CALON FARMASIS #24


Kata orang main ke pantai tanpa nyemplung itu gak afdhol, apalagi buat saya yang suka 'gak tahan' liat air. Pengennya nyemplung dan berenang. Maklum anak kampung yang kecilnya hampir setiap waktu 'ngojay' walau pasti balik-balik ke rumah kena marah sama umi-abi. Tapi, tetep aja namanya hobi berenang, gimana lagi? Ibarat vaccines kena marah gagara hal tersebut mah udah jadi 'memory' bagi saya. Gak ngaruh, maen mah lanjut aja. Eits tapi itu dulu, sekarang mah kagak. Maklum semakin berumur semakin 'sok sibuk'.

Tapi, ada berkah lain, walau gak nyemplung dan 'ngojay'--bahasa sunda bogor--.akhirnya bisa sedikit nyantai sambil baca beberapa jurnal review terkait vaccines dan imunology. Serasa kembali ke semester 3 dulu. Jadi ingat dosen-dosen matkul imunology, emang super-super dan ngenakin ngajar nya, setidaknya itu yang saya rasakan. Semoga kebaikanNya selalu tercurah untuk beliau semua. Kebetulan pula kemarin-kemarin ada diskusi ramai terkait vaccine. Cukup ngikuti juga sebenarnya saya, tapi emang gak komen banyak dan serius, malah banyak 'becanda' nya--maapkan saya cuma bisa ngerusuh--.

Saya dapati pembahasan menarik yang cukup komprehensif dan relatif tidak men-jlimet-kan--maklum lah, namanya saja artikel review, walau tetap pasti banyak istilah yang khas--dari beberapa artikel review di beberapa jurnal yang cukup kredible seperti Journal of Frontiers in Imunology, Journal of Nature, Journal of Global Infectious Diseases, Journal of Imunity, Journal of Imunology and Vaccines. Secara umum pembahasan pada artikel vaccines dan imunologi di beberapa jurnal diatas, mirip dengan yang sudah saya sedikit tuliskan di 'tulisan receh' saya sebelumnya. Walau pasti jauh lebih scientific yang ada di jurnal tersebut--ya iyalah--. Selain itu, akhirnya saya bertemu maenan lain yaitu mini ATV. Setidaknya ini bisa mengobati perjalanan ini.

Kembali lagi ke bahasan vaccines dan imunology, sepertinya saya malah jadi tertarik ingin membahas hal tersebut. Memang tidak akan bagus-bagus banget. Maklum saya bukan orang pinter dengan ip cumlaude. Cuma beda nya saya suka gatel aja, ngelihat orang-orang bahas vaccine tapi bahas nya kemana-mana yang akhirnya diskusinya sirkular tanpa akhir. Ya, pantes sih bahas suatu ilmu tapi gak make ilmu tersebut. Sudah cukup banyak sebenarnya yang sudah berusaha mengembalikan diskusi ini ke keilmuan yang linier--or bahasa qur'an nya, shirotol mustaqim--, yaitu imunologi. Tapi yang membuat miris adalah tetap saja banyak yang tidak mau beranjak dari 'kebodohan' itu, dan banyak diakhri dengan perkataan, "saya masih menunggu yang lebih valid". Aneh kan?.

Maka, inilah yang membuat 'saya gak tahan' ngeliat nya. Semoga beberapa tulisan yang sudah dan akan saya buat bisa sedikit bermanfaat. Dan sejatinya inilah yang saya pahami sebagai pengejawantawan salah satu Tri Dharma perguruan tinggi, yaitu Pengabdian Masyarakat, khususnya dalam hal pencerdasan terkait kesehatan. Simpel tapi banyak para akademisi--terutama teman-teman mahasiswa--tidak banyak tertarik untuk itu. Ah, biarlah, walau secara akademik saya gak cumlaude dan bukan mahasiswa 3.5--you know what i mean--tapi semoga tulisan receh ini bisa menjadi 'penebus dosa' saya sebagai mahasiswa kesehatan, terutama sebagai calon farmasis yang memang berfokus dalam dunia per-obatan. Lalu, bila polemik itu terus terjadi dan kita sebagai seorang calon farmasis tidak mau turun menjelaskan dan diam saja. Maka ada pertanyaan besar untuk kita, "Apakah kita pantas disebut sebagai Calon Farmasis?" [].

Wallahu'alam bishowab.

(Bersambung...See you on, next)

---
*Oleh : M. Imaduddin Siddiq*
**Mahasiswa Farmasi Universitas Jenderal Soedirman. 
***Tak perlu banyak dikomentari, semoga tulisan ini menjadi salah satu pengingat kita semua, terutama para calon farmasis. Yuk bermanfaat dan saling menebar kebaikan untuk sesama! Selalu ingatkan saya juga ya. 

You Might Also Like

0 comments