DEMOKRASI : KRITIK & PENOLAKAN


Perkembangan demokrasi sebagai sebuah sistem kenegaraan tentu tidak dapat kita lepaskan dari peran Amerika Serikat. Sebagai negara imperialis dewasa ini Amerika Serikat telah menjelma menjadi sebuah mesin produksi paham demokrasi sekaligus eksportir ide-ide tersebut. Kooptator negara-negara berkembang dan negara post-konflik selalu jadi incaran Amerika Serikat. Dengan dalih menciptakan kedamaian dunia menggunakan ‘baju’ PBB atau pun NATO Amerika Serikat secara sempurna memperlihatkan peran tersebut. Hal ini bukan sekedar isapan jempol, ini merupakan salah satu ‘kewajiban’ yang terpancar dari pemahaman akan kesadaran atas Ideologi mereka. 

Dewasa ini, kritik keras bahkan penolakan akan demokrasi semakin nyaring diteriakan. Baik dari kalangan aktivis liberal, kiri, maupun ‘radikalis’ kanan. Walau tentu kritik keras mereka terhadap demokrasi berbeda beda, baik secara teknis maupun sisi substansial nya. 

Kritik Teknis atas Demokrasi

Kritik demokrasi pun tak lepas dari para pengusung diawal kelahiran sistem kenegaran ini. Beragam kritik disampaikan mereka. Setidak nya ada beberapa hal yang menyebabkan kritik ini dilakukan. Mengkritik demokrasi dewasa ini tentu tidak akan dapat dilepaskan dengan praktek kenegaraan Amerika Serikat, terlebih polugri Amerika Serikat. Kritik ini dapat kita sarikan dari salah satu buku Noam Chomsky, yang berjudul, “How The World Works”. Chomsky merangkum beragam kritik tokoh pendahulu hingga kontemporer terhadap demokrasi yang dimotori oleh Amerika Serikat, dewasa ini. 

Salah seorang penasihan keamanan pada masa Presiden Clinton, Antony Lake, menyatakan perlu nya mendorong perkembangan demokrasi di luar negeri. Namun yang jadi pertanyaan dalam benak kita, “bentuk yang bagaimana kah demokrasi yang kan dikembangkan itu?” menilik salah satu analis masa pemerintahan Reagen, Thomas Carothers mengatakan, “AS berusaha menciptakan sebuah model demokrasi top-down yang memberikan kontrol efektif kepada struktur kekuasaan tradisional—terdiri atas korporasi dan sekutu-sekutu mereka. Pelbagai bentuk demokrasi yang tidak bertentangan dengan struktur tradisional pada dasarnya dapat diterima. Sementara, bentuk-bentuk yang mengusik kekuasaan tak bisa ditolerir”. Menurut Chomsky, disinilah letak permasalahan nya, “seuatu masyarakat dapat terjebak dalam mode demokrasi formal, tetapi tidak demokratis sama sekali. Uni Soviet, misalnya, mengadakan pemilu”. 

Memang Amerika Serikat menjalani yang meminjam istilah Chomsky, sebagai demokrasi formal. Namun, menurutnya apakah benar, Amerika mengakomodir apa yang disebut sebagai partisipasi rakyat? 

Thomas Ferguson sebagai ilmuan sosial sebagai seseorang yang menelurkan “teori investasi politik” menjelaskan bahwa, “negara dikendalikan oleh koalisi para investor yang bergabung demi kepentingan bersama. Untuk terjun ke arena politik, Anda harus memiliki sumber daya yang cukup dan kekuatan swasta untuk ambil bagian dalam koalisi semacam itu”. Bahkan menurutnya, sejak awal abad ke-19 telah terjadi perebutan kekuasaan di antara para kelompok investor. Konflik ini mulai muncul dikala kelompok-kelompok investor ini memiliki pandangan-pandangan yang berbeda. 

Inilah yang jua dikritik oleh Chomsky sebagai bentuk praktek fasisme. Walau Chomsky mengkritik dalam arti fasisme tradisional, dimana menurut Robert Skidelsky, seorang arus utama menulis biografi Jhon Maynard Keynes, menggambarkan pada masa awal pasca perang sebagai model fasisme, yakni negara mengintegrasikan buruh dan modal di bawah kendali struktur korporasi. Yang mana tujuan utama sebuah negara ideal adalah negara yang absolut dimana adanya kontrol dari atas ke bawah dengan rakyat mengikuti perintah semata. Memang fasisme tradisional ini tidak berkaitan dengan korporasi secara langsung, namun menurut Chomsky bila ditilik pada realitas dewasa ini, korporasi telah menjelma menjadi pemilik kekuasaan yang akhirnya mengkontrol perintah-perintah kepada rakyat. Akhirnya rakyat hanya menjadi penonton pada rantai komando yang ada. Tak lebih. 

Pendekatan “teori demokrasi modern” kira nya lebih artikulatif menerangkan kejadian dewasa ini. Dalam “teori demokrasi modern” Walter Lippman menyebut peranan publik--“kawanan yang kebingungan” dalam istilah Lippman--adalah sebagai penonton bukan partisipan, rakyat hanya muncul setiap beberapa tahun untuk meratifikasi keputusan-keputusan yang sudah dibuat di tempat lain, atau untuk menyeleksi wakil-wakil nya di sektor-sektor dominan lewat yang disebut dengan ‘pemilihan’, yang mana ini hanya untuk melegitimasi kekuasaan”. 

Bila kita menilik teori salah seorang propagandis demokrasi masa awal, Thomas Jefferson. Jefferson di akhir hayat nya menaruh perhatian dan harapan terkait apa yang sudah dicapai dan mendorong berjuang mempertahankan yang menurut nya kejaayaan demokrasi. 

Dalam pandagan nya dia membagi dua kelompok--yaitu kelompok aristokrat dan kelompok demokrat. Kelompok aristokrat adalah kelompok yang takut dan tak mempercayai rakyat, berharap mengambil seluruh kekuasaan dari tangan rakyat ke dalam genggaman kelas-kelas yang lebih tinggi. Sedangkan, kelompok demokrat adalah yang berpihak pada rakyat dan menaruh kepercayaan kepada mereka, menghargai dan memperhitungakn mereka sebagai orang jujur dan dapat dipercaya walau bukan yang paling bijak, gudang kepentinga publik. 


Jefferson secara khusus mewanti-wanti diakhir hayat nya, terkait, “institusi-institusi perbankan dan perseroan-perseroan kaya” yang dapat kita sebut sebagai “korporasi”, menurutnya, “bila mana itu berkembang, kemudian kaum aristokrat memenangkan nya, Revolusi Amerika bakal kehilangan arah. Patut kita dasari, Thomas Jefferson adalah salah satu pejuang muncul nya, Declaration of Independence di Amerika Serikat, Jefferson meninggal meninggal 20 tahun setelah deklarasi tersebut. 


Adalah Mikhail Bakunin, seorang anarkis Rusia. Memprediksi bahwa kelas-kelas intelektual kontemporer akan terbagi dalam dua kelompok--kedua nya merupakan derivatisasi dari kelompok aristokrat menurut Jefferson--. Kelompok pertama adalah “birokrasi merah” yang mana akan merebut kekuasaan ke tangan rakyat dan menciptakan tirani paling kejam dan mengerikan sepanjang serah umat manusia. Sedangkan kelompok kedua, adalah mereka yang memandang bahwa kekuasaan berada dibawah tangan kelompok swasta, dan akan melayani kepentignan negara dan sektor swasta dalam yang kini kita sebut negara kapitalis. Lanjut lagi menurut Bakunin, “mereka akan memukul rakat dengan tongkat rakyat”. Dalam artian mereka akan bersepakat dengan demokrasi sembari memaksa rakyat bersepakat dengan kekejian mereka. 


Kritik dari ‘pengikut’ terakhir Jefferson, John Dewey pun mengatakan, “Institusi-institusi swasta adalah institusi absolut, tak terhingga, dan pada dasarnya totalitarian dalam struktur internal mereka. Pun Dewey menjelaskan akan sulit terjadi sebuah reformasi bahkan mustahil menurutnya, bila masyarakat masih dibawah bayang-bayang kepentinga bisnis besar dalam praktek kenegaraan di suatu negara. 


Kritik Substansial atas Demokrasi


Bila kita mau menilik dari sisi yang menurut pengkategorian NIC adalah ‘radikalis’ yang salah satunya digelorakan secara mendunia oleh organ Hizbut Tahrir, maka HT secara jelas menolak demokrasi ini, hal ini sebagai mana tertuang dalam lembaran-lembaran dan beragam kitab dan selebaran mereka, mulai dari pandangan pendiri- nya, Syaikh Taqiyuddin an Nahbani dalam beragam buku-buku nya yang salah satunya dapat kita lihat pada buku “Peraturan Hidup dalam Islam” yang mengkritik secara mendasar sistem demorkasi. Bahkan dalam salah satu buku karangan Amir Kedua mereka, Syaikh Abdul Qadim Zallum menjadi sebuah buku khusus berjudul, “Demokrasi sistem kufur, haram mengambil dan mengemban nya”. 


Secara substansial demokrasi ditolak oleh HT dikarenakan dalam pandangan demokrasi menyebabkan diturunkannya kedaulatan yang seharusnya dimiliki oleh Hukum Syara’ menjadi berada ditangan rakyat walau dari sisi kekuasaan HT memandang rakyat tetaplah sebagai pemilik nya. Padahal hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti dikutip dalam Buku Struktur Negara Khilafah, tertulis, “Kedaulatan ada ditangan hukum syara’ dan kekuasaan ada ditangan rakyat”. Secara singkat, dijelaskan dalam buku tersebut, maksud dari kedaulatan adalah sebagai kesatuan standar dalam memandang benar-salah dan baik-buruk dalam pelaksanaan praktek-praktek kenegaraan, sehingga yang berhak menilai benar-salah dan baik buruk harus dikembalikan kepada hukum syara’ yang bersumber dari Al-Qur’an dan As Sunnah. Disisi lain, menarik nya menurut HT kekuasaan adalah milik rakyat sejatinya. Tak ayal, dituliskan dalam buku tersebut, “rakyat adalah pemilik kekuasaan sehingga didalamnya terdapat proses baiat sebagai proses perpindahan pemilik kekuasaan dari rakyat kepada seorang Khalifah”. Walau secara teknis pelaksanaan, peran kritik dan masukan rakyat dijunjung tinggi melalui lembaga majelis ummat yang terdiri dari berbagai elemen rakyat. 


Kritik HT secara substansial itu pula yang menjadi standar turunan pada kritik teknis pelaksanaan praktek kenegaraan nya. Semua peran-peran perlu distandarkan dengan hukum syara’. Sehingga, kekuasaan adalah sebuah pemberian dari rakyat untuk seorang Khalifah, maka peran-peran Khalifah haruslah seusai dengan standar bersama, yaitu Hukum Syara’. Bahkan, jika Khalifah tidak dapat menjalankan bahkan secara individu melanggar kesatuan standar tersebut pergantian Khalifah dapat terjadi melalui mekanisme Mahkamah Mazhalim. Itulah kritik substansial yang dilakukan oleh HT.

Khatimah

Begitulah kritik dan penolakan terhadap demokrasi yang semakin mencuat dewasa ini. Sebagai seorang muslim, maka tentu, kritik kita tidak-lah cukup menyentuh pada teknis pelaksanaan, namun perlu mendalam hingga pada kritik substansial nya. Disamping bila kita merujuk pada kritik teknis pelaksanaan. Akan muncul pertanyaan besar, “Apakah mungkin praktek demokrasi ini dapat dilepaskan dengan kepentingan korporasi ??!!” silahkan kita jawab sendiri dan kerjakan apa yang kita yakini itu sebuah kebenaran, namun ingatlah kelak dihari akhir, segala keputusan kita akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya termasuk dalam urusan ini [].

***
M Imadudin Siddiq

You Might Also Like

0 comments