YUK TERUS BELAJAR (Studi kasus polemik vaksin teruntuk seluruh (calon) tenaga kesehatan)


Polemik vaksin ini saya rasa cukup menarik perhatian banyak orang. Bagi saya hal ini bukan lah hal yang sederhana dan simpel. Ini menjadi sebuah permasalahan bilamana ini terjadi ditingkat para pengemban dakwah. Mengapa? tentu karena mereka orang yang berdakwah dan sedikit banyak akan ditanya terkait hal itu pula. Bayangkan saja, bila terjadi kekeliruan dalam diri pengemban dakwah? lalu dia memberikan jawaban-jawaban yang tidak tepat bahkan kontraproduktif terhadap dakwah nya? Bisa-bisa makin runyam 'dunia persilatan' ini. Menurut pengamatan saya, kejadian ini pun terjadi hampir di semua kelompok dakwah loh. Tanpa terkecuali. 

Hal ini bukan tanpa sebab. Salah satu yang mendasari hal tersebut adalah kurang nya pemberian informasi dari orang-orang yang berkompeten, setidaknya beririsan dengan bahasan itu. Terlebih, para pengemban dakwah 'cenderung' sulit menerima dari diluar nya--walau ini kasuistik. Akhirnya, bila dari kalangan nya orang-orang yang cukup bisa menjelaskan tidak turun menjelaskan menjadi besar polemik ini. 

Saya rasa banyak pula teman-teman yang cukup tau terkait polemik ini namun bersikap diam karena saking kesal dan bingungnya mau menjelaskan seperti apa lagi, mungkin ada pula yang bersikap, lebih baik menjelaskan walau ditolak daripada gak pernah menjelaskan sama sekali. Ya, itu juga permasalahan di internal tenaga (calon) kesehatan juga akhirnya. 

Disisi lain, kita, tenaga (calon) kesehatan bukan lah orang yang paham segala rupa terkait kesehatan. Jangankan lulusan S1, freshgraduate profesi pun sama. Kita banyak memahami itu ketika belajar dari pengalaman di lapangan dan mengikuti perkembangan dunia keilmiahan--sering baca jurnal. Tanpa itu? ya, mungkin gak terlalu banyak hal yang kita ketahui, karena memang terlalu luas nya ilmu itu. 

Bahkan, saya masih ingat sekali, salah seorang dosen saya, memang dia seorang Dokter spesialis ilmu penyakit dalam dengan subspesialis endokrin, berkelakar, "saya makanan sehari-hari ya baca artikel-artikel di jurnal terkait endokrin dkk". Padahal, perlu teman-teman ketahui umur nya sudah cukup berumur, tapi aktivitas membaca dan belajarnya tidak berubah bahkan semakin meningkat. 

Jadi, yang sudah sub-spesialis (pendidikan spesialis kisaran 8-10 semester dan pendidikan sub spesialis kisaran 4-6 semester, jadi total ya sekitar 12-16 semester untuk bisa mendapatkan sub-spesialis, ini diluar pendidikan kuliah dan koass mereka -___- mereka memang lama belajar nya) aja 'kerjaan' nya masih begitu, apalagi seorang mahasiswa profesi atau bahkan seorang mahasiswa S1? tentu harus sering-sering baca :) 

***
Saya cukup sering mlipir ke website ini. Pembahasan terkait vaksin dari mulai sejarah hingga hal-hal yan teknis banyak dibahas disini. Ini bisa jadi rujukan untuk lebih memahami banyak hal secara singkat. 

Eitts, ini bukan website abal-abal loh yah. Ini website pendidikan yang dibuat oleh salah satu organisasi profesi dokter tertua di US. Di web ini juga dibahas perdebatan-perdebatan yang terjadi. Tentu dibahas dengan kacamata keilmiahan.

Ya, setidaknya saya pun yang sedikit memiliki basic keilmuan terkait vakin, banyak yang saya tidak ketahui dari hal tersebut. Memang kunci nya dibanyak membaca dan berdiskusi, bila hanya mengandalkan pendidikan formal (pengalaman saya, baru S1 saja loh ya) sangat kurang, walau tentu pondasi-pondasi keilmuan di pendidikan formal yang saya dapatkan sangat bermanfaat dan lebih memudahkan saya untuk memahami alur pembahasan nya.

Semoga bermanfaat :)

***
M Imadudin Siddiq

You Might Also Like

0 comments