COMPLETING ANTIBIOTICS USES PREVENT ANTIBIOTICS RESISTANT?


Resistensi antibiotik memang menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Dunia. Nah, sering saya dapati di kelas-kelas perkuliahan, bahwa salah satu penyebab nya adalah 'pemutusan' penggunaan antibiotik yang diresepkan oleh Dokter. Misalkan seorang dokter meresepkan obat ciprofloksasin 2x7 hari dengan indikasi S. typhi, lalu pasien datang ke Apotek dan dilakukan dispensing sekaligus KIE yang salah satu nya, pasti terucap "tolong dihabiskan ya.." (setidak nya itu pula yang saya lakukan dulu ketika PBL di Apotek).

Secara tidak langsung kami yang belajar di dunia tperkuliahan diberikan pengertian, "menghentikan antibiotik sama artinya dengCOMPLETING ANTIBIOTICS USES PREVENT ANTIBIOTICS RESISTANT?

Resistensi antibiotik memang menjadi salah satu permasalahan kesehatan di Dunia. Nah, sering saya dapati di kelas-kelas perkuliahan, bahwa salah satu penyebab nya adalah 'pemutusan' penggunaan antibiotik yang diresepkan oleh Dokter. Misalkan seorang dokter meresepkan obat ciprofloksasin 2x7 hari dengan indikasi S. typhi, lalu pasien datang ke Apotek dan dilakukan dispensing sekaligus KIE yang salah satu nya, pasti terucap "tolong dihabiskan ya.." (setidak nya itu pula yang saya lakukan dulu ketika PBL di Apotek).

Secara tidak langsung kami yang belajar di dunia tperkuliahan diberikan pengertian, "menghentikan antibiotik sama artinya dengan meningkatkan resiko resistensi antibiotik". Secara teori kita diajarkan bahwa eradikasi bakteri terjadi memang mengikuti waktu yang sudah lazim tersebut. Walau, waktu tersebut adalah hasil perhitungan statistik keberhasilan terapi, misalnya yang 5 hari keberhasilan nya 60% dan yang 9 hari keberhasilan nya 80%, maka yang diambil adalah yang 9 hari karena memiliki derajat keberhasilan lebih tinggi (ini contoh sederhana--sangat minimalis tentunya--).
Disisi lain kita juga memahami bahwa resistensi bukan hanya terjadi pada penghentian antibiotik, namun juga penggunaan berlebihan (overuses) terhadap antibiotik. Perlu disadari memang makhluk bakteri ini bukan sekedar makhuk yang sederhana, mereka dapat berkomunikasi dan saling memberikan sebuah informasi antar mereka, termasuk pengkode an terhadap antibakteri yang pernah mereka temui. Informasi itu mereka sebarkan secara genetis kemudian mereka memproduksi pertahanan tubuh yang lebih baik, setidak nya kepintaran ini yang membuat para peneliti kalang kabut. Bisa jadi tahun 2017 ini suatu antibiotik suspetible tapi tidak menutup kemungkinan dua tahun mendatang masih suseptible atau malah sudah resisten terhadap suatu bakteri.
Yang menarik adalah pembahasan diakhir artikel tersebut. Dibagian akhir artikel ini tertulis :
"Research is needed to determine the most appropriate simple alternative messages, such as stop when you feel better. Until then, public education about antibiotics should highlight the fact that antibiotic resistance is primarily the result of antibiotic overuse and is not prevented by completing a course. The public should be encouraged to recognise that antibiotics are a precious and finite natural resource that should be conserved. This will allow patient centred decision making about antibiotic treatment, where patients and doctors can balance confidence that a complete and lasting cure will be achieved against a desire to minimise antibiotic exposure unimpeded by the spurious concern that shorter treatment will cause antibiotic resistance"
Frase "feel better" ini yang masih sangat diperdebatkan. Terlebih ini sangat berkaitan erat dengan tingkat pemahaman pasien terhadap suatu penyakit dan obat nya. Sangat sulit untuk memastikan dia benar-benar memahami arti "feel better" namun dia tidak memahami bahwa ada permasalahan besar dibalik penggunaan antibiotik yaitu resistensi serta faktor-faktor penyebab nya. Terlebih, bila frase itu dipakai oleh individu yang masih berpemahaman 'anti obat kimia' tentu sangat-sangatlah tidak pas. Frase "feel better" akan sangat kabur dan malah berpeluang membawa ke kegawatan resistensi yang semakin meningkat.
Ditambah ketika saya cek kolom responses terhadap artikel tersebut dapat lah saya respons yang cukup menarik dari seorang medical microbiologist dari Erasmus MC, John P Hays, diawal komen nya, dia menulis begini :
"One question raised by this opinion article is what do patients do with their unused antibiotics if at some time point they stop taking their antibiotics and do not finish the course? If the remaining tablets are left in the 'bathroom cupboard' then there may be a temptation for the patient to take these unused tablets at another date, or to give the tablets away to a colleague (without prescription)"
Akhirnya saya cukup memahami garis besar permasalahan ini. Setidak nya permasalahan ini tidak hanya menjadi domain pemberi resep (Dokter), dispensi obat (Apoteker), namun juga pembuat kebijakan, dan juga menuntut masyarakat dan pasien memiliki kesadaran akan hal itu pula. Terlebih, menurut artikel tersebut, "This will allow patient centred desicion making about antibiotics treatment.."
So, kesimpulan saya, semua harus belajar dan peduli akan hal itu. Bukan untuk siapa-siapa tapi untuk masyarakat dan diri kita sendiri :)

***
Bisa dibaca dimari artikel analisis nya, keluaran BMJ (British Medical Journal) yang published 27 Juli 2017!an meningkatkan resiko resistensi antibiotik". Secara teori kita diajarkan bahwa eradikasi bakteri terjadi memang mengikuti waktu yang sudah lazim tersebut. Walau, waktu tersebut adalah hasil perhitungan statistik keberhasilan terapi, misalnya yang 5 hari keberhasilan nya 60% dan yang 9 hari keberhasilan nya 80%, maka yang diambil adalah yang 9 hari karena memiliki derajat keberhasilan lebih tinggi (ini contoh sederhana--sangat minimalis tentunya--).

Disisi lain kita juga memahami bahwa resistensi bukan hanya terjadi pada penghentian antibiotik, namun juga penggunaan berlebihan (overuses) terhadap antibiotik. Perlu disadari memang makhluk bakteri ini bukan sekedar makhuk yang sederhana, mereka dapat berkomunikasi dan saling memberikan sebuah informasi antar mereka, termasuk pengkode an terhadap antibakteri yang pernah mereka temui. Informasi itu mereka sebarkan secara genetis kemudian mereka memproduksi pertahanan tubuh yang lebih baik, setidak nya kepintaran ini yang membuat para peneliti kalang kabut. Bisa jadi tahun 2017 ini suatu antibiotik suspetible tapi tidak menutup kemungkinan dua tahun mendatang masih suseptible atau malah sudah resisten terhadap suatu bakteri.

Yang menarik adalah pembahasan diakhir artikel tersebut. Dibagian akhir artikel ini tertulis :

"Research is needed to determine the most appropriate simple alternative messages, such as stop when you feel better. Until then, public education about antibiotics should highlight the fact that antibiotic resistance is primarily the result of antibiotic overuse and is not prevented by completing a course. The public should be encouraged to recognise that antibiotics are a precious and finite natural resource that should be conserved. This will allow patient centred decision making about antibiotic treatment, where patients and doctors can balance confidence that a complete and lasting cure will be achieved against a desire to minimise antibiotic exposure unimpeded by the spurious concern that shorter treatment will cause antibiotic resistance"

Frase "feel better" ini yang masih sangat diperdebatkan. Terlebih ini sangat berkaitan erat dengan tingkat pemahaman pasien terhadap suatu penyakit dan obat nya. Sangat sulit untuk memastikan dia benar-benar memahami arti "feel better" namun dia tidak memahami bahwa ada permasalahan besar dibalik penggunaan antibiotik yaitu resistensi serta faktor-faktor penyebab nya. Terlebih, bila frase itu dipakai oleh individu yang masih berpemahaman 'anti obat kimia' tentu sangat-sangatlah tidak pas. Frase "feel better" akan sangat kabur dan malah berpeluang membawa ke kegawatan resistensi yang semakin meningkat.

Ditambah ketika saya cek kolom responses terhadap artikel tersebut dapat lah saya respons yang cukup menarik dari seorang medical microbiologist dari Erasmus MC, John P Hays, diawal komen nya, dia menulis begini :

"One question raised by this opinion article is what do patients do with their unused antibiotics if at some time point they stop taking their antibiotics and do not finish the course? If the remaining tablets are left in the 'bathroom cupboard' then there may be a temptation for the patient to take these unused tablets at another date, or to give the tablets away to a colleague (without prescription)"

Akhirnya saya cukup memahami garis besar permasalahan ini. Setidak nya permasalahan ini tidak hanya menjadi domain pemberi resep (Dokter), dispensi obat (Apoteker), namun juga pembuat kebijakan, dan juga menuntut masyarakat dan pasien memiliki kesadaran akan hal itu pula. Terlebih, menurut artikel tersebut, "This will allow patient centred desicion making about antibiotics treatment.."

So, kesimpulan saya, semua harus belajar dan peduli akan hal itu. Bukan untuk siapa-siapa tapi untuk masyarakat dan diri kita sendiri 

***
Bisa dibaca dimari artikel analisis nya, keluaran BMJ (British Medical Journal) yang published 27 Juli 2017! 

Artikel asli : http://www.bmj.com/content/358/bmj.j3418

***
M Imadudin Siddiq

You Might Also Like

0 comments