HEGEMONI IDEOLOGI


Ditengah deras nya varian aliran pemikiran dan praktek-praktek nya yang sudah sedikit banyak mulai terasimilasi satu dengan yang lain nya, hingga menyebabkan kita sedikit kesulitan untuk menentukan, sebenarnya mana yang benar-benar akan mempengaruhi pandangan yang selanjutnya berpengaruh pada prilaku praksis manusia itu.

Perkara ini bila ditarik ke ranah kepemimpinan pun jua aspek pemerintahan dapat diibaratkan dengan, bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi atau ‘mengendalikan’ yang dipimpin nya agar tetap taat terhadap aturan pun bisa jadi terhadap apa yang diinginkan oleh pemimpin tersebut.


Bila menilik pada praktek yang dilakukan oleh Machiavelli, maka akan didapati bahwa bentuk kekerasan dan penggunaan praktek represif mutlak diperlukan demi menjaga ‘stabilitas’ kepemimpinan seorang pemimpin. Walaupun, menurutnya yang dapat dilihat dalam buku nya, “The Prince”, tentu akan membuat masyarakat hanya tunduk bila dengan sebuah ancaman. Bahkan, menurutnya, lebih baik masyarakat tunduk dalam sebuah ancaman dan ketakutan dibandingkan mereka tunduk dalam sebuah kesenangan karena menurut nya, kesenangan hanya akan bertahan beberapa saat saja.

Terkait kekuasaan, seorang komunis Italia, Antonio Gramsci berpandangan lain. Gramsci selanjutnya merumuskan konsepnya tentang, “hegemoni”. Menurutnya, kelas-kelas berkuasa memperoleh dominasi bukan dengan kekuatan dan paksaan saja, tetapi juga dengan menciptakan subjek-subjek yang “sukarela” bersedia untuk dikuasai. Ideologi menurutnya, adalah faktor penting nya. Ideologi akan menciptakan kerelaan, ideologi adalah ibarat medium yang melaluinya gagasan-gagasan tertentu itu disampaikan dan, lebih penting, dipercaya kebenarannya.

Hegemoni menurut Gramsci dicapai bukan melalui manipulasi atau indoktrinasi langsung, tetapi bersandar pada kenalaran umum rakyat, yang menurut Raymond Williams disebut dengan “sistem makna-makna dan nilai-nilai hang mereka hayati”.

Perihal hegemoni dalam praktek kuasa-menguasai ini lah, yang jua dikritik secara keras oleh Noam Chomsky dalam bukunya, “Provit over people : Neoliberalism and Global Order” sebut dengan Engineering Consent, dimana penguasa melakukan serangkaian manipulasi untuk mendapatkan dukungan publik terhadap apa yang penguasa lakukan. Tentu, konteks yang dimaksudkan adalah engineering consent dalam kerangka neoliberalisme.

Dengan demikian, menurut Gramsci, Ideologi adalah bukan hanya sekedar refleksi-refleksi terhadap realitas material. Melainkan, ideologi-ideologi adalah konsepsi-konsepsi kehidupan yang tampak dalam semua aspek eksistensi individual dan kolektif. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa menurutnya, ideologi adalah yang jua menggerakkan hubungan-hubungan sosial, “mengorganisasi massa manusia, dan menciptakan wilayah di atas manusia bergerak, memperolah kesadaran atas posisi, perjuangan mereka, dan sebagainya.

Bila kita sedikit merujuk pada Louis Althusser dalam Esai nya "Aparatus Negara Ideologis". Dia menjelaskan bahwa Ideologi mereproduksi hubungan-hubungan sosial dari produksi, dan Ideologi pula menjadikan kita sebagai subjek-subjek.

Pembacaan ciri mendasar Ideologi yang mirip juga pernah disampaikan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani. Dalam kitabnya, Asy-Syakhsiyyah Islamiyyah jilid 1, dinyatakan bahwa Ideologi atau mabda’ adalah bagian integral dari fikroh (pemikiran) dan thariqah (metode). Fikroh secara sederhana adalah sebuah nilai yang hidup dari sebuah pemikiran, sedangkan thariqah adalah bagaimana meletakkan nilai/falsafah yang dianut dapat diterapkan secara praktis dalam kehidupan, baik dalam ranah individual maupun kolektif.

Inilah sesungguhnya hegemoni yang berjalan berdasarkan dasar Ideologi. Istilah hegemoni tidak selalu bersifat negatif. Hegemoni ini tergantung pada apa yang menghegemoni, dalam hal ini adalah Ideologi tersebut. Maka, sebelum kita ‘ter-hegemoni’ oleh Ideologi, maka sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk mempelajari, kemudian mencari dan terakhir menetapkan Ideologi mana yang kita pilih.

Pencarian Ideologi ini tidak bisa melalui indoktrinasi melainkan melalui jalan intelektual, yaitu proses berpikir. Maka, pencarian ideologi mau tidak mau kan menjalani aktivitas konfrontasi intelektual. Berdebat dan berdiskusi secara ilmiah, egaliter, dan santun, serta yang perlu dipahami bahwa hal itu harus sesuai dengan fitrah manusia.

Pada akhirnya, setelah pencarian Ideologi ini terjadi dengan proses tersebut dan telah diterima karena kebenarannya, kemudian ideologi tersebut mengisi relung-relung praksis kehidupan, maka sejatinya ideologi tersebut sudah berubah menjadi sebuah proses kultural yang terjadi secara alamiah [].   

You Might Also Like

0 comments