Engineering Consent ala Penguasa Kapitalis #20


“These explanation capture the real meaning of the doctrine of ‘consent of the governed’. The people must submit to their rules, and it is enough if they give consent without consent. Within a tyrannical state or in foreign domains, force can be used. When the resources of violence are limited, the consent of the governed must be obtained by the device called ‘manufacture of consent’ by progressive and liberal opinion”.
Noam Chomsky, “Profit Over People : Neoliberalism and Global Order”

Dewasa ini, kita mengenal dalam teori hubungan antara masyarakat-industri, ‘control the public mind’. Suatu proses dimana industri perlu mengontrol keinginan masyarakat, tak lain demi tujuan ekonomi. Berkaca pada hal tersebut, ketika kita melihat prilaku pemerintah (penguasa) saat ini, secara jelas memang demikian adanya. Terlebih, memahami asas kenegaraan saat ini, berpangkal pada paham kapitalisme-sekulerisme. Akhirnya, negara sebagai ‘entitas pelayan’ menjelma menjadi ‘mesin penghasil uang’ sekaligus sebagai ‘wasit’. Bagaimana teori, “Laissez-faire” dipraktekan dalam praktek kenegaraan yang  pada akhirnya, mengilhami, bentuk baru negara, yaitu ‘korporatokrasi’ negara yang bekerja sebagaimana sebuah perusahaan, yang hanya mengejar keuntungan demi keuntungan belaka.

Wilsonian Idealism, dalam teori praktek control the public mind, “Elevated ideals : is needed to preserve stability and righteousness”. Walter Lipmann dalam esai nya menuliskan, “Minoritas intelegent merupakan kelas spesial, yang bertanggungjawab dalam pengaturan peraturan dan formasi dari opini masyarakat”. Dia melanjutkan, “Masyarakat harus ditempatkan pada ‘tempatnya’, fungsi mereka hanya sebagai spektator bukan partisipan, yang dibutuhkan secara periodic ketika pemilihan penguasa”. Bahkan, Edward Bernays menuturkan, “Manipulasi intelligent untuk mengontrol kebiasaan dan opini masyarakat merupakan elemen yang penting dalam masyarakat demokrasi”, bahkan menurutnya, “untuk mencapai tujuan essensial tersebut, minoritas intelligent wajib menggunakan propaganda secara terus menerus dan sistematis”. Akhirnya, arti kepemimpinan dalam negara ‘korporatokrasi’ dapat didefinisikan sebagai berikut, “The leadership can regiment the public mind every bit as much as an army regiment the bodies of its soliders”. Tanpa terasa, itulah sejatinya yang menurut Noam Chomsky, “engineering consent”.

Proses, “engineering consent” yang dijalankan oleh negara ‘korporatokrasi’ tentu merupakan hal yang wajar dalam kacamata, paham kapitalisme-sekulerisme. Penjelemaan perusahaan dalam bentuk negara tentu memiliki tujuan yang jelas, yaitu kolonialisme dan imperialisme. Namun, pemerintah Dunia Ketiga yang sedang menjalankan “engineering consent” bukanlah actor utama. Mereka hanyalah patron dari Para Kapitalis Global.  Memang dalam negara korporatokrasi yang bersumber dari paham kapitalaisme-sekulerisme, memerlukan ‘engineering consent’ sebagai bentuk pembungkaman suara dan opini yang bersebrangan dengan political will penguasa serta menganggu keinginan pemerintahan.

Pemahaman terkait proses ‘Engineering Consent’ perlu tuk kita miliki. Mungkin, bila menilik teori post-modernism yang mencoba menafikan, ‘metanaratif/grandnaratif’. Nyatanya, negara ‘korporatoktrasi’ dalam postmodernism saat ini, mengalami ke-gegar-an, dikarenakan secara sadar mereka sedang menjalankan, ‘narasi tunggal’ pula. Maka, untuk melawan ke-gegar-an mereka, satu hal yang kita perlu pahami adalah apakah opini yang sedang berhembus saat ini merupakan ‘Engineering Consent’ ala penguasa atau kah bukan. Bila iya, maka kita perlu berhati-hati dan mencoba mengungkap secara detil apa yang sebenarnya dilakukan serta diinginkan penguasa. Kesadaran ini lah yang dinamakan, dengan kesadaran politik. Bagaimana kita menjadikan cara pandang khas yang terpancar dari sebuah Ideologi sebagai pisau bedah sosial (psikoanalisis) atas beragam kejadian politik saat ini. Dan, sebagai seorang Muslim, psikoanalisis yang wajib digunakan adalah hanya Ideologi Islam, tidak hanya sebagai bentuk dari keimanan, namun itu juga merupakan sebuah kebutuhan yang  ditengah belantara pembodohan ala Ideologi Kapitalisme saat ini.

Wallahu’alam Bishowab

Purwokerto, 25 Mei 2017

==
*Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Purwokerto

You Might Also Like

0 comments