Dunia yang Terbalik, Kembalikan Segera pada Islam #14

Melihat rentetan berita yang akhir-akhir ini menghiasi beragam kanal berita nasional, menimbulkan berbagai pertanyaan dalam diri. Meskipun, disisi lain, berita luar negeri, masih cukup menarik dan heboh pula. Namun, disini setidaknya kita bisa melihat berita-berita yang menghiasi layar kaca maupun media sosial, akhirnya membuat kita bertanya, “Benar kah kita sedang mengikuti berita atau kah tayangan sinetron ber episode-episode?”. Suguhan berita yang sejatinya tidak akan lepas dari framing penulis namun terlepas dari itu sungguh terlihat sangat apa yang kami katakan sinetron itu. 

Rentetan berita yang cukup menarik tuk kita perhatikan adalah terkait sikap pemerintah terhadap sesuatu. Sikap pemerintah yang cukup menarik perhatian menurut saya, adalah bagaimana sikap pemerintah terhadap muslim radikal. Muslim radikal yang dimaksudkan disini adalah tentu dengan definisi rezim saat ini. Setidaknya, rentetan kejadian dimulai ketika Gubernur DKI Jakarta saat itu (Ahok), melakukan penistaan Al-Qur’an, sebagai counter opini tentang #harampemimpinkafir yang digaungkan oleh DPD I HTI Jakarta. Mulai lah rentetan itu benar-benar dimulai. Efeknya bisa dibilang sensasional. Aksi Bela Islam Satu hingga Empat, digelar, dengan ribuan bahkan jutaan pendemo. Memasuki tahun 2017, publik kembali diributkan dengan kemandulan hukum terhadap proses hukum pada Si Penista Agama, Ahok. Hal tersebut disusul dengan sikap represif nya rezim terhadap Aksi dan kegiatan rutin di bulan rajab yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) diberbagai daerah. Kegiatan yang tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Semua rentetan kejadian, memperlihatkan pada publik, bahwa rezim saat ini tidak dipihak Kaum Muslim, setidaknya menurut kamus rezim saat ini adalah Muslim Radikal. 

Kriminalisasi, stigma, bahkan tendensi buruk terus dilakukan oleh rezim saat ini. Disamping itu, pencitraan lagi-lagi menjadi obat ampuh menurut mereka. Bagaimana tidak, sikap rezim yang tidak pro Umat Islam ini, akhirnya memang meyulut ketidak percayaan terhadap rezim dan perangkat-perangkatnya. Namun apa daya, nasi telah menjadi bubur, ketidak percayaan Umat Islam sudah kadung terjadi dan faktanya semakin menguat. Hingga akhirnya, beberapa waktu yang lalu di salah satu, forum nasional, Kapolri, berucap, yang intinya

“Percaya lah terhadap Pemerintah dan dukung terus pemerintah…”

Entah, apa ini mengindikasikan, pemerintah mulai memahami kondisi yang ada ditengah masyarakat atau kah mereka sedang menghimpun kekuatan untuk melawan arus besar ini. Disisi lain, sikap pemerintah yang tidak pro Umat Islam ini, diperparah dengan sikap otoriter dan represif pemerintah terhadap Umat Islam. Akhirnya, genap lah sudah, ketidakpercayaan Umat Islam terhadap rezim saat ini.  

Sikap yang coba dibangun oleh rezim saat ini patut kita renungi dan dalami. Ternyata sikap yang saat ini dijalankan oleh rezim saat ini, sejalan dengan pandangan politik seorang pencetus politik sekuler di dunia modern, Niccolo Machiavelli. Menurutnya, pada hakekatnya seorang penguasa haruslah memperlakukan warganya dengan benar, dan ‘benar’ disini adalah dalam kerangka berpikir untuk mencapai tujuan si penguasa. Baginya,

“Jika pemimpin tidak bisa menjadi sosok yang disegani sekaligus dicintai, maka akan lebih baiklah jika ia hanya menjadi sosok yang disegani oleh rakyatnya dalam menegakkan prinsip-prinsip nya” 

 lebih lanjut dia mengatakan,

“Orang lebih khawatir mencederai orang lain yang ia segani daripada orang lain yang ia cintai, Ikatan berdasarkan cinta bisa dengna mudah dipatahkan jika orang memiliki alasan untuk melakukannya, namun ikatan berdasarkan rasa segan yang diperkuat dengan hukuman yang menakutkan, biasanya akan lebih efektif”.  

Bahkan dalam buku nya, The Prince dia mengutip sebuah perkataan Hence Virgil, dikatakan, :

“Res dura, et regni novitas me talia cogunt Moliri, et late fines custode tueri”

Artinya “…Bertentangan dengan kehendakku, takdirku-tahta kosong, dan sebuah negara yang baru lahir-Minta aku mempertahankan kerajaanku dengan segala kekuatanku-Dan menjaga pantai-pantaiku dengan segala bentuk kekerasan ini..” 

Sikap otoriter dan represif rezim terhadap warganya semata-mata demi tercapainya tujuan penguasa merupakan resep yang ternyata tlah dicetuskan sejak dulu. Bahkan, rezim tidak perlu tuk dicintai yang terpenting baginya adalah ‘ketaatan semu’ akibat sikap otoriter dan represif itu. Disamping sikap otoriter dan represif itu, praktek pencitraan pun tak luput dari strategi ampuh untuk memuntulkan kecintaan semua itu. Sejalan dengan itu, ternyata itu pula yang Machiavelli sampaikan,
“Untuk mendapatkan pengahargaan dan penghormatan, seorang pemimpin harus siap memanipulasi warganya” 
dalam artian kebohongan adalah suatu keniscayaan yang ‘diperbolehkan’ bahkan hukumnya menjadi wajib. Lebih lanjut lagi, menurutnya,

“semua usaha sang pemimpin ini, walaupun dilakukan dengan memanipulasi rakyatnya, pada akhirnya akan membawa kehormatan terhadap pemimpin itu sendiri, serta kepercayaan rakyatnya, terutama mereka yang sebenarnya menentang pemimpin itu”.  

Sikap ‘menyerang dan bertahan’ yang dilakukan oleh rezim saat ini, sangatlah terlihat dan apa yang saya katakan diawal, sebagai ‘sebuah sinetron’ terlihat sangat. Cara ‘menyerang dan beratahan' yang direproduksi oleh rezim bahkan sudah terlihat sangatlah bodo. Logika adhominem yang dipaksakan oleh rezim, sikap menutup-nutupi yang seakan-akan tidak tahu, serta yang terparah adalah keterpaksaan yang berujung pada kebodohan akut sebagai negara hukum membuat akal sehat pun tidak dapat mencerna lagi, apa sebenarnya yang mendasari cara berpikir rezim dalam menyerang dan bertahan itu.

Meminjam perkataan Friedrich Schiller, :
“Mit der dummheit kampfen Gotter selbt vergebens”
Artinya, “Dengan kebodohan, bahkan para dewa pun berjuang dengan sia-sia”

Memang sikap rezim yang secara telanjang menunjukan kebodohan ini, akhirnya hanya berujung pada kesia-sia an belaka. Contoh sederhana yang setidaknya menggambarkan hal tersebut, lihatlah bagaimana ‘ringsek’ nya, media official Humas Polri diberondong hujatan disetiap postingan nya yang bergaya, ‘menyerang dan bertahan’ itu. Serta kejadian-kejadian lain nya. Ternyata, sikap itu sama sekali tidak menjadikan rezim ini kembali ke ‘khittah’ nya. Justru yang terjadi malah sebaliknya. 

Kiranya kita merenungi perkataan Aime Cesaire dalam bukunya, Discourse on Colonialism, dia mengatakan :

“Suatu peradaban yang ternyata tidak mampu menyelesaikan masalah-masalah yagn diciptakannya adalah peradaban yang dekaden. Suatu peradaban yang menutup matanya terhadap masalah-masalahnya yang paling penting adalah peradaban yang lumpuh. Suatu peradaban yang menggunakan asas-asas nya untuk menipu dan mengelabui adalah peradaban yang sekarat…”

Sikap rezim yang otoriter dan represif terhadap ‘penentang dan pengkritik’ yang sejatinya menginginkan sebuah keadilan dan kebaikan negeri ini, serta aktivitas pencitraan yang dilakukan rezim demi memperbaiki citra buruk yang sejatinya buruk ternyata terus menerus direproduksi oleh rezim saat ini. Nyatanya, berbagai kejadian itu bersumber pada satu hal. Rezim saat ini sedang berusaha menjalankan prinsip-prinsip nya yang dianggap ‘benar’. Prinsip yang dianggap benar ini tidak lain bersumber pada pandangan dalam politik kapitalisme-sekulerisme, yaitu hanya untuk kepentingan semata. Demi tercapainya kepentingan penguasa, akhirnya rakyat dikorbankan dan dijadikan sapi perah. Terlebih, praktik kapitalisme global ini, tidak dapat dilepaskan dari posisi negara kita sebagai negara dunia ketiga, dimana praktik kapitalisme global sangat kuat dengan kekuatan korporasi multinasional. Maka, sikap rezim ini sejatinya merupakan cerminan praktik politik ala kapitalisme yang berasaskan pada paham sekulerisme. Oleh karena itu, untuk mengembalikan ‘dunia yang terbalik’ ini, tak ada cara lain, kecuali dengan kembali pada Islam sebagai tata aturan yang tlah diturunkan oleh Allah Swt! 



Purwokerto, 3 April 2017


**
Sumber :
1. Sang Pangeran. Karya Niccolo Machiavelli.
2. Kolonialisme/Postkolonialisme. Karya Ania Loomba.
3. Who Rules The Worlds. Karya Noam Choamsky.
4. Demokrasi : Ekspor Amerika Paling Mematikan. William Blum. 

You Might Also Like

0 comments