MENYOAL IMUNOLOGI-VAKSIN #22

















Habis liat adu argumen yg gak ilmiah--bingung mau mengistilahkan apa soale--.Beberapa poin-poin penting--setidaknya bagi saya pribadi--saya jelaskan di bawah ini. Sebenarnya mau langsung nanggepin argumen-argumen di kolom komentar, tapi kelampau tinggi--gak tau deh ngerti bener atau ngak--bahasan nya padahal menurut saya bahasan fundamental aja terlupa.

Oleh karena itu, ada beberapa poin yang perlu kita pahami, kiranya ini bagi saya penting dalam menghadapi 'polemik' yang terjadi. Seperti berikut.

1. Dalam menggunakan literatur juga gak sekedar jurnal tok, lalu kita bisa merasa ini benar. Yang saya pahami di dunia penelitian kesehatan itu ada yang dinamakan piramida penelitian. Gak bisa penelitian case report 'ngalahin' penelitian case series apalagi RCT bahkan yang meta analysis. Kalo kita ngotot ini bener dengan argumen tersebut, itu namanya ngawur blas. Gak ngerti aturan dan dapat dipastikan kita gak ngerti critical appraisal dalam penelitian bidang kesehatan dan itu sama artinya kita gak perlu bicara jauh-jauh tentang bahasan vaksin. Lebih baik diam dan dengarkan ahli yang memang mengerti benar tentang vaksin.

2. Diskusi tentang vaksin gak perlu di analogikan dengan kejadian sosial. Tambah ngawur lagi. Dalam pembahasan kajian sosial dan kajian science gak bisa digabung. Tapi bukan berarti kedua hal tersebut tidak berkaitan. Tetap berkaitan tapi itu ada domain nya masing-masing. Mirip, kayak kita mau kajian tentang penemuan mobil listrik--benar-benar pertama--gak mungkin langsung diinclude kan variable seperti tingkat penerimaan masyarakat atau kajian ekonomi, lah wong tentang mobil listriknya aja belum establish. Nah, baru setelah penemuan dilakukan, lalu sudah ditemukan bentuk yang paling baik, maka bisa masuk ke kajian lain. Begitu seharusnya logika berpikir kita, termasuk dalam kajian vaksin pula.

3. Setiap ilmu memiliki kaidah nya masing-masing dan saling terikat dengan induk ilmu tersebut. Ketika bicara vaksin maka kita akan terkoneksi secara langsung dengan imunologi, dan jangan lupa induk keilmuan tetap pada medicine. Maka gak mungkin kita memisahkan bahasa kesehatan yang berfokus pada pengobatan. Perlu diingat pula, pengobatan tidak hanya kuratif, tapi juga paliatif, bahkan preventif, dan ketiga itu adalah pengobatan agar terjadi outcome yang baik untuk manusia, itu sebenarnya inti dari medicine itu. Nah, ketika membahas vaksin, maka kita tidak bisa serta merta menolak itu bukan pengobatan, lantas tidak mau membahas tentang jenis lain dan menutup mata terhadap paradigma pengobatan. Sejatinya ketiganya berbeda dalam timeline pemberian saja, dan sama-sama memiliki tujuan yang sama. Dan perlu diketahui bersama, ketiga nya tidak pernah memberikan 'garansi' keberhasilan 100% dan selalu menjelaskan resiko dan efek samping yang mungkin terjadi (tentu ini hasil penelitian pula).

Mungkin itu 3 poin dalam membuat kerangka 'berdiskusi' kita tentang bahasan kesehatan, terkhusus dalam bahasan vaksin. Sedikit bocoran saja, teman-teman kesehatan bukan lah orang yang awam dalam masalah 'perdebatan' terkhusus dalam pengobatan. Setidaknya itu yang saya rasakan di bidang saya, farmasi dan saya saksikan di beberapa bidang ilmu kesehatan lain--kedokteran, ilmu gizi, keperawatan, kesehatan masyarakat--. Kita memiliki mata kuliah tersendiri tentang itu dan forum nya memang diskusi, bahkan dapat menjurus saling menjatuhkan. Tapi, alhamdulillah, selama 4 mata kuliah tersebut--total 12 sks--berisi tentang diskusi terapi, kami selalu diingatkan dan kita berusaha untuk patuh dengan kaidah-kaidah ilmiah. Bahkan, dosen pun bila tak banyak memperdalam khazanah keilmuan teraktual bisa didebat oleh mahasiswa--ingat diskusi dosen terapi HT dg ISK, dulu--. Ingat moto dosen saya, "tak ada yang pasti benar atau salah, yang ada kita berusaha untuk memiliki argumen dari data terbaik. Terbaik dalam memahami kondisi klinis pasien serta kesesuaian dengan 'kondisi' terapi, walau outcome kita tidak bisa pastikan 100%". Ya, setidaknya dari situ saya belajar konsep tawakal yang benar. Yang mungkin banyak orang lupakan, yaitu ikhtiar sebaik mungkin.

Saya pun tidak terlalu mengerti secara mendalam tentang vaksin. Toh, tingkat S1 tidak ada yang belajar sangat mendalam terkait hal itu. Hal tersebut dipelajari secara mendalam di tingkat master bahkan doktoral. Namun, setidaknya, di S1 ini saya sedikit mempelajari ilmu dasar vaksin yaitu imunologi.

Ini ada tulisan remeh temeh terkait hal tersebut. 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10205383903951779&id=1674590808

Wallahu'alam Bishowab.

---
*Oleh : M. Imaduddin Siddiq
**Monggo dikoreksi bila ada yang keliru. InshaAllah kita bisa belajar bareng.

Sumber :
Foto : http://img12.deviantart.net/065d/i/2013/006/9/f/immunology_cover_by_nihamk16-d5qmbgq.jpg


You Might Also Like

0 comments