VAKSIN (2) : KAJIAN SEJARAH #26


Dewasa ini metode vaksin--pengobatan preventif--dapat dibilang menjadi leading program kesehatan dunia. Namun, disisi lain polemik vaksin semakin tidak karuan dan tidak berdasar ketika ada sebagian orang yang mencoba untuk mensangkut-pautkan metode vaksin dengan proses dehumanisasi kaum muslim--genosida terselubung--Mereka beralasan bahwa vaksin disinyalir secara kuat didanai oleh para kapitalis global yang ‘berselingkuh’ dengan WHO--badan kesehatan dunia--Mereka beranggapan ada maksud terselubung dari perkembangan vaksinasi di dunia. Salah satunya dikarenakan Barat--kafir eropa dan amerika--tidak menghendaki perkembangan jumlah kaum muslim di Dunia. Sentimen keagaaman yang secara artifisial dibentuk akhirnya dapat dikatakan cukup sukses untuk ‘mempengaruhi’ sebagian kaum muslim. Sebelum kita mengadili hal tersebut baik nya kita mendalami sejarah perkembangan metode vaksin di Dunia.

Sejarah perkembangan vaksin memang tidak dapat dilepaskan dari perkembangan imunologi. Ibarat koin, keduanya seperti dua sisi mata uang. Memang sejarahnya saling berkaitan. Periode ini diawali ketika mewabahnya penyakit Smallpox--cacar--. Menurut CDC (2016) dalam artikelnya “History of Smallpox”, penyakit ini tidak diketahui asalnya. Diperkirakan berasal dari kekaisaran Mesir sekitar abad ke-3 SM, hal ini berdasarkan adanya ruam menyeruai cacar pada tiga mumi disana. Sumber lain menyebutkan secara tertulis penyakit yang menyerupai ini muncul di China pada abad ke-4 Masehi, kemudian di India pada abad ke-7 dan Asia Kecil pada abad ke-10.

Persebarannya menurut CDC (2016) pula dikabarkan pada abad ke-6 meningkat di China dan Korea yang kemudian tersebar hingga Jepang; Abad ke-7 akibat ekspasi Arab--Masa Ke-Khilafah-an--penyakit cacar ini mulai menyebar ke Afrika, Spanyol, dan Portugal; Abad ke-11 persebaran penyakit ini dibawa oleh para kesatria Perang Salib; Abad ke-15, Portugis ‘membawa’ penyakit ini ke Africa Barat; Abad ke-16, Kolonialisasi Eropa dan para budak Afrika menyebarkan ke Kepulauan Karibia, dan Selatan Amerika; Abad ke-17 masih oleh Kolonialisasi Eropa membawa penyakit ini ke dataran utara Amerika, dan pada Abad ke-18, ekspansi Inggris di dunia membawa penyakit ini ke daratan Australia.

Penyakit ini akhirnya mewabah di Dunia dan membentuk sejarah manusia. Cacar telah menjadi endemic di Dunia sekaligus menjadi ‘momok’ yang menakutkan kala itu. Sangatlah menular. Penularannya yang relative mudah menambah kengerian itu. Penularan lewat cairan cacar menyebabkan cepat menginfeksi orang-orang yang dekat dan memiliki kontak dengan orang yang terinfeksi. Menurut Hong (2014) dalam artikelnya, “An Historical Examination of Smallpox Vaccinations: Past and Present Immunization Challenges” dikabarkan bahwa cacar telah menelan jutaan nyawa selama lebih dari 3000 tahun. Ciri khas yang muncul pada cacar adalah adanya ruam yang kemudian berkembang menjadi lecet yang melunak yang akhirnya menyebabkan kerusakan parah, hingga dapat menyebabkan kebutaan dan kematian.

Kejadian ini semakin parah. Menurut Barguet (1997) dalam artikelnya “The Triumph Over The Most Terrible of The Minister of Death” yang ditulis dalam Jurnal Ann Internal Medicine, dikabarkan pada abad ke-18 di daratan Eropa, 400.000 orang meninggal setiap tahun karena wabah ini, serta hanya sepertiganya yang selamat mengalami kebutaan. Pada akhir 1800an, kasus yang menjangkiti bayi lebih mengerikan, di Kota London hampir 80% meninggal bahkan di Kota Berlin, 98% bayi yang terkenca cacar berujung meninggal.

Bila membaca sejarah perkembangan vaksin, secara umum kita pasti mengenal Edward Jenner (1749-1823), seorang ahli bedah angkatan darat Inggris yang sebagian karirinya dihabiskan sebagai dokter--juga apoteker-- di Negaranya. Vaksinasi yang dikemukakan oleh Edward Jenner. Yang kemudian penelitian ini diadopsi oleh Pasteur untuk imunisasi. Menurut NHS (2016) dalam artikelnya “The History of Vaccination” pada tahun 1796 Edward Jenner menemukan vaksin. Menurut Plotkin (2014) dalam artikelnya, “History of Vaccination” di Jurnal Proc Natl Acad Sci USA disebutkan bahwa gagasan tentang rendaman infeksi virulen di dunia. Variasi dengan menggunakan analog sejumlah kecil racun untuk membuat kebal terhadap efek toksik. Penelitian nya menggunakan virus poxvirus untuk mencegah cacar sebagai agen virulen untuk membentuk kekebalan pada manusia.

Kebanyakan dari kita mengetahui nya seperti itu. Namun, ternyata ada ‘gap’ sejarah yang tidak banyak diketahui masyarakat awam. Terutama pada Masa Medeival. Hong (2014) dalam artikelnya, “An Historical Examination of Smallpox Vaccinations: Past and Present Immunization Challenges” menuturkan bahwa penelitian yang paling menonjol yang dilakukan oleh Rhazes (Abu Bakar Muhammad Bin Zakariya Ar-Razi, 865-925 M) yang memberikan dsekripsi medis pertama terkait penyakit smallpox--cacar--ini. Beliau mengatakan bahwa penyakit ini menular dari orang ke orang dan menurutnya orang yang selamat dari cacar tidak mengalami penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Karyanya kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dan Yunani dan akhirnya mempegaruhi dokter Eropa sampai pada masa Renaisans. Dan menurut Moore J (1815) dalam bukunya “The History of The Smallpox”, Ar-Razi adalah adalah peletak dasar teori acquired imunity--imunitas bawaaan--.

Teori Ar-Razi itu kemudian mulai dikembangkan oleh para Ilmuan islam. Proses yang dilakukan oleh ilmuan ke-khilafah-an masih berbentuk metode inokulasi, yang prosesnya mengacu pada infeksi virus cacar pada subkutan diambil dan diberikan ke individu lain. Namun, seperti yang sudah ditemukan oleh Ar-Razi terkait peletak dasar teori aquider imunity, inokulasi memang memiliki resiko. Ada kekhawatiran bahwa penerima dapat mengembangkan cacar yang ada. Metode inokulasi ini kemudian disebut dengan metode variolasi.

Pada abad ke-18 pula dengan datangnya pada wisatawan dari Istanbul (Pusat Ke-khilafah-an) mulai diperkenalkan pertama kali metode variolasi. Tahun 1714, Royal Society of London--perkumpulan ilmuan tertua di daratan eropa--menerima sepucuk surat dari Emanuel Timoni yang menggambarkan teknik variolasi yang dia saksikan di Istanbul. Surat serupa dikirim oleh Giacomo Pilarino pada tahun 1716. Namun, laporan terkait praktek inokulasi subkutan ini sama sekali tidak mengubah cara pandang dokter Inggris konservatif saat itu.

Barulah hal ini dilakukan di daratan eropa sekitar tahun 1723an. Terungkap pada sebuah surat tulisan Lady Mary Mortley Montague (1689-1762) dari The Levant, saat Kedutaan Besar kepada Konstatinopel, menyatakan bahwa praktik inokulasi di Turki (ke-khilafah-an Turki Utsmani) dengan cacar itu sendiri yang kemudian akhirnya dibawa oleh Lady Mary Wortley, seorang Istri Duta Besar ingrris untuk Port Sublime. Dimana dia meminta anaknya untuk diinokulaiskan sendiri dan disamping itu Keluarga Kerajaan Hanoverian memastikan bahwa hal itu juga dilakukan pada dua anak Putri Wales pada tahun 1723.

Setelah Lady Mary memperkenalkan hal tersebut, praktik ini menyebar ke beberapa anggota kerajaan. Charles Maitland kemudian diberi lisensi oleh kerajaan untuk melakukan praktek ini terhadap enam tahanan di Newgate pada tanggal 9 Agustus 1721. Beberapa dokter pengadilan anggota Royal Society dan Anggota College of Physicians mengamati proses tersebut dan akhirnya semua tahanan selama dalam percobaan dan mereka yang terkena cacar terbukti kebal. Pada bulan-bulan berikutnya dicobakan kembali ke pada anak yatim-piatu, dan berujung sukses. Akhirnya pada tanggal 17 April 1722, Maitland berhasil merawat dua putri Wales. Dan tidak mengherankan prosedur ini terbukti diterima secara umum dan sukses.

Kemudian metode ini mulai diperkenalkan ke amerika oleh seorang dokter Inggris William Douglass M.D (1691-1752) mulai mencoba secara pribadi metode inokulasi tersebut di Inggris dan Amerika (Buku yang berjudul “Edward Jenner and The Discovery of vaccination” yang terdapat di Perpusatakaan Thomas Cooper, University of South Carolina). Barulah setelah itu, metode ini kemudian dipelajari lebih lanjut oleh Edward Jenner M.D., LL.D., F.R.S., seorang apoteker magang--saat itu profesi dokter dan apoteker dalam satu bidang pendidikan--pada tahun 1760. Jenner tertarik dengan hubungan antara penyakit cacar, cacar air, dan swinepox. Pada tahun 1789 ia bereksperimen dengan meninokulasikan terhadap anaknya sendiri, kemudian pada usia satu setengah tahun kembali diinokulasikan dengan cacar air, yang selanjutnya kembali diinokulasikan dengan inokulasi cacar air konvensional.

Penyelidikan Jenner pertama kali pad tahun 1789 tersebut melihat kekebalan yang diberikan oleh cacar air, dan bagaimana secara artifisial hal itu dapat dilakukan. Setelah itu, kemudian Jenner melakukan inokulasi kembali kepada pasiennya dengan virus cacar hidup untuk melihat apakah cacar air tersebut bekerja. Dan anak pertama yang akhirnya terbukti sehat pada beberapa pengujian Jenner adalah James Phipps dari Dairymaid Sarah Nelmes pada tanggal 14 Mei 1796. Yang kemudian ini menempatkan Janner oleh ‘beberapa kalangan’ disebut sebagai penemu pertama kali metode vaksinasi.

Melihat sejarah singkat diatas kiranya kita bisa mendapati alur yang cukup jelas. Ternyata, apa yang sudah selama ini disampaikan, bahwa Edward Jenner seorang Apoteker adalah penemu metode vaksin pertama mirip dengan apa yang pertama kali dikenalkan oleh Para Ilmuan Islam di Negara Khilafah saat itu, dengan metode inokulasi nya. Namun inilah realitas saat ini, nama Janner lebih popular ditelinga kita dibandingkan Para Ilmuan Islam, terkhusus Ar-Razi yang oleh para ilmuan Barat disebut sebagai penemu pertama teori acquired imunity yang mana keilmuan imunologi pun yang akhirnya muncul dari sana.

Hal ini menurut saya tentu cukup mengherankan bagi orang awam. Bagaimana bisa, penemuan besar dunia ini--vaksin--ternyata dilakukan oleh seorang Muslim. Namun, bagi muslim yang paham akan sejarah peradaban Islam ini adalah suatu yang wajar dan sangat mungkin. Dimana Islam tidak pernah membedakan antara ilmu pengetahuan dengan ilmu agama. Keduanya sangat didorong oleh Khilafah untuk berkembang. Maka, tak pelak hal ini menjadikan Khilafah sebagai center of knowledge di Dunia. Maka, teruntuk para kaum muslimin yang masih berpikiran ada konsiprasi besar dibalik metode vaksin ini, saya sarankan anda untuk lebih bersikap objektif dan kritis. Saran saya, bila memang fakta saat ini ada beberapa yang tidak pas, lebih baik di luruskan dan memberi masukan yang konstruktif, bukan malah menegasikan metode vaksin yang sudah dibangun oleh Para Ilmuan Muslim dan disamping itu akhirnya sejarah ini menjadi cambuk bagi ilmuan muslim saat ini, bahwa seharusnya leading keilmuan ada ditangan Para Ilmuan Muslim. [].
Wallahu’alam Bishowab.

(Bersambung…see you, next!)

---
*Oleh : M. Imaduddin Siddiq
**Mahasiswa Farmasi Universitas Jenderal Soedirman 
***Kritik dan masukan kalian sangat berharga
****Semoga secara berkala saya bisa sedikit berberapa informasi terkhususnya yg berkaitan dengan vaksin.

Sumber :
1.Foto : 
https://s3.amazonaws.com/healthtap-public/ht-staging/user_answer/reference_image/1291/topic_large/Vaccine.jpeg?1344906382 

You Might Also Like

0 comments