PERICULUM IN MORA : SEBUAH KONSTRUKSI YANG MEMBUDAYA


Sejak Amerika Serikat (AS) tampil berdiri pasca Perang Dunia II, sejak itu pula AS berdiri tanpa ‘penyeimbang’ dan masih tetap demikian hingga sekarang. AS masih mengkooptasi sebagian besar diskursus global, mulai dari urusan Israel-Palestina, ‘War on Terorism”, lembaga perekonomian global, keadilan, HAM, serta semacamnya. 

Praktek imperialisme AS pun tidak berhenti terus direproduksi. Tak terkecuali melalui ‘dagangan’-nya, yaitu Demokrasi. Tak ayal, William Blum mengkritik secara keras kebijakan luar negeri AS dengan menyatakan, “Democracy is the Deadliest US Export”. Bagaimana AS melengserkan secara tidak ‘demokratis’ presiden terpilih dalam negara penganut demokrasi hasil kooptasi mereka sendiri, bagaimana ambiguitas polugri AS di timur tengah yang malah ‘berkawan’ dengan KSA yang mana berbentuk kenegaraannya adalah kerajaan. Dukungan demokrasi ini dalam prakteknya hanya didukung sejauh berkontribusi bagi tujuan sosial dan ekonomi. 

Tak terkecuali ‘Doktrin Muasher’. Seorang mantan pejabat Yordania dan juga menjadi direktur penelitian Timur Tengah di Carnegie Endowment, menggambarkan prinsip yang berlaku : “Argumen tradisional yang selalu diajukan soal dunia Arab adalah bahwa tidak ada yang salah, bahwa semua terkendali. Sehingga dengan logika tersebut, penguasa menilai pihak oposisi dan kalangan luar yang menyerukan reformasi hanya melebih-lebihkan keadaan di lapangan.” Bila saja kita mengacu pada prinsip ‘absurd’ tersebut, apakah jika para diktator mendukung kita, apa lagi masalahnya?”.  

Setali tiga uang dengan imperialisme, kolonialisme juga terus terjadi. Memang secara definisi antara kolonialisme dan imperialisme tidak dapat disamakan secara identik, namun pembacaan dari arah aktivitas penjajahan-nya dapat dikatakan serupa. Pembedaan yang cukup jelas antar keduanya setidaknya apa yang diramalkan oleh Lenin, “Pada saatnya nanti keseluruhan Dunia akan diserap oleh para kapitalis keuangan Eropa. Sistem global ini disebut ‘imperialisme’ dan merupakan tahap tertentu dari perkembangan kapitalisme” yang selanjutnya menurutnya hal ini (imperialisme) merupakan perkembangan tahap tertinggi. 

Padahal, Aime Cesaire dalam Buku nya, “Discourse on Colonialism”, dijelaskan kebrutalan kolonialisme dalam kerangka kapitalisme. Menurutnya,

"Dibawah Kapitalisme maka uang dan komoditas mulai menggantikan hubungan-hubungan manusiawi dan menggantikan manusia, membendakan mereka itu, dan menghilangkan esensi kemanusiaan mereka" lanjut lagi menurutnya, "Kapitalisme tidak saja mengeksploitasi, tetapi juga menonmanusiawikan dan membendakan subjek yang terjajah, selain menon-manusiawi-kan penjajah itu sendiri".

Pasca Perang Dunia II, kolonialisme yang cukup banyak diwakili oleh negara-negara imperialis eropa mulai tumbang satu per satu. Belanda yang akhirnya ‘melepaskan’ negeri jajahan-nya, Indonesia. Inggris yang mulai memberikan ‘garansi’ kemerdekaan bagi Malaysia, India, serta lain nya. Negara Dunia Pertama atau menurut istilah Ania Loomba adalah negara kooptator mulai kehilangan ‘taji’-nya secara fisik. 

Kolonialisme fisik dan materil memang ‘terlihat’ mulai memudar pasca Perang Dunia II. Namun, ‘perjalanan’ memudarnya kolonialisme ini bertepatan dengan kelahiran sebuah konsep neoimperialisme, dengan wacana kolonial atau postkolonialisme. Adalah Edward Said salah satu tokoh yang cukup berpengaruh dalam mempopulerkan hal tersebut. 

Para pengusung melihat postkolonialisme merupakan wacana tandingan (counter discourse) terhadap wacana mapan yang ada (kolonialisme). Wacana ini dianggap sebagai ‘daya emansipasi’ negara Dunia Ketiga untuk keluar dari hegemonik Dunia Pertama. Namun, hal ini justru problematik, justru wacana ini dikonstruksikan berdasarkan nalar kolonial. 

Meminjam pernyataan Anthony King,

“Kita bisa memulai dengan memperhatikan bahwa betapa kolonialisnya atau neokolonialisnya istilah ‘postkolonial’ itu, bukan hanya ketika digunakan untuk menggambarkan ‘seluruh budaya yang dipengaruhi oleh proses imperialistik dari era penjajahan hingga saat ini’ Kolonialisme ini dipandang sebagai diskursus kolonialisme gaya baru, karena kebanyakan ‘pengatahuan ilmiah’ itu sendiri dan diskursus tentang kolonialisme itu sendiri secara dominan muncul dan berasal dari negara-negara yang melakukan penjajahan”. 

Praktek postkolonialisme inilah yang saat ini dijalankan oleh negara imperialisme tunggal, AS. Secara tidak sadar, apa yang dulu dinamakan dengan ‘kemerdekaan’ hanya menjadi pemanis belaka. Ella Shohat bahkan menunjuk istilah ‘pascakolonial’ sebagai bentuk implikasi negatif dalam akademi Barat, : “Istilah ini dipakai untuk menggantikan istilah-istilah politis yang lebih tajam seperti imperialisme atau geopolitik”. 

Konstruksi secara ekonomi dengan menggunakan ‘invisible hand’, politik menggunakan demokrasi-nya, sosial, hukum serta pranata-pranata lain nya. Konstruksi ini bahkan sudah semakin ‘membudaya’. Pembacaan terhadap hal itu dapat kita lihat terhadap upaya sukses Walter Spies yang mengkonstruk budaya Bali medio 1920-1930-an sebagai ‘cermin’ budaya barat-berbudaya tinggi, artistik, dan kontemplatif- untuk menentang kedangkalan dan obsesi penguasaaan teknologi; feminitas melawan maskulinitas; dengan menikmati hubungan yang bebas dan nonhierarkis; dan tak terkecuali masyarakat Bali sebagai pelarian dari bentuk pembatasan seksualitas yang sangat ‘liberal’, khususunya pelarangan homoseksual (dulu) yang berlaku di Barat”. 

Melihat kondisi pasca ‘konstruksi’ itu, salah satu antropolog Inggris, Margaret Mead dan suaminya menggambarkan Bali dengan istilah, “bentuk kultural dari pengidap skizofrenia yang dikonstuksi secara kultural”. Tentu, kondisi Bali sebagai ‘surga seksualitas’ yang identik dengan kebebasan yang tentu sangatlah jauh dari kultur ketimuran pada umumnya hingga hari ini masih terjadi. Bahkan, kita pun mungkin tidak pernah terpikirkan bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk konstruksi Barat terhadap Bali, sebagai mana apa yang dilakukan oleh Walter Spies. Inilah sejatinya salah satu bentuk konstuksi ‘rusak’ produk wacana postkolonialisme yang sudah membudaya.

Maka, disinilah akhirnya perlu nya wacana alternatif baru. Meminjam perkataan Aime Cesaire adalah bahwa sejatinya penjajahan (imperialisme-neoimperialisme) adalah praktek menonmanusiakan subjek terjajah dan juga menonmanusiakan para penjajah itu sendiri. Mengapa? Karena sejatinya secara fitrah relasi antar manusia tidak ditakdirkan menjadi hubungan Tuhan dan HambaNya. Fitrah manusia adalah hanya menghamba kepada Tuhan bukan kepada manusia/benda atau makhluk lain yang dipaksa dikonstruksikan sebagai Tuhan. 

Maka itulah sejatinya, Ideologi Islam berperan sebagai wacana alternatif, dengan menjelaskan bahwa kemerdekaan sejati adalah, "Penghilangan penghambaan terhadap selain Allah SWT menjadi hanya kepada Allah SWT semata..." Dengan begitu, hakikat kemerdekaan kan tercapai. Kemerdekaan yang kan mengembalikan marwah manusia seutuhnya sebagai seorang Hamba bukan manusia jadi-jadi an sebagai penghamba manusia atau tuhan-tuhan an yang sejatinya manusia. Oleh karena itulah, hanya dengan Islam-lah, manusia dapat dimanusia-kan. Hingga pada akhirnya kelak, bahwa ‘periculum in mora’ --bahaya bila diperlambat--adalah dakwah Islam di dunia dan seluruh alam [].  

You Might Also Like

0 comments