HANTAMAN PERANG PEMIKIRAN #18


Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia Belanda yg sudah berabad-abad umurnya. Namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja Medan Prijaji. Dengan koran ini, Minke berseru-seru kepada rakyat Pribumi tiga hal: Meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Mingke berseru-seru: "Didiklah rakyat dengan berorganisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan"
(Jejak Langkah, karya Pramoedya Ananta Toer)

Pembredelan ormas Islam sejatinya dikarenakan tidak sesuainya dengan cara pandang rezim (bc : Kapitalistik), merupakan tanda kekalahan rezim fasis saat ini. Terlebih, pemaksaan yang sangat prematur menemani jalan nya fasisme itu. Disisi lain, ini sejatinya merupajan tanda ketakutan dan kegetiran rezim saat ini, termasuk para kapitalis yang menjadi operator sesungguhnya. Para kapitalis tentu paham, bahwa perlawanan pemikiran yang dilancarkan ormas-ormas Islam, khususnya HTI tentu akan menjadi batu sandungan, bahkan menjadi loceng kehancuran bilamana ide-ide ajaran Islam kaffah ini diterima oleh rakyat. Maka, bagi rezim fasis ini, hanya dengan pembredelan ormas, setidaknya (asumsi rezim) dapat 'memperlambat' penyadaran masyarakat. Tidak hanya itu, bahkan rezim melakukan jurus mabuk, dengan melanggar uu yang sejatinya mereka sah-kan.

Melihat realitas hari ini, ketika edukasi masyarakat yg sudah sangat jauh dr 'pendidikan' yg seharusnya, maka mutlak dan penting tuk dilakukan. Terutama pendidikan dalam bentuk penyadaran bahwa Islam adalah tidak hanya sebagai agama ritualistas belaka, namun juga sebagai Ideologi. Islam sebagai ideologi dikarenakan terdapat pranata-pranata, berbagai subsistem dan instrumen yang sudah diatur dalam Al-Qur'an, As Sunnah, Ijma' Sahabat, dan qiyas Syar'i. Terlebih, ditengah pelbagai krisis multidimensi yang menjerat dan mencekik rakyat.

Bila meminjam perkataan minke, melawan Hindia Belanda saja diperlukan perlawanan pemikiran, apalagi tuk melawan segala daya upaya rezim fasis sebagai yang sejatinya adalah patron kaum kafir barat dalam menghalau penyadaran akan kewajiban dan keurgenan penerapan syariah & penegakkan khilafah.
Meminjam falsafah jawa,"Rawe-Rawe Rantas Malang-Malang Putung"(Maju tak gentar, pantang mundur)

Maka, sampai kapanpun, perang pemikiran dengan hantaman yang KERAS harus terus dilakukan. Bahkan, dalam kondisi sulit sekalipun.
Wallahu'alam bishowab.

Purwokerto, 21 Mei 2017
==
*Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Purwokerto

You Might Also Like

0 comments