi, bila dalam memahami perangkat tersebut tidak menggunakan proses berpikir, maka akan kacau balau. Coba lihat, bagaimana mungkin proses ijtihadi itu dijalankan, namun tidak dengan proses berpikir?

Kalo, kata Rene Descartes, "Aku Berpikir, Maka Aku Ada".

Jadi, bila kita sebagai manusia, terlebih sebagai seorang muslim tapi tidak mau berpikir, lalu apa bedanya dengan binatang dan makhluk lain? Kata Allah Swt, bahkan dibandingkan dengan hewan ternak, mereka itu, 'Balhum Adhal!'.

Purwokerto, 24 Mei 2017

==
*Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Purwokerto

You Might Also Like

0 comments