M. NURCHOLIS MADJID : SEKULERISME-SEKULERISASI


***
Sekulerisasi

Dengan sekulerisasi tidaklah dimaksudkan penerapan Sekulerisme, sebab “secularism is the name for an ideology, a new closed world view which functions very much like a new religion”. Dalam hal ini jang dimaksudkan ialah setiap bentuk “liberating development”. Proses pembebasan ini terutama diperlukan karena ummat Islam, akibat daripada perdjalanan sedjarahnja sendiri, tidak sanggup lagi membedakan antara nilai2 jang disangkanja Islamis itu mana jang transedental dan mana jang temporal. Malahan hirarki nilai itu sering dalam keadaan terbalik, transedental mendjadi temporan dan sebaliknja atau mendjadi transedental semuanja, bernilai uchrowi tanpa ketjuali. Sekalipun mungkin mereka tidak menguntjapkannja setjara lisan, malahan memungkirinja, namun sikap itu terjermin dalam tindakan2 mereka se-hari2. Akibat dari hal itu, sudah maklum, tjukup parah : Islam mendjadi senilai dengan tradisi dan mendjadi Islamis sederadjat dengan mendjadi trandisionalis. 

Karena pembelaan Islam mendjadi sama dengan pembelaan tradisio inilah maka timbul kesan bahwa kekuatan Islam adalah kekuatan tradisi jang bersifat reaksioner. Katjamata hirearki nilai dikalangan kaum Muslim telah membikinja tidak sanggup mengadakan responsi jang wadjar terhadap perkembangan pemikiran jang ada didunia dewasa ini. 

Djadi dengan sekulerisasi tidaklah dimaksudkan penerapan sekulerisme dan merobah kaum Muslimin mendjadi kaum sekuleris. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai2 jang sudah semestinja bersifat duniawi, dan melepaskan ummat Islam dari ketjendrungan untuk menguchrowikannya. 

Dengan demikiran kesediaan mental untuk selalu mengudji dan mengudji kembali kebenaran suatu nilai dihadapkan kenjataan2 materil, moril maupun historis, menjdadi sifat kaum Muslimin. Lebih landjut dengan sekulerisasi dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai “Chalifah Allah dibumi”. Fungsi sebagai Chalifah Allah itu memberikan ruangan bagi adanja kebebasan manusia untuk menerapkan dan memilih sendiri tjara dan tindakan2 dalam rangka perbaikan hidupnja diatas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanja tanggung djawab manusia atas perbuatan2 itu dihadapan Tuhan. 

Tetapi apa jang terdjadi sekarang ialah bahwa ummat Islam kehilangan kreativitas dalam hidup duniawi ini, sehingga : mengesankan se-olah2 mereka telah memilih untuk tidak berbuat dan salah. Dengan kata2 lain mereka telah kehilangan semangat “idjtihad”.

Sebenaranja pandangan jang wadjar dan menurut apa adanja kepada dunia dan masalah2nja harus dipunjai oleh seorang Muslim setjara otomatis, sebagai konsekwnesi jang logis dari pada “Tauhied”. Pemutlakan transedensi se-mata2 kepada Tuhan sebenarnja harus melahirkan “desakralisasi” pandangan terhadap selain Tuhan jaitu dunia dan masalah2 serta nilai2 yang bersangkutan dengannja. Sebab sakralisasi kepada sesuatu selain Tuhan itulah hakikatnja apa jang dimakan “sjirik”, lawan tauhied. Maka, sekulerisasi itu sekarang memperoleh maknanja jang kongkrit, jaitu desakralisasi terhadap segala sesuatu selain hal2 jang benar2 bersifat Illahy (transedental), jaitu dunia ini. 

Jang dikarenakan proses desakralisasi itu ialah objek duniawi, moril maupun materil. Termasuk objek duniawi jang bersipat moril ialah2, sedangkan jang bersipat materil ialah benda2. Maka djika teradat ungkapan “Islam is Boldsjewism plus God” (Iqbal), salah satu pengertiannja ialah bahwa pandangan Islam terhadap dunia ini dan masalah2nja adalah sama dengan kaum komunis (realistis, dilihat menurut apa adanja, tidak mengadakan penilaian lebih dari apa jang sewadjarnja dipunjai oleh object itu), hanya sadja Islam mengatakan adanja sesuatu jang transedental, jaitu Allah. 

Djustru Islam meletakkan pandangan dunia (wetltanschuauung) dalam hubungannja antara alam dan Tuhan itu sedemikan rupa, sehingga wadjar bagaikan badan dengan kepada diatas dan kaki dibawah (istilah Marx), artinja kepertjajaan kepada Tuhan mendasari pandangan pada alam dan tidak sebaliknja seperti adjaran materialisme dialektika. 

(Drs. H. Nurcholis Madjid)
Djakarta, 2 Djanuari 1970

(Dikutip dari Buku “Pembaharuan Pemikiran Islam” dengan judul tulisan “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat” sub bahasan “Sekulerisasi” hal. 4-6). 

Bahasan Cak Nur terkait “sekulerisme-sekulerisasi” diatas cukup menarik untuk dibahas. Hal ini setidak nya cukup mengkonfirmasi salah satu kritik Ust. Ismail Yusanto (Jubir HTI) dalam 2 ‘magnum opus’-nya, terhadap pandangan Cak Nur. Setidaknya menurut beliau ada semacam ketidakjelasan Cak Nur dalam mendefiniskan suatu istilah, yaitu berkenaan dengan istilah “sekulerisme-sekulerisasi”. Cukup banyak kalimat yang membingungkan dan menurut saya sangatlah multitafsir. Seperti berikut :

“Djadi dengan sekulerisasi tidaklah dimaksudkan penerapan sekulerisme dan merobah kaum Muslimin mendjadi kaum sekuleris. Tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai2 jang sudah semestinja bersifat duniawi, dan melepaskan ummat Islam dari ketjendrungan untuk menguchrowikannya”.

Maksud dari pendefiniskan arti “...menduniawikan nilai2 yang sudah semestinja bersifat duniawi...” sangatlah multitafsir. Definisi mana yang perlu kita gunakan untuk menilai “apa itu hal-hal berkenaan dengan duniawi dan uchrowi?” memang benar setidak nya istilah duniawi-ukhrawi itu memang ada dan disebutkan dalam beragam dalil. Namun, apa maksud dari “menduniawikan hal yang semestinya duniawi itu”? Terlebih Cak Nur tidak menjelaskan, mana yang dimaksudkan dengan kejadian “menguchrowikan hal yang duniawi...”. 

Kembali kepada definisi yang tidak jelas tersebut, bisa jadi istilah politik, pemerintahan, ekonomi dan budaya serta segala hal yang tidak berkenaan langsung secara transedental kepada Tuhan dianggap sebagai suatu yang duniawi sehingga perlu dilakukan “desakralisasi” dalam arti pelepasan diri terhadap Tuhan. Tentu ini sebuah ‘ke-gegar-an’ intelektual. Hal ini akan diperparah dengan minus nya pemahaman keislaman dalam diri seseorang ketika memandang ajaran Islam hanya dari sisi transedental tanpa mau melihat 2 dimensi lain, yaitu dimensi mu’amalah dan uqubat serta dimensi terhadap diri sendiri. 

Hal ini dapat akan semakin diperparah dengan kalimat Cak Nur, seperti berikut :

“Lebih landjut dengan sekulerisasi dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai “Chalifah Allah dibumi”. Fungsi sebagai Chalifah Allah itu memberikan ruangan bagi adanja kebebasan manusia untuk menerapkan dan memilih sendiri tjara dan tindakan2 dalam rangka perbaikan hidupnja diatas bumi ini, dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanja tanggung djawab manusia atas perbuatan2 itu dihadapan Tuhan”. 

Kalimat diatas seolah-olah memberikan garansi dari sebuah ayat, “khalifah dibumi” sebagai bentuk kebebasan bertindak. Kalimat “adanja kebebasan manusia” kemudian “perbaikan hidupnja diatas bumi ini...” ditambah dengan “pembenaran bagi adanja tanggung djawab manusia...” sangat lah multitafsir dan sangat besar kemungkinan untuk disalah pahami dan bahkan digunakan oleh para propagandis kebebasan untuk menjustifikasi sekulerisme yang ditentang oleh Cak Nur diawal tulisan beliau. 

Terlebih bila kita merujuk pada kalimat beliau, seperti berikut: “Proses pembebasan ini terutama diperlukan karena ummat Islam, akibat daripada perdjalanan sedjarahnja sendiri, tidak sanggup lagi membedakan antara nilai2 jang disangkanja Islamis itu mana jang transedental dan mana jang temporal”. ada sebuah hal menarik dimana beliau mencoba menjadikan sejarah menjadi sebuah “tulang punggung” yang menuntut terjadinya sebuah perubahan, yang artinya beliau benar-benar menginginkan sejarah menjadi hal yang tidak terpisahkan dalam mendefiniskan sesuatu. 

Namun nyatanya dalam mendefinisikan istilah sekulerisasi saja beliau terlupa sejarah panjang sekulerisasi di dunia. Bila kita mau merujuk pada sejarah sekulerisasi kita dapati bahwa sekulerisasi merupakan fenomena khas dalam dunia Kristen. Menurut Bernard Lewis (2012), pemikir politik paling berpengaruh di Amerika Serikat sesudah berakhirnya Perang Dingin, “Sejak awal mula, kaum Kristen diajarkan--baik dalam presepsi maupun praktis--untuk memisahkan antara Tuhan dan kaisar dan dipahamkan tentang adanya kewajiban yang berbeda antara keduanya”. 

Paham ini bahkan sengaja di sebar luaskan oleh Barat. Dalam bukunya, Christian in World History, Arend Theodor van Leeuwen, mencatat, penyebaran Kristen di Eropa membawa pesan sekulerisasi. Dalam buku karangan Mark Juergensmeyer (1993) yang berjudul, “The New Cold War?” Leeuwen berpendapat bahwa, “Kristenisasi dan sekulerisasi terlibat bersama dalam suatu hubungan yang dialektikal”. Maka, menurutnya persentuhan antara kultur sekuler Barat dengan kultur tradisional religious di Timur Tengah dan Asia, adalah bermulaannya babak baru dalam sejarah sekulerisasi. Sebab, kultur sekuler adalah hadiah Kristen kepada Dunia (Christianity’s gift to the World).

Arus sekulersisasi ini merubah secara radikal pandangan Kristen Eropa saat zaman kegelapan yang disebut “The Dark Ages of Europe”. Pada masa ini di Eropa, agama, sains, dan filsafat dipandang dari sudut pandang teologi Kristen. Semua agama selain Kristen merupakan penyimpangan dan sesat, Sementara Katolik mengeluarkan sikap Extra Ecclesiam nulla Salus (tidak ada keselamatan di luar gereja), bahkan kalangan protestan menegaskan sikap Extra Christos nulla Salus (tidak ada keselamatan di luar Kristus). Bibel dianggap oleh Kalolik dan Protestan sebagai perkataan Tuhan. 

Kritik Ust. Ismail terhadap ketidakjelasan pendefinisian arti sekulerisasi yang digaungkan Cak Nur menjadi jelas. Terlebih terdapat banyak kalimat yang sangat multitafsir yang malah menjustifikasi arus sekulerisme yang ditolak oleh Cak Nur diawal. Bagaimana mungkin arus ‘sekulerisasi’ yang menurut Cak Nur inginkan dapat terjadi? Namun fakta sejarah membuktikan sebaliknya. Akhirnya apa yang dibawa nya malah membawa kepada arus sekulerisme yang teramat parah dewasa ini, bahkan yang akhirnya definisikan terkait sekulerisme itu, “secularism is the name for an ideology, a new closed world view which functions very much like a new religion”. Ya, sekulerisme benar-benar menjadi sebuah sesembahan baru abad ini. 

Inilah yang dapat disebut dengan kolonialisasi intelektual. Peminjaman istilah dan definisi yang serampangan untuk menarik dan meningkatkan sisi emosional dalam penerimaan sebuah hal yang mungkin dapat terjadi resistensi. Padahal sejatinya, hal ini benar-benar tidak diperlukan. Benar bahwa kita perlu berusaha menurunkan tensi resistensi untuk diterima nya Ide-Ide dan ajaran Islam. Namun, hal ini butuh sebuah pendefinisian yang jelas terhadap sesuatu. Jangan malah akhirnya kita malah yang terkooptasi oleh ide-ide dan cara pandang di luar Islam. Maka, disinilah autokritik secara mendalam terkait pentingnya kita untuk mendefinisikan sebuah istilah [].

***
M Imadudin Siddiq

You Might Also Like

0 comments