KOKOH-NYA KEIMANAN


Malam itu seorang syaikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

Syaikh itu berkata, "Wahai Sayyid, ucapkanlah la ilaha illallah..." Sayyid Quthb hanya tersenyum lalu berkata, "sampai juga engkau wahai syaikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini? Katahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat La ilaha illallah, sementara engkau mencari makan dengan la ilaha illallah."

***
Sesaat sebelum eksekusi itu dilaksanakan, padahal semua sudah siap sedia. Tali pancang sudah melingkar di leher, mata sudah ditutup.

Seorang perwira tinggi menghadap Sayyid Quthb lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Kemudian, perwira tersebut menyampaikan dengan bibir yang bergetar, "Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita (Gamal Abdul Nasher) yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja sehingga anda dan seluruh teman-teman anda akan diampuni.."

Segera, Perwira itu mengelurakan secarik kertas dari saku bajunya serta sebuah pulpen, dan berkata, "Tulislah saudaraku, satu kalimat saja...Aku bersalah dan aku minta maaf..."

Sayyid Quthb pun menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu tersenyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangay berwibawa beliau berkata, "Tidak tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan yang fana ini dengan Akhirat yang abadi".

Perwira itu berkata, dengan nada suara bergetar karena rasa sedih yang mencekam, "Tetapi Sayyid, itu artinya KEMATIAN..."

Sayyid Quthb pun berucap dengan tenang, "Selamat datang kematian di jalan Allah...Sungguh Allah Mahabesar!".

(Dikutip dari kumpulan kisah : "Mereka yang kembali kepada Allah" karya Muhammad Abdul Aziz Al Musnad. Penerjemah : Dr. Muhammad Amin Taufiq. Courtesy : Al Firdaws English Forum. Sebuah pengantar yang tertulis pada buku, "Ma'alim Fi Ath Thariq (2009), Sayyid Quthb. Penerbit Darul Uswah)

****
Begitulah sejatinya sebagai seorang Muslim. Tanpa kompromi terhadap kedzaliman dan bersabar serta kokoh bahkan dalam tindak kezhaliman yang menimpa dirinya yang konsekuensinya itu merenggut nyawa dirinya. 

Semoga Allah berkahi orang-orang yang selalu menolak diam terhadap kezhaliman serta bersabar dalam cobaan yang menimpa dirinya. Dan semoga pula kita semua tergolong dalam orang-orang seperti itu. Aamiin...

"Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashiir"

***
M Imadudin Siddiq

You Might Also Like

0 comments