CARA BARAT MENILAI ISLAM DAN INDONESIA #27


Hubungan peradaban Barat dan Islam memang sangat menarik untuk kita kaji. Setidaknya hubungan itu sudah terjadi bahkan ketika masa Para Sahabat. Ketika ekspansi Islam ke bangsa Romawi. Sejarah panjang hampir 13 abad lamanya, tentu menghasilkan interaksi yang sangat beragam dan kuat. Abad ke-21 ini, kita tak dapat pungkiri, hasil peradaban Barat sangat membantu kita dan beberapanya dapat kita adopsi, terutama hasil teknologi dan ilmu pengetahuan mereka. Namun, disamping itu kita juga perlu kritis terhadap hal lain jua. Maka, menilik bagaimana sejatinya Barat memandang Islam merupakan hal yang penting untuk kita kaji. Terlebih dari sana lah kita dapat memandang secara objektif, apa sebenarnya keinginan Barat terhadap Islam.

Penilaian jujur Barat terhadap Islam dapat kita kaji dalam Buku “The Clash of Civilization and The Remaking of World Order” karya Samuel P. Huntington. Huntington adalah Ilmuan politik Harvard University. Dalam pengantarnya dia menulis, “Buku ini tidak dimaksudkan sebagai karya ilmiah sosial. Ia maksudkan sebagai penafsiran atas evolusi politik global sesudah Perang Dingin. Ia persembahkan untuk memberikan bingkai kerja, paradigman, dalam memandang politik global yang akan bermanfaat bagi para pakar juga para pembuat kebijakan”. Sebagai landasan kebijakan tentu ini menjadi hal yang menarik. Maka, ini memberi arti bagi kita semua bahwa realitas saat ini adalah kebijakan yang tidak terlepas dari landasan itu, terutama apa yang tertulis dalam buku tersebut.

‘Pergumulan’ yang tidak terelakkan antara Barat dan Islam memang secara nyata terjadi. Hal ini semakin nyata pasca runtuhnya Komunisme yang ditandai dengan hancurnya Uni Soviet. Pasca perang dingin (Cold War) Islam-lah peradaban yang akhirnya menjadi ‘musuh’ terkuat Barat. Walau sejatinya hanya Islam lah yang ditakuti Barat. Indikasi ini dapat kita lihat, bagaimana Barat membedakan kebijakan luar negeri nya.

Di masa ‘Cold War’ Barat--AS--terhadap Komunis--Uni Soviet--menggunakan kebijakan containment (penangkalan) dan deterrence (penangkisan). Namun, pasca tragedi 9/11, yang kemudian secara umum disebut WOT-- war on terorism--Barat--AS--mengubahnya menjadi preemeptive strike dan defensive intervention. Walau kebijakan containment dan deterrence tidak dihapuskan. Hal sesuai seperti apa yang disampaikan oleh Samuel P. Huntington dalam bukunya--The Clash of Civilization and the Remaking of World Order--, “Saya perlu menambahkan bahwa satu strategi yang memungkinkan dilakukannya serangan dini terhadap ancaman serius dan mendesak adalah sangat penting bagi AS dan kekuatan-kekuatan Barat pada saat ini. Musuh kita yang utama adalah Islam militan”.

Cara pandang Barat terhadap Islam secara lugas memang sangatlah berbeda dibandingkan kepada Komunis. Walau kedua nya sama-sama tidak disukai oleh Barat. Menilik asas, sejarah, dan proses antara Barat dan Islam memang memiliki fundamen yang jelas berbeda. Samuel P. Huntington menjelaskan, “Barat berbeda dengan peradaban lain tidak dalam caranya berkembang melainkan dalam karakternya yang unik yang dimiliki oleh nilai-nilai dan institusi-institusi yang di milikiya. Hal mana mencangkup terutama kekristenan, pluralismenya, individualism, dan aturan hukumnya, yang memungkinkan Barat menemukan modernitas, meluas ke seluruh Dunia dan memnbuat iri masyarakat lainnya”. Cara pandang yang khas ini tentu tidaklah compatible dalam ajaran Islam. Disisi lain, kita dapat melihat bagaimana ‘pongah’ nya Barat untuk ‘memaksakan’ ide-ide mereka yang jelas berbeda itu kepada Islam.

Samuel P. Huntington menambahkan, “Seribu empat ratus tahun menunjukan bahwa hubungan antara Islam dan Kristen, baik Orthodox maupun Barat, sering diselimuti Badai”. Meminjam pernyataan Bertand Lewis, Samuel P. Hungtington juga menyampaikan, “Selama hampir seribu tahun, sejak pendaratan bangsa Moor--Kaum Muslim--di Spanyol sampai penyerbuan bangsa Turki--ke-khilafah-an turki utsmani--ke Wina tahun 1529, Eropa terus-menerus berada dalam ancaman Islam”. Melihat hal tersebut. Maka, hanya Islam-lah satu-satunya peradaban yang ditakuti oleh Barat.

Benturan yang tak terelakan ini menurut Samuel P. Huntington disebabkan adanya berbedaan asas atara Islam dan Barat. Konflik itu terjadi berdasarkan perbedaan dan kesamaan. Pada sisi perbedaan, bahwa Kaum Muslim memandang Islam sebagai way of life yang menyatukan antara agama dan politik. Konsep Islam tersebut bertentangan dengan konsep Barat--kristen--tentang pemisahan kekuasaan Tuhan dan kekuasaan Raja yang terkristalisasi dalam paham sekulerisme. Sedangkan pada sisi persamaan, keduanya, baik Islam maupun Barat--kristen--merasa sebagai agama yang benar, keduanya sama-sama agama misionaris yang mewajibkan pengikutnya untuk mengajak “orang kafir” agar mengikuti ajaran yang dianutnya; Islam disebarkan melalui penaklukan-penaklukan wilayah dan Kristen pun juga demikian; keduanya menurut Samuel P. Huntington memiliki konsep “Jihad” dan “Crusade” sebagai perang suci.

Perbedaan secara fundamental itu akhirnya menyebabkan sensitifnya Barat terhadap perkembangan Islam di berbagai bidang. Terlebih dalam urusan ekonomi. Samuel P Huntington bahkan mewarning Barat, “Jika Malaysia dan Indonesia menajutkan perkembangan ekonominya, keduanya dapat menyajikan “model Islam” sebagai tandingan terhadap model Barat dan Asia”. Kekhawatiran Barat terhadap Islam dan Indonesia khusunya bukan tanpa dasar. Perkembangan kaum muslim yang pesat dengan jumlah yang tidak sedikit tentu menjadikan Barat tidak bisa nyaman melihatnya. Samuel P Huntington pun menambahkan, “Sementara itu, pertumbuhan penduduk Muslim aan merupakan kekuatan destabilitasi, baik bagi Masyarakat Muslim maupun tetangga-tetangga mereka. Jumlah besar generasi muda Islam yang berpendidikan menengah, akan memperkuat kebangkitan Islam dan mempromosikan militansi Islam, militerisme, dan imigrasi. Sebagai hasilnya, maka pada awal abad ke-21, tampaknya dunia akan menyaksikan kebangkitan kekuatan non-Barat dan benturan peradaban (clash) antara perababan non-Barat dengan perabadan Barat, atau antar peradaban non-Barat”.

Khatimah

Sebagai landasan kebijakan tentu tesis Samuel P. Huntington perlu sangat kita dalami sekaligus kita mendalami kebijakan Barat saat ini. Prediksi Samuel P. Huntington akan berkembangnya jumlah Kaum Muslim akan menjadi concern mereka, bagaimana akhirnya jumlah kaum Muslim yang melipah tersebut bukan malah mengambil Islam sebagai way of life namun malah menjadi kan Barat sebagai panutannya. Disitu lah sejatinya rekomendasi Samuel terhadap kebijakan Barat agar segera menseriusi ‘pembinaan’ terhadap kaum muda Muslim. Maka disitu lah peran sebagai kita, menolak dan menjelaskan kepada masyarakat terhadap segala bentuk kebijakan yang bernafaskan sekulerisme, pluralisme, dan liberalism, sekaligus semakin gencar menjelaskan Islam sebagai way of life. Begitulah pula sejatinya cara kita sebagai seorang Muslim memandang Barat [].

Wallahu’alam Bishowab.

---
*Oleh : M. Imaduddin Siddiq.
**Mahasiswa Farmasi Universitas Jenderal Soedirman & Aktivis GEMA Pembebasan Daerrah Purwokerto. 
***Kritik dan masukan kalian sangat berharga.

Sumber :
1. Foto : https://4.bp.blogspot.com/-V1Xgc98cgyc/Vyp7JZwaE-I/AAAAAAAAGa4/tvOh2-hEx-0G2Gi89blY8g_NOcXoGEhFACKgB/s1600/oooo.jpg


You Might Also Like

0 comments