M. NATSIR


Ia habiskan masa kecilnya di daerah Alahan Panjang mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai pegawai kolonial Belanda sebagai tukang ketik. Selanjutnya, ia berpindah ke Maninjau dan kemudian pindah ke Padang untuk bersekolah HIS Adabiyah (setingkat SD). Selanjutnya, pendidikan nya dilanjut ke MULO (setingkat SMP) di Padang yang kemudian di pindah ke MULO di Bandung dengan beasiswa berkat kerja keras nya dalam belajar.

Selepas kelulusan dan mendapatkan nilai yang memuaskan akhirnya ia mendapatkan beasiswa untuk lanjut di AMS Afdeling A-II (setingkat SMA). Jurusan yang hanya diberikan di AMS Bandung, yang khusus mempelajari sastra dan humaniora Barat. Yang mana di sekolah itu satu-satu nya yang memberi pelajaran bahasa latin, kebudayaan, dan filsafat yunani. Bersebab berasal dari MULO Padang, yang bahasa pengantar nya tidak menggunakan bahasa Belanda, menyebabkan ia harus bekerja keras untuk fasih berbahasa Belanda. Setiap selepas sekolah, ia menghabiskan waktu nya di perpustakaan Gedung Sate untuk membaca beragam buku-buku. Seminggu satu buku, merupakan target nya.

Semasa AMS inilah ia bertemu dengan A. Hassan, seorang ahli agama dari organisasi Persatuan Islam. Akhirnya, ia banyak menimba ilmu, menulis, dan berdiskusi di sana. Saat itu pula akhirnya ia bertemu dengan Jong Islamiten Bond (JIB) cabang Bandung hingga pada tahun 1928-1932 sempat menjadi Wakil Ketua JIB Bandung.

Saat AMS itu pula mula nya Natsir mulai berinteraksi dengan tokoh pergerakan saat itu. Ia pun rajin mendengarkan pidato Sukarno hingga mengikuti rapat umum Partai Nasional Indonesia di Bandung yang sengaja mengundang pimpinan organisasi Islam di Bandung. Namun, hingga akhirnya ia tidak sepaham dengan Sukarno dalam memandang Islam. Pidato Sukarno cukup banyak meminorkan peran Ideologi bahkan cenderung melecehkan ajaran Islam menurut Natsir saat itu.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk berkonfrontasi dengan Sukarno, melalui caranya, yaitu menulis. Berkat pengetahuan yang keislaman yang dia dapatkan dari A. Hassan, gurunya di Bandung ia menuliskan beragam materi yang bisa dikatakan isinya sarat dengan perdebatan dan pemikian. Bernas mengenai soal-soal sosial, ekonomi, dan politik, yang kesemua nya dijiwai dengan semangat dan ideologi Islam yang menjadi pengangan hidupnya.

Bersama guru dan kawan-kawan seperti, A. Hassan, Abikuesno Tjokrosoejoso, dll) nya lah M. Natsir membuat majalah “pembela Islam”. Ditengah kondisi perpolitikan yang tidak memungkinkan dan ancaman hukuman delik pers, akhirnya mereka menggunakan nama samaran, M. Natsir terkadang menggunakan nama AM atau A. Moechlis. Pertempuran pemikiran yang dengan Sukarno yang ia namakan, “Sukarno cs” yang dimana ia ingin memberikan garis pembeda bahwa perjuangan atas dasar kebangsaan dengan perjuangan atas dasar cita-cita Islam. Bahkan, oleh kaum Nasionalis, Majalah, “Pembela Islam” diplesetkan menjadi “Pembelah Islam”. Walau begitu, perjuangan M. Natsir dan kawan-kawan tetap jalan.

Waktupun terus bergulir, kemerdekaan Indonesia pun akhirnya didapatkan. Semangat untuk memperjuangkan Islam menghantarkan nya masuk ke Partai Masyumi bersama pejuang lain nya, Prawoto Mangkusasmito, Kartosuwiryo, dsb hingga ia pun diamanahkan menjadi Ketua Partai Masyumi. Perjuangan untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara tidak berhenti setelah Indonesia merdeka. Sidang Konstituante menjadi saksi atas keberanian ia untuk menyuarakan Islam sebagai dasar negara yang mana menurutnya Pancasila belumlah cukup, sehingga perlu, “Point of reference” yaitu Islam. Terlebih menurutnya, ajaran Islam sudah menjadi kebudayaan mayoritas masyarakat Indonesia. Di Sidang Konstituante itu pula, ia mengkritik secara keras kepada pemikiran sekulerisme dan komunisme tanpa tedeng aling-aling padahal dalam Sidang Konstituante tersebut terdapat tokoh-tokoh Nasionalis yang berpaham sekulerisme dan tokoh yang berpaham komunisme.

Menurut M. Natsir, “Paham sekulerisme adalah suatu paham hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya dalam batas keduniaa. Segala sesuatu dalam penghidupan seorang sekuleris tidak ditunjukan kepada apa yang melebihti batas keduniaan, sebagai Tuhan, akhirat, dan lain-lain. Seorang Sekuleris tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa pekerjaan dan nilai-nilai moral itu ditimbulkan oleh masyarakat semata-mata”. Menurutnya pembawaan dari sifat hakiki sekulerisme adalah “La diniyah” itu sendiri. Dan ini sangat bertentangan dengan agama Islam. Walau berbeda, jelas paham marxis juga dipelopori oleh paham sekulerisme/ la diniyah pula pada hakikat nya, menurut M. Natsir.

Perdebatan sengit dan panas di Sidang Konstituante memang tidak berakhir, dan entah apa yang terjadi akhirnya Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit Presiden pada tahun 1959 untuk membubarkan Sidang Konstituante dan mengembalikan dasar negara kepada yang sebelumnya, yang menandakan munculnya masa otoritarianisme kembali dibawah gagasan nasakom.

Bersebab pemerintah yang semakin menunjukan kecendrungan nya terhadap komunis, M. Natsir memutuskan untuk terlibat dalam gerakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Natsir dan keluarganya kemudian hijrah ke Sumatera Barat. Hingga pada akhirnya perjuangan nya tersebut dapat dikalahkan, dan M. Natsir pun ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara.

Setelah berakhir rezim orde lama, M. Natsir pun dibebaskan, namun begitu tidak berarti dia tinggal diam terhadap kondisi yang ada. Itulah sekelumit kisah singkat M. Natsir. Satu hal yang penting kita renungi adalah.

M. Natsir berpendapat, “Islam bukanlah semata-mata suatu agama, tapi adalah pandangan hidup ang meliputi soal-soal politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Islam adlah sumber segala perjuangan atau revolusi itu sendiri, sumber dari penentangan setiao macam penjajahan : ekspolitasi manusia atas manusia; pemberantasan kebodohan, kejahilan, dan pendewaan dan juga sumber pemberantasan kemelaratan dan kemiskinan. Islam tidak memisahkan agama dan kenegaraan.”[].

Dikutip dan disarikan dari beberapa naskah dan buku Capita Selecta jilid 1, Capita Selecta jilid 2, Buku "Debat dasar negara Islam dan Pancasila Konstituante 1957", Buku biografi M. Natsir, “Natsir,politik santun diantara dua rezim”.

Semoga bermanfaat.
Suwun. 

***
Yang mau download buku dan biografi beliau, dapat di donwload di link berikut : http://www.kangimad.com/2017/11/download.buku.m.natsir.html

You Might Also Like

0 comments