VAKSIN (1) : KAJIAN EPIDEMIOLOGI #25


Beberapa waktu yang lalu dunia entertaimen indonesia di rundung pilu. Seorang Artis papan atas Indonesia dikabarkan meninggal setelah menjalani proses pengobatan yang cukup panjang. Adalah kanker serviks penyebab meneinggalnya artis tersebut. Kita doakan, semoga Allah Swt memberikan tempat terbaik untuknya. Aamiin.

Kanker serviks menurut WHO (2013) merupakan penyakit yang salah satunya dapat diperoleh secara seksual akibat infeksi dari Human Papillomavirus (HPV) dan banyak dari pasien yang terinfeksi secara cepat setelah aktivitas seksual, terutama dilakukan pada banyak pasangan--sex bebas--. Dimana infeksi virus tersebut secara umum terjadi pada saluran reproduksi.

Dari kajian epidemiologi--kajian terkait kejadian penyakit di suatu masyarakat--kanker serviks cukup menarik untuk dibahas. Menurut The American Cancer Society (ACS) di US diestimasi terjadi 12.170 kejadian kanker serviks baru yang terdiagnosa pada tahun 2012. Bahkan secara internasional, lebih dari 500.000 kejadian baru terdiagnosa setiap tahunnya, serta rata-rata setiap tahun terjadi 4.5 kejadian per 100.000 di Asia Barat dan 34.5 kejadian per 100.000 wanita di Afrika Timur, sedangkan di negara industri dimana program screening sitologi sudah berjalan, kejadian kanker serviks terjadi 4 hingga 10 kejadian per 100.000. Namun, kabar baik untuk wanita ras asia dan kepulauan pasifik, menurut data NIH (2014) kecuali wanita asia dan kepulauan pasifik, wanita pada ras lain memiliki angka kematian yang lebih tinggi dan angka kematian tertinggi terjadi pada wanita America dan Africa, namun angka kematian terus menurun sebanyak 2,6% setiap tahunnya dari tahun 2004 hingga 2008 (Medscape, 2016).

Selain, kanker serviks, penyakit lain yang cukup menarik kita bahas adalah penyakit meningitis. Menurut Medscape (2017) Meningitis merupakan sindrom klinis yang dikarakterisasi dengan adanya inflamasi (pembengkakan) pada meninges, yaitu lapisan yang membedakan antara otak dan blood stream-saluran darah-pada selaput otak. Hal ini diakibatkan termasukinya central nervous system (CNS)--otak--oleh agen infeksius seperti bakteri, virus, maupun parasite dari jaringan lain yang lebih dulu terinfeksi seperti pada saluran pernafasan, gastro intestinal (GI)--saluran pencernaan--, kulit, dan juga saluran genital.

Masuknya antigen asing-bakteri, virus, parasite-pada lapisan otak-yang merupakan bagian vital-ini mengakibatkan munculnya respon fight--sistem imun memiliki respon fly or fight--dari sistem imun kita, sebagai bentuk pertahanan. Hal ini menyebabkan problem yang menyebabkan kebocoran saluran darah sehingga masuknya cairan kedalam nya, WBCs-sel darah putih-. Hal ini menyebabkan pembengkakan otak dan juga menurunkan aliran darah menuju otak yang akhirnya menimbulkan gejala infeksi lain yang lebih parah. Seperti edema pada serebral, meningkatnya tekanan pada intracranial (ICP) yang akhirnya menyebabkan CNS ischemic/kematian otak. Maka, tak pelak kematian ‘menghantui’ pengidap penyakit ini. Tentu hal ini bukan penyakit yang sederhana.

Bakteri meningitis menyebabkan problem yang signifikan di banyak wilayah di dunia, terutama di negara berkembang. Brouwer et al. (2010) dalam artikelnya, “Epidemiology, Diagnosis, and Antimicrobial Treatment of Acute Bacterial Meningitis” disebutkan di Dakar, Senegal, dari tahun 1970 hingga 1979, terjadi kejadian rata-rata 50 kejadian per 100.000 populasi, dengan kejadian 1 pada 250 anak terdapat bakteri meningitis saat tahun pertama hidup. Di negara afrika, tingginya infeksi HIV, ternyata kejadian meningitis juga tinggi yang disebabkan bakteri S. pneumonia yang berhubungan dengan tingginya angka kematian. Kajian di negara northwest dan southern eropa, brazil, Israel, dan Canada menunjukan trends yang mirip dengan US. Dimana selama tahun 1973 hingga 1982 terjadi 4.100 kejadian bakteria meningitis pada Hospital Counta Maia di Salvador, Brazil dengan angka kejadian 45.8 kejadian per 100.000.

Melihat paparan diatas, cukup membuat bulu kuduk kita merinding bukan? Data diatas adalah hasil beberapa kajian epidemiolgi terhadap beberapa penyakit dengan tingkat kegawatan tinggi dengan kejadian yang mewabah. Ternyata, setelah merujuk pada guideline/algoritma--tatalaksana--penyakit tersebut, hasil konvensi para tenaga kesehatan merekomendasikan penggunaan vaksin sebagai bentuk pengobatan preventif. Walau perlu diperhatikan setiap detil tatalaksana, memiliki wilayah nya sendiri sehingga memungkinkan untuk terjadi perbedaan pada tatalaksana. Misalkan perbedaan pada dosis pemberian, jadwal pemberian, jenis obat yang harus diberikan diawal, dipertengahan, atau diakhir. Namun, kesemua nya tetap merekomendasikan penggunaan vaksin.

Setidaknya, melihat kajian epidemiologi tersebut, secara rasional akhirnya para tenaga kesehatan mencari sebuah cara, bagaimana untuk mencegah kejadian tersebut. Hal ini tidaklah membedakan antara negara maju dan negara berkembang. Terlebih, kejadian ini memang terjadi disetiap wilayah artinya memang kejadian ini tak mengenal perbedaan kondisi perekonomian atau latar belakang sosiologi suatu negara. Para peneliti pun akhirnya bertemu dengan teknologi vaksin.

Para peneliti akhirnya secara rasional melihat hal ini dapat mencegah kejadian yang sama dikemudian hari. Termasuk kejadian meninggalnya artis papan atas itu, akhirnya beberapa praktisi kesehatan kembali menerangkan akan perlunya vaksin HPV untuk mencegah terjadinya penyakit mematikan itu. Maka, setidaknya untuk teman-teman yang tidak setuju terkait vaksin--entah apapun itu jenisnya--tolong ketika mengkritik teman-teman juga menawarkan solusi lain untuk hal tersebut. Yakinlah, para praktisi kesehatan sangat terbuka untuk mendiskusikan hal tersebut, terlebih dewasa ini yang menjadi center pengobatan adalah pasien sendiri [].

Wallahu’alam Bishowab
.
(Bersambung…See you, next...)


Discalimer :

Kajian epidemiologi hanya berkaitan dg kejadian penyakit di suatu populasi, sedangkan kejadian penggunaan obat disuatu populasi--termasuk kajian efek samping vaksin--masuk ke ranah farmakoepidemiologi. Jadi jelas berbeda ya. Semoga kedepan saya bisa bahas juga.

---
*Oleh : M. Imaduddin Siddiq
**Mahasiswa Farmasi Universitas Jenderal Soedirman
***Kritik dan masukan kalian sangat berharga
****Semoga secara berkala saya bisa sedikit berberapa informasi terkhususnya yg berkaitan dengan vaksin.


Sumber :
1. Medscape, 2016. Meningitis. http://emedicine.medscape.com/article/232915-overview 
2. WHO. 2013. http://www.who.int/reproductivehealth/publications/cancers/9789241505147/en/ 
3. NIH. 2014. https://report.nih.gov/nihfactsheets/viewfactsheet.aspx?csid=76 
4. Foto : https://www.google.co.id/imgres?imgurl=http%3A%2F%2Facsh.org%2Fwp-content%2Fuploads%2F2013%2F08%2Fvaccination.jpg&imgrefurl=http%3A%2F%2Fwww.acsh.org%2Fnews%2F2013%2F08%2F15%2Fnew-trend-in-affluent-towns-could-be-deadly&docid=65q1o8E8a9_12M&tbnid=gf7otAWyHr1zRM%3A&vet=10ahUKEwi-l-vu3-rUAhUDtI8KHd_fB8YQMwguKAkwCQ..i&w=1024&h=768&bih=633&biw=1366&q=vaccines%20wallpaper&ved=0ahUKEwi-l-vu3-rUAhUDtI8KHd_fB8YQMwguKAkwCQ&iact=mrc&uact=8

You Might Also Like

1 comments