SNOUCK HURGRONJE : ISLAM POLITIEK-SPLITSINGS THEORIE


Berbagai perang yang dihadapi oleh Kolonalis Belanda masa penjajahan tentu menjadi sebuah ancaman bagi kelestarian penjajahan mereka di Indonesia. Sekaligus tentu menjadi penambah pundi-pundi kerugian secara materil. Bersebab itu, rasional-lah Para Penjajah yang menginginkan kelestarian penjajahan itu akan berusaha sekuat tenaga menjinakan, memenggal, bahkan melumpuhkan Islam sebagai kekuatan politik yang membahayakan penjajahan mereka. 

Sejarah telah membuktikan bahwa Kolonialis Belanda ‘cukup kesulitan’ menghadapi rakyat Indonesia yang tidak tinggal diam. Tercatat perang-perang yang dikobarkan kebanyakan dilancarkan atas nama Islam. Para ulama--tokoh muslim--dan santri menjadi garda terdepan dalam mempertahankan Bumi Nusantara ini.  Kita tentu mengenal berbagai perang yang pernah meletus di Bumi Nusantara. Mulai dari Perang Paderi (1825-1837) di Sumatera Barat, Perang Dipenogoro (1825-1830) di Jawa Tengah, dan yang terlama adalah Perang Aceh (1871-1912). 

Bila kita pernah membaca sejarah Perang Aceh--Perang Sabil— pada tahun 1871-1912 di masa penjajahan dulu, maka sosok yang mungkin tak kan bisa kita lupakan sekaligus maaf-kan adalah Snouck Hurgronje, seorang orientalis asal Belanda, seorang Peneliti lulusan di Universitas Leidein. Sebagai orientalis yang tlah ‘mendalami’ ajaran Islam bahkan telah belajar hingga ke Mekkah. 

Menurut Rosiji dalam bukunya “Snouck Hurgronje Seorang Pelopor dalam Mempelajari Islam”, menuturkan sejarah singkat sosok Hurgronje. C.S. Hurgronje adalah anak seorang Pastur Gereja Gereformeerd (Calvinist), ia lahir pada tanggal 8 Februari 1857. Pada usia 18 tahun ia masuk Fakultas Theologi Leiden. Setelah lulus kandidat examen, kemudian ia pindah ke Fakultas Sastra jurusan Arab. Setelah berhasil meraih gelar Doktor dalam bidang Sastra Semit (1880) ia menjadi dosen di Leiden, dalam Institut yang mempersiapkan pegawai-pegawai Belanda untuk Indonesia (Indologie). Jabatan tersebut dipegangnya sampai tahun 1887. Selama itu pula ia menyelidiki Fiqih (Hukum Islam), biografi Nabi Muhammad SAW dan Sejarah Islam.

Bersebab Kolonialis Belanda melihat Islam--khususunya di Tanah Aceh--sulit untuk di ‘taklukkan’, maka secara serius Belanda mempelajari Islam secara Ilmiah. Akhirnya didirikanlah sebuah institute yang diberi nama, “Indologie” untuk mengenal lebih jauh para pribumi Indonesia, khususnya Umat islam yang menurut Kolonial Belanda, semacam ‘obstacle’. Tentu, tujuan dari Indologie ini adalah agar dapat menghasilkan para pegawai yang dapat ‘mengurusi’ pemerintahan penjajah saat itu. Akhirnya, Snouck Hurgronje akhirnya ditugaskan untuk memulai proyek besar Kolonialis Belanda untuk menangani masalah Islam ini, yang oleh Kolonialis Belanda sebut, “Islam Politiek”, yakni kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda dalam mengelola masalah-masalah Islam di Indonesia, terkhusus di Tanah Aceh. 

Pemikiran ‘Islam Politiek’ ala Snouck Hurgronje tidak lahir begitu saja. Ini sudah ada saat menjadi mahasiswa di Universitas Leiden. Pada tahun 1876, Snouck pernah menyatakan, “Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan--maksudnya warga Muslim Indonesia--agar terbebas dari Islam”. Pandangan ini akhirnya benar-benar mewarnai sejarah hidup seorang Snouck Hurgronje. 

Setelah berhasil me-lobby Pemerintah Belanda untuk merealisasikan ‘ambisi’ a-islamisasi kaum muslim Indonesia dengan mendirikan Kantor Urusan pribumi (Kantor voor Indlandsche Zaken) pada tahun 1889 sekaligus menjadi pejabat pertama. Dia merumuskan beberapa rekomendasi sebagai landasan kebijakan Kolonialis Belanda terhadap negeri jajahan.  

Snouck menuturkan, bahwa musuh kolonialisme--penjajahan Belanda--bukanlah Islam sebagai Agama--agama ritual--tetapi menurutnya ketika Islam sebagai doktrin politik lah, Islam menjelma menjadi musuh kolonialisme Belanda. Menurut nya,“Dalam bidang Agama Pemerintah Hindia Belanda hendaknya memberikan kebebasan kepada umat Islam Indonesia untuk menjalankan Agamanya sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah, menggalakkan asosiasi dalam bidang kemasyarakatan, dan menindak tegas setiap faktor yang bisa mendorong timbulnya pemberontakan dalam lapangan politik”. 

Berkat kejeniusan dan kedalaman mendalami Ajaran Islam. Menurut Aqib Suminto (1985) dalam bukunya, “Politik Islam Hindia Belanda”, Snouck Hurgronje berhasil mem-formulasikan ajaran Islam ke dalam tiga dimensi, yakni : 1. Bidang Agama murni atau ibadah; 2. Bidang social kemasyarakatan; dan 3. Bidang politik. Dia pun secara ‘cerdas’ memberikan rekomendasi kebijakan yang berbeda diantara ketiganya. Masing-masing bidang mendapatkan perlakukan yang berbeda. Resep Snouck Hurgronje inilah yang akhirnya dikenal sebagai "Islam Politik", atau kebijakaan pemerintah kolonial untuk mengangani maslah Islam di Indonesia.

Formula Snouck Hurgronje terhadap ketiga dimensi ajaran Islam itu tertuang seperti yang dituliskan oleh K. Subroto dalam Makalahnya, “Strategi Snouck Mengalahkan Jihad di Nusantara”. Sebagai berikut :

1. Bidang Agama murni atau ibadah, pemerintah kolonialis harus memberikan kebebasan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran Agamanya, asalkan tidak menganggu kekuasaan kolonialis Belanda. Mengenai bidang ini pemeritnah tidak boleh menyinggung dogma atau ibadah murni. Menurutnya, dogma tidak berbahaya bagi pemerintah colonial. Selanjutnya, menurutnya,di kalangan umat Islam akan terjadi perubahan secara perlahan (evolusi) untuk meninggalkan ajaran Agama Islam.

2. Bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan Adat kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati pemerintah Belanda. Pemerintah mempunyai tujuan untuk mempererat ikatan antar Negeri jajahan dengan negara penjajah melalui kebudayaan, di mana lapangan pendidikan menjadi garapan utama. Dengan adanya asosiasi ini maka Indonesia bisa memanfaatkan kebudayaan Belanda tanpa mengabaikan kebudayaannya sendiri.

3. Bidang politik, pemerintah Belanda dengan tegas menolak setiap usaha yang akan membawa rakyat pada fanatisme dan Pan Islamisme--khilafah--. Unsur politik dalam Islam harus diwaspadai dan kalau perlu ditindak tegas. Berbagai pengaruh asing yang menjurus ke politik harus diwaspadai. Satu hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah menghindari segala tindakan yang menenatang kebabasan beragama. 

Formula Snouck Hurgronje atas Politik Islam-nya, menurut beberapa kalangan dapat dikatakan cukup sukses dan berhasil dalam seni memahami dan menguasai penduduk yang sebagaian besar Muslim. Dia didaulat sebagai seorang ‘arsitek’ keberhasilan Politik Islam paling legendaris yang telah melengkapi pengetahuan Belanda tentang Islam, terutama bidang sosial dan politik. Menurut Aqib Suminto, “bahkan kehadirannya betul-betul telah membuka lembaran baru bagi sejarah penjajahan Belanda dalam menghadapi Islam di Indonesia”.  

Terkhusus kepada Snouck Hurgronje, bahkan Effendi (2012) dalam risalahnya, “Politik Kolonial Belanda” menuturkan, “Kedatangan Snouck ke Indonesia telah mengukir lembaran baru sejarah Kolonial Belanda dengan konsepnya yang terkenal ‘Splitsings Theorie’, suatu politik pemisahan antara agama dan politik dalam Islam--sekulerisme--. Keutuhan ajaran Islam dipecah-pecah kepada tiga kategori yang masing-masing dihadapi secara ilmiah dan terencana untuk dilupuhkan. Semua diarahkan untuk melenyapkan pengaruh islam dari bumi Indonesia dan di atas kekalahan Islam akan dibangun Hindia Belanda modern dan maju dibawah naungan kerajaan Belanda (Pax Neeerlandica)”. 

Khatimah

Itulah sekelumit pandangan politik Snouck Hurgronje dalam ‘Islam Politiek’ nya. Diferensiasi ajaran Islam dengan ‘perlakukan’ yang berbeda tentu menarik untuk kita kaji dan kita dalami sebagai sebuah sejarah yang pernah menghiasi Indonesia. Terlebih ini dapat menjadi sebuah cermin bagi realitas Indonesia dewasa ini. Snouck sangat paham dan sangat mengkhawatirkan semakin menguat nya Ideologi Islam sebagai way of life. 

Islam sebagai Way of life tentu tidak serta-merta dapat dibedakan antara ketiga dimensi tersebut. Benar bahwa ajaran Islam terdiferensiasi dalam ketiga dimensi itu, namun bedanya, keselurahan tersebut tetaplah dalam satu ketundukan, yaitu ketaatan kepada Allah Swt. Keseluruhan ketiga dimensi itulah yang banyak para Ulama sebut dengan Syariat Islam—kaffah--.sehingga tak dapat dibedakan sikap yang harus diberikan. 

Sejatinya inilah gambaran real bahwa paham sekulerisme dan liberalisme yang mengkotak-kotak an ‘ideologi’ agama dengan ‘ideologi negara seraya membebasakan (pemecah belahan) posisi, institusi, simbolisasi, dan praktik kritik social. Inilah sebenarnya, grand design imperialisme Barat terhadap Islam. Sebab, dengan pemahaman Ideologi Islam yang integral-tidak memisahkan agama dengan kehidupan/politik- itulah Islam akan bangkit dan menjadi musuh nyata bagi Imperialisme Barat. 

Maka, ini pula lah yang seharusnya diketahui dan dipahami oleh segenap Umat Islam khususnya yang berada di Indonesia. Bahwa, Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah saja, namun Islam  mengatur pula urusan sosial dan politil. Dengan begitu seharusnya kita terus mengedukasi masyarakat serta memperjuangkan agar Politik Islam sebagai Ajaran Islam dapat terlaksana dengan sempurna. Yang mana Politik Islam hanya dapat terwujud sempurna dengan adanya Negara Khilafah [].  

Wallahu’alam Bishowab


Sumber :

Efffendi, 2012. Politik Kolonial Belanda Terhadap islam di Indonesia dalam perspektif Sejarah (Studi Pemikiran Snouck Hurgronye). Jurnal TAPIs, [8] : 82-112. 

H.M. Rosjidi, “Snouck Hurgronje Seorang Pelopor dalam Mempelajari Islam”, dalam A. Adaby Darban, Snouck Hurgronje dan Islam di Indonesia. Yogyakarta: tp., tt. hal. 1. 

Subroto K., 2017. Strategi Snouck Mengalahkan Jihad di Nusantara. Syamina [1] : 1 - 41.

Suminto, H. Aqib. Politik Islam Hindia Belanda. Jakarta. LP3ES, 1985. 

Foto : https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a4/Christiaan_Snouck_Hurgronje.jpg/448px-Christiaan_Snouck_Hurgronje.jpg

---

*Mahasiswa Farmasi Universitas Jenderal Soedirman & Aktivis GEMA Pembebasan Daerah Purwokerto 
**Kritik dan saran sangat diperlukan 

You Might Also Like

0 comments