DISKURSUS DEMOKRASI #21


Diskursus demokrasi memang sangatlah menarik. Setidaknya, bagi saya pribadi. Demokrasi sebagai sistem pemerintahan yang eksis saat ini, memang menyibakkan segala hal yg kontra terhadapnya sekaligus membenamkan suara-suara 'sumbang' tentang kegagalan sistem ini. Setidaknya, itu yang kita bisa lihat dewasa ini. Terlebih itu diakomodir secara sempurna oleh media mainstream. Lengkap sudah pengkerdilan itu.

Pembahasan demokrasi sebagai sistem pemerintahan menurut saya menarik ketika kita mulai menyelami dua buah karya peneliti barat. Pertama, Samuel P. Hunington dengan bukunya, "Clash of Civilization and Remaking of World Order" serta yang kedua, Francis Fukuyama dengan, "The End of History and The Last Man"-nya. Kedua thesis dari peneliti itu menarik, karena keduanya sama-sama memasukan peran, "Islam Fundamentalis" yang mengambil peran 'oposisi' terhadap thesis mereka. Walaupun bagi keduanya, Samuel P. Hunington maupun Francis Fukuyama, sitensa yang terjadi tetaplah, kemenangan Demokrasi Liberal.

Bagi Francis Fukuyama, proses dialektis sistem pemerintahan yang ada pada abad ke-20 akan berhenti dan dimenangkan oleh Demokrasi Liberal. Setidaknya, beberapa indikasi bahwa data statistik menunjukan peningkatan 'pengguna' sistem ini dari tahun ke tahun semakin meningkat. Tahun 1790, hanya tiga negara, AS, Swiss, dan Prancis, yang memilih demokrasi liberal. Tahun 1848, jumlahnya menjadi 5 negara; tahun 1900, 13 negara; tahun 1919, 25 negara; tahun 1940, 13 negara; tahun 1960, 36 negara; tahun 1975, 30 negara; dan tahun 1990, 61 negara. Hingga sintesa nya adalah, "the end of history" dengan "the last man"-nya adalah, "demokrasi liberal".

Thesis Francis Fukuyama ini menurut banyak pengamat sangatlah "debatable". Salah satunya, bila kita mencoba jeli sedikit saja, kita kan menemukan sintesis tersebut sangatlah prematur. Setidaknya, ada dua permasalahan. Pertama, ketika memahami hal fundamen dari liberalisme yang dipuja-puja oleh Francis Fukuyama, yang akhirnya memunculkan term, "dialektis" tersebut, kemudia dia memunculkan sintesis "the end of history" dengan berhentinya proses dialektis tersebut, tentu membuat kita berpikir ulang, "apakah ini yg dimaksud dengan proses dialektis??!!". Tentu ini melabrak hal fundamen dalam paham liberalisme, yaitu proses dialketika itu. Kedua, bila kita (hanya) melihat statistik diatas, lalu menyimpulkan trend nya positif dalam arti regresi linear kan tercapai, maka itu simpulan prematur. Tentu, tidak akan cukup dengam hal tersebut, kita perlu mendalami fakta sejarah yang ada, dan akhirnya kita menemukan bahwa, proses, "demokratisasi" yang dilakukan oleh US sebagai pengendali utama adalah sebuah pemaksaan. Proses yang lebih banyak dilakukan secara militerisme. Suatu hal yang paradoks memang. Proses demokratisasi yang (katanya) mengusung ide-ide kebebasan, tanpa kekerasan, pembebasan dari absolutisme dan utilitarianisme malah menggunakan upaya militerisme. Terlebih, melihat percaturan perpolitikan dunia, akhirnya kita melihat, banyak negara (terpaksa) mengambil demokrasi, terlebih isu santer yang digaungkan, "Di Dunia ini, bila tidak demokrasi ya absolutisme (represif)". Dan ketiga, mungkin pada periode penulisan, akhir 90an hingga awal tahun 2000an, fakta ini belum lah terungkap, bahwa banyak dari negara demokrasi sedikit banyak merasakan ketidak-humanis nya demokrasi liberal yang berakar dari paham kapitalistik ini. Bahkan suara penentangan ini muncul dari importir demokrasi, yaitu US dengan gerakan, "Captalisme Is Not Working" yang menentang aktivitas (hanya demi mereka, tidak untuk rakyat) para kapitalis yang sangat kentara dalam sistem demokrasi liberal. Terlebih, penentangan terhadap sistem yang sejatinya feodalistik ini, akhir-akhir ini muncul dari negeri-negeri Muslim. Kekecewaan berat ini muncul setelah proses yang dijanjikan tidak berjalan bahkan berbalik menyerang Umat Islam.

Sisi lain yang menarik yang kita dapati dalam tulisan Francis Fukuyama, adalah bahwa demokrasi liberal yang menurutnya sudah, "Final" ternyata adalah buah sekulerisme agama, khususnya yang dilakukan oleh Kaum Kristen Protestan di Barat. Francis fukuyama menyampaikan,

"Kristen dalam arti tertentu harus membentuk dirinya melalui sekulerisasi tujuan-tujuannya sebelum liberalisme bisa lahir. Agen sekulerisasi yang umumnya segera bisa diterima di Barat adalah Protestanisme. Dengan menempatkan agama sebagai masalah pribadi antata Kristen dan Tuhan, Protestanisme telah menghilangkan kebutuhan akan kelas pendeta yang terpisah, lebih luas lagi tidak ada juga kebutuhan akan intervensi agama ke dalam politik"

Bahkan Francis Fukuyama menggaris bawahi ada dua kelompok agama yang dapat menjadi 'penjegal' demokratisasi, yaitu Yahudi Orthodox dan Islam Fundamentalis. Bahkan, fukuyama menyebut keduanya dengan sebutan, "totalistic religions".

Itu pula yang disampaikan oleh Samuel P. Hunington sebelumnya, bahwa demokrasi sangatlah jarang terdapat di negeri-negeri dimana mayoritas besar penduduknya bergama Islam, Budha, atau konfusius. Bahkan menurutnya, ini merupakan sebuah korelasi sebab akibat.

"Namun, agama Kristen Barat menekankan martabat individu dan pemisahan antara gereja dan negara (sekuler). Di banyak negeri, pemimpin-pemimpin gereja Protestan dan Katolik telah lama merupakan sosok utama dalam perjuangan menentang negeri-negeri represif. Tampaknya masuk akal menghipotesakan bahwa meluasnya agama kristen mendorong perkembangan demokrasi"

Disisi lain, Samuel P. Hunington, juga sangat kental dengan diskursus pertentangan antar peradaban. Setelah kejatuhan Komunisme, maka lawan tunggal mereka hanya Islam. Pertentangan antara Barat dengan sepilis plus demokrasi-nya (sekulerisme, pluralisme, liberalisme dan demokrasi) melawan Islam dengan penghambatan secara total terhadap Allah Swt memang akhirnya meniscayakan pertentangan tersebut. Ini bukan seuatu yang dapat dihindarkan. Terlebih, fundamen antar keduanya berbeda secara diameteral. Barat dengan kebebasan nya, Islam dengan keterikatannya. Namun disini bukan berarti kita, sebagai umat islam menolak keseluruhan apa yang ada dari Barat. Tidak, itu juga tidak tepat. Namun, akhirnya kita perlu sangat dan benar-benar hati-hati dalam memilah dan memilih apa yang ada di Barat. Apakah tercampuri fundamen yang berasaskan sekulerisme atau kah tidak, bila iya, maka tak ada opsi lain selain membuannya, bila tidak maka boleh bagi kita untuk mengambilnya. Seperti itu pula yang sudah di sampaikan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, dalam bahasan Hadharoh wal madaniyyah.

Walau pertentangan Islam terhadap Barat belumlah mencapai puncaknya untuk saat ini. Namun, setidaknya kalimat jujur Samuel P Hanington, bahwa Islam adalah satu-satu nya peradaban yang pernah membuat Barat tidak merasa aman.

Khatimah

Bahasan terkait Demokrasi yang diusung oleh Barat selalu akan bertalian dengan bagaimana Islam memandang. Maka, patutnya bagi kita semua sedikit berpikir dan merenungi bahwa apakah demokrasi yang dielu-elu kan barat ini adalah kebaikan untuk Umat Islam ataukah sebaliknya. Maka, disitulah sejatinya kewajiban kita untuk mempelajarinya, memahami, seraya mengaplikasikan nya dalam kehidupan kita [].


Sumber :
1. Francis Fukuyama, The End of Hiztory and The Last Man.
2. Samuel P Hunington, Clash of Civilization and Remaking of World Order. 
3. Taqiyuddin An-Nahbani, Nidzhom Islam. 
4. Foto : https://www.haikudeck.com/equality-and-democracy-education-presentation-ykszpnrkYm


You Might Also Like

0 comments