NOAM CHOMSKY : PANGAN DAN 'KEAJAIBAN EKONOMI' DUNIA KETIGA


Akhir-akhir ini di jagad media sosial ramai diperbincangkan kejadian-kejadian luar biasa disektor pangan dan turunan nya. Mulai dari isu beras, impor garam, dsb. Tentu ini takkan lepas dari dampak kebijakan pemerintah saat ini. Setidaknya hal ini menjadi menarik tuk dibahas bersama, minimal buat saya pribadi. 

Noam Chomsky dalam buku nya, "How The World Works". Dalam bahasan yg berjudul, "Pangan dan 'Keajaiban Ekonomi' Dunia Ketiga". Chomsky menulis, "Mari berbicara mengenai ekonomi politik pangan, termasuk soal produksi dan distribusinya, terutama dalam kerangka kebijakan IMF dan Bank Dunia. Institusi-institusi ini menyediakan pinjaman dengan persyaratan yang sangat ketat untuk negara-negara Selatan : mereka harus bersedia mempromosikan sistem ekonomi pasar, melunasi pinjaman dengan kurs mata uang yang tetap dan meningkatkan ekspor-komoditas konsumsi seperti kopi agar rakyat AS bisa menikmati cappuccino, atau daging untuk membuat hamburger-dengan mengorbankan industri pertanian untuk konsumsi lokal".

Tentu kita semua tau AS sangat bernafsu dalam mempromosikan Demokrasi nya yang tentu bertolak belakang dengan negara diktator yang brutal dan represif. Namun, ada sebuah fakta menarik, bahwa AS malah 'membantu' negara diktator yang sangat terkenal represif dan brutal terlebih negara ini adalah negara sosialis, Negara Bolivia. Tentu, dengan prinsip, "no free lunch" kita paham ada maksud lain disana. 

Ditulis oleh Chomsky, "Kemudian Barat datang-Jeffrey Sachs, seorang ahli terkemuka dari Harvard, menjadi penasihatnya-dengan aturan-aturan IMF: menstabilkan mata uang, meningkatkan ekspor produk-produk pertanian, memotong produksi untuk kebutuhan domestik, dan lain-lain. Resep ini berhasil. Angka-angka dan statistik makroekonomi terlihat cukup meyakinkan. Mata uang stabil, utang berkurang, dan GNP meningkat". Chomsky melanjutkan, "akan tetapi, ada borok yang ditutup-tutupi. Kemiskinan merajalela. Kasus malnutrisi meningkat. Sistem pendidikan runtuh". 

Namun ada hal yang paling menarik menurut Chomsky. Menurutnya, "Ada yang membuat ekonomi (Bolivia) cukup stabil, diakibatkan ekspor koka, sebuah tanaman yang merupakan bahan dasar kokain, dan diperkirakan nilai nya mencapai 2/3 dari total ekspor Bolivia".

Dan ternyata keuntungan ekspor koka ini mengalir ke sindikat-sindikat besar, perusahan-perusahan kimia berbasis di AS, yg sebagaimana diketahui mengekspor bahan-bahan kimia untuk memproduksi kokain ke wilayah Amerika Latin. Keuntungan nya fantastis. Mungkin juga ekspor itu memberikan suntikan energi bagi ekonomi AS. Namun, yang pasti ini memberi kontribusi bagi epidemi narkotika internasional, termasuk di AS. 

Namun, disisi lain. Kehancuran sektor pangan menggelayuti diatas awan Bolivia. Menurut Chomsky, "Alasan nya jelas. Berikan petani lahan, kemudian banjiri dengan produk agikultur yang disubsidi AS-mungkin melalui program Food for Peace-sehingga dia tidak dapat menghasilkan produk lain atau bersaing di pasar lokal. Ciptakan situasi ketika petani itu hanya dapat menjadi eksportir produk agrikultur. Mereka tidak bodoh. Mereka pasti akan memilih tanaman yang paling menguntungkan, dalam kasus ini adalah tanaman koka". 

Ini gaya-gaya IMF menghancurkan perekonomian rakyat. Disuatu negeri. Ini juga telah terjadi di Cile. Ini yang akhirnya disebut Chomsky, "Fundamentalisme IMF". 

Kalimat menarik dari Chomsky terkait dampak program IMF, "Orang-orang kaya memang baik-baik saja, tetapi masyarakat umum berada dalam masalah besar". Bisa jadi secara statistik perekonomian bagus, tp secara real dilapangan hancur. Begitulah ekonomi kapitalisme dengan mode Neoliberalisme ala Keynesian dijalankan [].

***
M Imadudin Siddiq

You Might Also Like

0 comments