ALI HASJMY-PENJARA


Entah mengapa malam ini saya ‘kurang’ bernafsu untuk meringkuk di atas ‘dipan’ lebih dini. Pasal apa? ngopi? Oh tentu tidak, walau saya menulis ini ditemani secangkir kopi, tapi kopi buat saya sudah tidak sekedar demi mengusir kantuk, lebih kepada ‘fantasi’ saya, dalam arti kopi sudah menjadi hobi, tau kan hobi seperti apa manifes nya? (Udah lah, saya kok malah ngelantur ke sana kemari gini...)

Sebenarnya, tulisan ini sudah sedari dulu saya ingin segera rampungkan. Bersebab saya sering terlupa dan terlena dengan ide-ide lain, akhirnya beberapa kali urung diselesaikan. Risalah ini bicara terkait, ‘efek samping’ sebuah perjuangan yang salah satu nya adalah penjeblosan ke dalam ‘penjara’. 
Saya agak lupa bersebab apa tepat nya saya mulai ter’ilhami’ untuk menulis ini, yang paling saya ingat adalah ketika saya mulai membaca risalah perjalanan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang keluar masuk penjara dan bersebab ‘perjalanan’ itu, beliau dipanggil oleh Allah SWT. Dilanjutkan, dengan pengatar pada buku Ma’alim Fihi Thariq yang menggambarkan bagaimana teguh nya Syaikh Sayyid Qutb dalam memegang kebenaran sehingga tidak hanya dijebloskan dipenjara, lebih dari itu beliau pun syahid dalam keteguhan nya, kemudian dilanjut dengan novel sejarah nya Pramoedya, dengan “tetralogi buru”-nya yang cukup membuat gambaran jalan perjuangan itu bukan-lah hal yang remeh temeh, dilanjut dengan dua buku sejarah perjalanan hidup seorang ‘kamerad’, Vladimir Lenin yang lumayan membuat diri ini malu, “wong, mereka yang gak percaya tuhan aja, sebegitu rela nya menjadi martir perjuangan tersebut, kok saya yang mana telah ‘meneburkan diri’ dalam perjuangan yang berlandaskan seruan Allah SWT, sering berkilah dengan beribu alasan ‘afwan’ dalam perjuanganNya” aneh, kan? Malu kan? Tentu! Dan, terakhir saya dipertemukan dengan tidak diduga-duga dengan buku-buku Ali Hasjmy, seorang sejarawan Indonesia yang jua pernah menjadi rektor UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Dimana? Toko barang bekas dan antik! Gak pake lama, saya beli beberapa buku tersebut. 

***
Dari beberapa kisah diatas, malam ini saya pilih karya Ali Hasjmy . Entah mengapa, saya memilih itu. Agaknya ini dibilang bersebab sisi emosional saya, tidak jua tepat, karena memang saya tidak pada posisi yang tepat seperti risalah nanti. Tapi, tak mengapa lah. Semoga ini jadi gambaran bagi saya, dan semoga bagi yang ‘cocok’ dengan risalah ini bisa mengambil hikmah di dalam nya. 

Perjalanan ini dimulai pada medio September 1953, tepatnya tanggal 20. Di wilayah Aceh pecah pemberontakan melawan Pemerintah Pusat dibawah pimpinan seorang Ulama Besar Teungku Muhammad Daud Beureu-eh, yang kemudian sering diperdengarkan dengan istilah : Peristiwa DI/TII, karena mereka disinyalir telah memproklamirkan Aceh lepas dari Republik Indonesia. 

Pada saat itu pula, Ali Hasjmy saat itu sedang menjabat sebagai Wakil Kepala Jawatan Sosial Sumatra Utara yang mana pada saat itu (saat pecah nya peristiwa DI/TII) beliau sedang berdinas di Kota Medan. Tak berselang lama, tanggal 23 September 1953, sekitar pukul 11 siang, Ali Hasjmy ditangkap atas perintah Kepala Polisi Sumatera Utara, karena dituduh terlibat dalam Peristiwa DI/TII yang baru tiga hari lalu pecah. 

Menurut penuturan Ali Hasjmy, saat itu beliau baru saja mengurus para pengungsi di Belawan yang baru saja datang dari Aceh. Di dalam kantor nya, beliau ditangkap atas tuduhan itu. Beliau menerima hal tersebut dan menyatakan itu adalah “Qadla-Qadar” dari Allah SWT. Apalagi penangkapan bukan merupakan suatu yang baru menurut beliau. Dulu, saat zaman Pemerintahan Kolonial Belanda, beliau sudah berkali-kali berurusan dengan polisi kolonial, ditangkap, bahkan hingga di penjarakan. Itu semua beliau lewati di masa-masa Madrasah Thawalib bahagian Sanawiyah (SMA) bersebab beliau menjadi anggota pimpinan Himpunan Pemuda Islam Indonesia (HPII) yang mana menurut pemerintah kolonial, beliau dituduh melanggar undang-undang Hindia Belanda; undang-undang kolonial. 

Penangkapan beliau di kantor nya di Medan akhirnya membawa nya ke Tahanan Polisi Pancurbatu. Tanpa diberi kesempatan untuk bertemu keluarga nya terlebih dahulu, bahkan sekedar untuk melihat istri nya dan anak-anak nya, yang mana salah satu putri nya, bernama Dahlia yang masih berumur 4 bulan. Singkat cerita, akhirnya beliau dimasukan ke pejara Tebing Tinggi selama 3 bulan, kemudian dipindah kan tahanan polisi Kampung Durian Medan, dilanjut dengan ke penjara Sukamulia Medan, dan dipindah kembali ke penjara Jalan Listrik Medan, setelah 8 bulan mendekam di penjara tersebut, beliau dibebaskan, namun tidak boleh tinggal di pulau sumatera, yang mana di harus kan pergi ke Pulau Jawa. 

Bersebab kecintaan terhadap keluarga nya, terutama putri kecil nya, Dahlia. Ali Hasjmy kemudian menuliskan sebuah risalah yang sengaja beliau tulis khusus nya untuk putri nya, Dahlia. Walau dalam tulisan tersebut, beliau berpesan bahwa tulisan ini tidak hanya untuk putri yang dia cintai tetapi jua untuk segenap para pemuda dan remaja angkatan Angkatan Muda Kita. ‘Dus’, risalah dalam buku ini berjudul, “Surat-Surat dari Penjara”. 

Risalah ini menurut nya, adalah cara beliau ‘berfilsafat’ dan manifes dari ketidakterpenjaraan pemikiran beliau walau secara raga beliau terkotak kan dalam ruang bersegi dengan minim nya waktu mendapatkan udara bebas, bahkan beliau sempat mendapati penjara yang hanya membolehkan diri nya menghirup udara bebas selama satu jam dalam sehari-semalam, setengah jam di pagi hari dan setengah jam di sore hari, itu pun sudah termasuk buang air. Diluar waktu itu? Semua harus dilakukan didalam petak hanya seukuran kursi berlapis semen, termasuk untuk buang air!  

Risalah yang beliau tulis ini ada sebanyak 18 surat kepada putri nya. Saya hanya akan menyandur surat pertama beliau, ditulis 3 hari pasca penangkapan beliau. 

***

Surat pertama :

MUTIARA PUSTAKA
Untuk anakku Dahlia dan abang-abangnya.

Manisku Dahlia!
“Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak!”
Demikianlah bunyi sebuah pepatah kita. 

Demikianlah, sayang, pada tanggal 23 September 1953, kira-kira pukul 11 siang, ayahda ditangkap di Medan karena dituduh terlibat dalam peristiwa pemberontakan Aeh yang telah meletus pada tanggal 20 September 1953 yang lalu, dan ditahan di tempat tahanan Kantor Polisi Pancurbatu, tidak berapa jauh dari Medan. 

Musibah yang menimpa keluarga kita ini, anakku manis, harus kita terima dengan tabah dan menyerahkan diri kepada Allah SWT, karena segala kejadian yang sudah, sedang, dan akan berlaku di dunia ini adalah menurut yang telah ditetapkan dalam “qadla-qadar” Allah; Tuhan Mahapencipta. 

Yakinlah, manisku, bahwa dunia ini ibarat “panggung sandiwara” dan manusia sebagai “pelaku-pelakunya”. Kita sebagai pelaku haruslah dengan patuh melakonkan cerita yang telah terkarang sejak zaman azali, dan betapapun kehendak kita, namun kita tidak boleh dan tidak dapat menyimpang dari garis-garis yang telah ditetapkan dalam cerita itu. 

Barangkali dalam usiamu yang masih bayi itu, Dahliaku manis, engkau taksanggup memahami filsafat yang ayahda nukil diatas; tetapi jiwamu yang masih suci-bersih pasti akan dapat menyelami lubuk hikmat yang dalam dari filsafat tersebut. 

Ah, anakku sayang, barangkali ibumu di rumah dan abang-abangmu merasa berdukacita dengan sebab kehilangan ayahmu buat sementara. Tetapi, mudah-mudahan tidaklah demikian, karena engkau akan menjadi penawar-hikmat bagi mereka, dan ayahda yakin akan hal itu. Dengan keyakinan ini, ayahda akan lebih tentram menghadapi percobaan Allah untuk kesekian kalinya ini, sebagai satu babak lagi dalam lakon hidup yang harus kita jalani sebagai manusia.

Menjelang subuh pagi ini, ayahda terkenang kepadamu, manisku. Ayahda teringat, rupanya sudah suratan takdir bagimu bahwa selagi masih bayi, bahkan selagi masih belum lahir engkau harus menghadapi cobaan yang banyak.

Sebulan sebelum engkau lahir, “nekma”mu (nenek dari ayahmu) yang sangat merindukan kelahiran cicitnya yang perempuan, telah meninggal dunia. Memang benar demikian, sayang, tiap-tiap akan lahir abang-abangmu, Nekma selalu mengharap agar cicitnya yang akan lahir itu hendaknya perempuan. Tetapi, senantiasa sebelum dikabulkan Allah doa beliau pada waktu yang sudah-sudah. 

Pada waktu hasratnya hendak dikabulkan Allah, beliau wafat sebulan menjelang engkau lahir, Dahliaku sayang. Ini harus menjadi pelajaran bagimu, anakku manis, bahwa manusia boleh berkehendak, tetapi yang berlaku hanya Iradat Allah jua. 

Setelah engkau berusia dua bulan, ibumu harus dirawat di rumah sakit, karena menderita sakit parah; paru-parunya berair dan harus berbaring diranjang rumah sakit selama satu setengah bulan, sedangkan engkau, sayang, terpaksa berpisah dengan ibumu yang sangat mencintaimu.

Dan......sekarang, manisku, setekah sebulan engkau bergaul kembali dengan ibumu dan dalam usiamu yang masih kurang dari lima bulan itu, engkau diharuskan pula ‘bercerai’ dengan ayahmu yang juga sangat mencintaimu. 

Inilah yang ayahda kenangkan di akhir malam tadi. 

Hanya sebentar kenangan pahit ini menyinggung perasaan halus ayahda. Sebentar nian, sayang! Kemudian ayahda terkenang kembali filsafat tentang “dunia sebagai pangung sandiwara”, yang telah ayahda rakamkan di atas tadi. 

Ayahda mengharap, insya Allah, cobaan-cobaan ini akan mendidik dan membina engkau, anakku manis, agar menjadi manusia sejati, insan kamil; ya, akan mengantar engkau ke suatu dunia yang indah cemerlang.

Ingatkah engkau, Dahliaku manis, bahwa junjungan kita Nabi Besar Muhammad s.a.w, enam bulan sebelum beliau lahir ayahandanya Abdullah meninggal dunia, dan selagi usianya masih amat kecil ibundanya Aminah pergi pula untuk selama-lamanya, hatta tinggallah Muhammad dalam keadaan miskin sebagai anak yatim piatu. 

Anak yatim piatu yang bernama Muhammad inilah kemudian diutus Allah menjadi Rasul akhir zaman, Pemimpin Besar dunia, bertugas untuk membawa rahmat kepada alam semesta.
Hendaknya peri hidup Muhammad menjadi tamsil-ibarat kepadamu, anakku sayang. 

Kuharap engkaum anakku manis, kelak di kemudian hari akan menjadi seorang “muslimat sejati” yang mengabdikan diri kepada Allah, menegakkan keadilan dan menjunjung tinggi prikemanusiaan. 

Surat yang pertama ayahda akhiri sampai di sini, dan seterusnya tiap-tiap ayahda terkenang kepadamu, kenangan tersebut akan kutuangkan dalam surat-surat untukmu dan kuharap supaya engkau simpan baik-baik, dan tidak ada salahnya kalau engkau suruh baca kepada abang-abangmu.
Pandanglah, manisku sayang, surat-surat ayahda sebagai “Mutiara-Pustaka” untukmu dan untuk abang-abangmu!

Cinta kasih dari ayahmu,

Tahanan Polisi Pancurbatu, 26 September 1953.  

***
Begitulah sebuah risalah pertama untuk seorang putri tercinta nya yang baru berumur 4 bulan, dimana mengenal ayahda-nya pun, Si Manis Dahlia belum tentu. Sebegitu cinta nya seorang Ayah kepada anak nya, namun cinta kepadaNya itu melebihi segala nya, yang terejawantahkan dalam kepasrahan nya terhadap qadla-qadarNya yang membuat beliau melewati masa-masa penahanan nya tanpa risau sedikitpun. Bahkan, bersebab itu, dari sanalah beliau menghasilkan beberapa buku. Itu sedikit risalah singkat perihal perjalanan hidup seorang Ali Hasjmy (edisi satu).  

You Might Also Like

0 comments