Menyoal Rencana Pembubaran HTI #16


Dalam diskursus Filsafat Barat tentu kita mengenal Karl Popper, seorang filusuf yg menolak keras paham postivisme logis, suatu paham yang dilahirkan dari lingkaran wina, dengan thesis K. Popper, kritisisme non-justifikatoris.

Namun saya disini tidak sedang membahas kritik dan komentar K. Popper terhadap positivisme logis. Ada sisi lain dari proses dialektis yang K. Popper lakukan. Sebagai seorang filusuf, K. Popper dikenal sebagai pejuang pemikiran terkait toleransi, namun meskipun begitu ia bahkan menolak bahwa kita harus selalu menerima apabila orang lain terus tidak toleran. Menurutnya, "Apabila toleransi mengizinkan tidak toleran (intoleran) terus menerus, maka toleransi sendiei berada dalam bahaya".
Dalam The Open Society and Its Enemies: The Spell of Plato, K. Popper pernah mengatakan bahwa toleransi tanpa batas mengilangkan toleransi itu sendiri. Apabila kita menggunakan toleransi untuk merangkul orang yang tidak toleran, tetapi tidak mempersiapkan suatu pembelaan terhadap masyarakat yang toleran melawan pembantaian dari orang yang tidak toleran, maka toleransi akan hancur dan orang toleran menjadi bagian dari yang intoleran.

Merenungi realitas yang terjadi di negeri tercinta ini. Beberapa kejadian memeperlihatkan secara telanjang, bahwa praktek yang dijelaskan oleh K. Popper akhirnya benar-benar terjadi. Penguasa sejatinya sedang menjalankan praktek toleransi yang intoleran. Kejadian, penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, pendiskreditan ulama, kriminalisasi simbol dan ajaran-ajaran Islam, hingga gaya represif antiislam yang diejawantahkan dalam rencana pembubaran ormas HTI oleh pemerintah yang (hanya) melalui pidato.

Gaya represif antiislam ini bukan hanya terjadi kali ini, hal ini sudah terjadi dari sebelum-sebelumnya. Terlebih, rencana pembubaran yang dilakukan oleh pemerintah ternyata tidak seusai prosedur yang dilegalisasi oleh pemerintah sendiri. Sungguh kejadian ini merupakan fakta kesekian kali kehipokritan yang dilakukan oleh penguasa. Terlebih, apa yang dituduhkan penguasa sebagai justifikasi rencana pembubaran sejatinya merupakan ajaran islam yang secara legal-formal diperbolehkan di hukum positif di negeri ini. Apakah penguasa menilai ajaran islam merupakan bentuk ke-intoleran-an?

Berbedaan sikap penguasa terhadap penista agama dan rencana pembubaran ormas HTI ini secara sejalas memperlihatkan bagaimana praktek intoleransi yang dilakukan oleh penguasa. Merangkul intoleran dan tidak merangkul, bahkan memukul serta membubarkan secara paksa orang-orang yang toleran. Maka, meminjam perkataan K. Popper, bila kejadian ini terus menerus direproduksi, tak ayal, sistem toleransi yang ada di negeri ini akan hancur sehancur hancurnya! Dan pelaku toleransi akan teralienasi menjadi seorang yang intoleran ala penguasa yang sejatinya intoleran!

#KamibersamaHTI
#KhilafahAjaranislam

Purwokerto, 11 Mei 2017

You Might Also Like

0 comments