MAX HAVELAAR : POTRET KOLONIALISME BELANDA ATAS INDONESIA


“Hanya ada beberapa keadaan di dunia materi ini yang tidak memberi kesempatan kepada seorang pemikir untuk melakukan pengamatan secara cerdas, sehingga aku sering kali bertanya kepada diriku sendiri apakah banyak nya kesalahan yang sudah kita anggap lumrah, banyaknya ‘ketidakadilan’ yang kita pikir benar, berasal dari fakta bahwa kita telah lama duduk dengan teman yang sama di dalam kereta pelancong yang sama”

-Edward Douwes Dekker-

Kerisauan akan ketidakadilan terhadap sebuah realitas sosial lah yang akhirnya mengantarkan Multatuli menulis buku ini. Multatuli dengan nama asli Edward Douwes Dekker, seorang mantan Asisten Residen Lebak pada zaman Penjajahan Belanda abad ke-19. Seorang yang ditugaskan untuk mengurusi wilayah distrik lebak, Banten. 

Max Havelaar sejatinya adalah sebuah novel. Ya, sebuah novel. Adalah kerisauan dari seorang pejabat ‘Belanda’ terhadap praktek pemerasan dan tirani luar biasa yang diderita oleh penduduk asli Hindia Belanda. Karya yang menggugah kebobrokan pemerintahan dan ketidakpedulian para pejabat. Walau sekedar novel, penulis mengatakan ini isi novel ini adalah sebuah fakta. Bahkan, penulis berani menantang pemerintah Belanda untuk membuktikan kekeliruan isi novel tersebut, namun akhirnya kebenarannya tidak pernah diperdebatkan. 

Bahkan ketika Kongres International untuk pengembangan Ilmu Pengetahuan Sosial di Amsterdam pada 1863, untuk membuktikan kesalahannya, namun tidak ada yang berani menerima tantangan itu. Menurut seorang Orientalis asal Leiden, Mr. Veth, yang secara khusus mempelajari masalah-masalah Hindia, menyatakan bahwa dalam buku nya, Multatuli hanya memperhalus kebenaran. 

Pasca penerbitan buku yang pertama, salah seorang anggota parlemen Belanda, menggugat Multatuli dan menyatakan bahwa pembuatan buku ini didalangi oleh partai tertentu. Singkat cerita, isu tersebut ditepis oleh penulis. Secara terbuka, penulis menyatakan dirinya bukanlah anggota dari partai liberal maupun konservatif, menurutnya, dia menempatkan diri dibawah panji KEBENARAN, KESETARAAN, dan KEMANUSIAAN. 

-0-
Dalam sebuah rapat perdana di wilayah kerja nya, Multatuli menyampaikan kepada pejabat di distrik nya sebagai berikut :

“...Tapi bukan hanya karena hati saya bergembira. Karena di lain tempat, saya juga bisa menemukan banyak kebaikan.
Saya tahu penduduk kalian miskin, dan karenanya saya bergembira dengan sepenuh jiwa. 

Karena saya tahu, Tuhan mencintai orang miskin, dan Dia melimpahkan kekayaan kepada mereka yang hendak diujinya. Tapi kepada orang miskin, Dia mengutus semua orang yang menyampaikan firman Nya, sehingga mereka bisa bangkit di tengah penderitaan mereka. 

Bukankah Dia mencurahkan hujan ketika batang batang padi hendak melayu, dan menurunkan embun dalam kelopak bunga yang kehausan?

Bukankah mulia untuk diutus mencari mereka yang kelelahan, yang tertinggal setelah bekerja dan jatuh tersungkur di jalanan karena lutut mereka tidak cukup kuat untuk membawa ke tempat mereka bisa memperoleh upah? Tidakkah saya merasa bergembira, ketika mengulurkan tangan kepada mereka yang terjatuh ke parti dan memberikan tongkat kepada mereka yang hendak mendaki gunung? Tidakkah hati saya melonjak gembira ketika melihat bahwa saya telah dipilih di antara banyak orang untuk mengubah keluhan menjadi doa dan ratapan menjadi rasa syukur?”

-0-
Setidak nya spirit mengayomi yang dimiliki oleh Multatuli dilihat dari isi pidato diatas menarik untuk kita renungi. Singkat kata buku ini sangatlah menarik untuk mengetahui kebrutalan dan ketidakadilan yang terjadi dilihat dari sisi seorang Belanda bahkan Asisten Residen pemerintahan Belanda saat itu. Adalah pendapat Pramoedya Ananta Toer (1999) terhadap buku ini, “Kisah yang ‘membunuh’ Kolonialisme”.

***
M Imadudin Siddiq

You Might Also Like

0 comments