‘KUTUKAN’ KIMIA


Pertengahan November lalu (2017), saya resmi mengajar pelajaran kimia. Walaupun sampai saat ini saya menulis tulisan ini pun, saya masih merasa belum pantas menjadi seorang guru. Tapi tak mengapa, setidaknya saya bisa berbagi dan membersamai adik-adik saya (murid)--walau terpisah 5-7 angkatan--dalam mempelajari kimia dan kebaikan. Berbicara kimia, entah mengapa yang muncul saat ini adalah sebuah ke-horor-an yang hakiki. Tak terkecuali bagi murid yang saya ajar. Dalam hati saya, “owalah, belum berubah juga dari 4 tahun yang lalu..hehehe”. Berangkat dari hal tersebut, akhirnya saya memiliki asa dan doa agar adik-adik saya dapat berubah. Tidak perlu harus mencintai kimia, setidaknya mereka dapat memahami filosofi belajar kimia dan mampu.

***
[Saat pelajaran kimia bab asam-basa]

Saya bertanya saat dikelas,
“Asam asetat itu asam lemah apa asam kuat?”

Ada yang menjawab, “lemah..”, “kuat..”.

Kemudian saya timpali lagi,
“loh, kira-kira menurut antm kenapa ya termasuk asam kuat?”

Si X pun hanya senyum-senyum, 
“hehehe—tidak mengerti…”

Saya pun melanjutkan,
“Antum tau, kalo ndak asam asetat itu yang biasa ada di dalam kuah bakso kita, nama lainnya adalah cuku?” 

“Nah, kira-kira bila cuka yang kita makan merupakan asam kuat apa yang akan terjadi pada mulut kita?” 

Ada yang menimpali, 
“Wah, bahaya tuh, katanya bahaya kalo kena tangan…”

Saya pun tanyakan kembali, 
“Antum pernah lihat wujud asam kuat, sebelumnya?”

Merekapun menjawab, 
“Belum…”

Kemudian saya pun berujar, 
“Baik, minggu depan kita akan praktikum di laboratorium kimia, kita akan lihat bagaimana wujud asam kuat itu…”

“yee….” Jawab mereka serentak.

***
[Akhirnya, seminggu kemudian pun kelas yang saya ajar melaksanakan praktikum]  

“Wah, begini toh yang dinamakan asam kuat, asam klorida“

Zat asam klorida ini beruap, dan untuk menuangkannya harus dalam lemari asam serta menggunakan perlengkapan yang cukup, seperti sarung tangan, jas lab, bila perlu menggunakan gloves. Mereka pun terkesima dan saling berebutan mencoba nya, 
“sini, ana-ana mau coba duluan..”

Yang lain pun menimpali,
“hati-hati ya, bisa terbakar bila terkena tangan”

Pun saat percobaan penentuan sifat asam-basa suatu larutan menggunakan indikator sintesis, phenoftlaein, brom timol biru, metil jingga. Beberapa larutan uji yang dicobakan berubah menjadi warna yang berbeda dan berwarna warni dalam plat tetes. Mereka pun kembali tertarik, terlihat dari raut wajah mereka.

“wah, keren, cantik ya warna-warna itu”.
“wah, beda-beda ya warna nya, kalo asam dan basa”.

Begitulah, respon mereka saat itu.

Keriangan mereka saat mengikuti pembelajaran memang menjadi kesenangan dan kerinduan tersendiri bagi seorang guru tentunya. Tak terkecuali saya saat itu. Saya bertekad, bagaimana pembelajaran ini dapat menjadi semenarik mungkin bagi mereka hingga mereka pun nyaman dan senang mempelajarinya.

Dalam hati saya pun berdoa,
“semoga kelak mereka dapat menjadi orang-orang yang bermanfaat untuk agama dan ummat dikemudian hari…Aamiin”.  

***
Selepas itu, saya pun teringat dengan catatan rapor SMA yang pernah saya buka kembali selepas saya mendapatkan gelar sarjana.

Tertulis, 
“Kimia itu kehidupan…walau apapun yang kau paksakan, tetap takkan terpisahkan…selamat menjerumuskan diri dalam kehidupan kimia”.  (catatan wali kelas saya di tahun 2013).

Itulah catatan wali kelas saya dahulu dalam buku rapor saya saat kelulusan SMA (2013). Terselip sebuah doa dan pengharapan beliau terhadap saya. Sebuah historia masa lalu yang tidak pernah terfikirkan oleh saya sendiri. Mendengar istilah “kimia” saja sangatlah minim. Namun itulah yang terjadi, adalah proses yang akhirnya mengantarkan saya pada sebuah kecintaan ini. Berbekal ‘mantra’ wali kelas tersebut saya memang benar-benar ‘terjerumus’ dikemudian hari.

‘Mantra’ itu benar dikemudian hari. Akhirnya, saya melanjutkan studi di bidang kefarmasian yang erat kaitannya dengan ilmu kimia, selama 2 tahun saya menjadi asisten praktikum kimia organik yang tentu basis utamanya adalah kimia, dan puncaknya saat pengerjaan tugas akhir, mengambil topik tugas akhir ‘di lingkaran’ basic science kimia, isolasi dan karakterisasi senyawa. Selepas menyelesaikan S1 (2017), saya kembali ke kota asal saya, Kota Bogor. Ndilalahnya, saya pun akhirnya benar-benar menjadi guru kimia di sekolah saya dulu menimba ilmu.

Kadang saya penasaran apa sebenarnya yang ada dalam fikiran wali kelas saya saat itu. Hingga ‘mantra’ itu muncul dalam benak nya dan terbukti dikemudian hari, saya terjerumus dalam bidang ini. Benar memang ‘mantra’ tak ada dalam terminologi Islam. Maksud saya disini adalah, akhirnya doa tersebut terbukti menjadi qadha bagi saya dikemudian hari. Mungkin salah satu nya bersebab kekuatan doa seorang guru yang terselip di lembaran rapor 4 tahun silam saat SMA dulu.

Saya ingat betul, saat SD saya bukanlah siswa yang ‘lempeng-lempeng’ saja. Tak jarang tangan dan kaki ini ‘bermain’, tempramen. Hingga saat satu kondisi saya ‘takluk’ dibawah seorang guru. Saya harus berubah menjadi lebih baik. Hal itu pun terjadi saat SMP dan SMA. Serta masih banyak kasus serupa yang teman-teman saya alami. Perubahan menuju kebaikan terinspirasi dari diri seorang guru. Saya pun akhirnya paham, bahwa siapa dan bagaimana kita saat ini, sedikit banyak adalah hasil kerja keras didikan dan jawaban doa para guru saat itu.

Hingga, wahai guru sekalian, janganlah lelah dalam membersamai anak didikmu. Jikalau saat ini langit terasa mendung bahkan seakan-akan ingin runtuh menimpamu, yakinlah bahwa sekecil apapun kebaikan itu kelak akan dibalas olehNya. Serta jangan lupakan selalu menyelipkan doa-doa terbaik untuk anak didikmu. Cepat atau lambat, InshaAllah, Allah Swt akan mengabulkan doa itu. Jika tidak terlaksana di dunia, masih ada kehidupan setelah kematian yang kekal nan abadi siap untuk menjawab doa-doa mu.

Salam takdzim saya untuk seluruh guru-guru saya yang sedia mendidik saya yang nakal ini. Berharap apa yang tlah beliau-beliau ajari dahulu dapat menjadi sebuah inspirasi bagi saya pribadi dan murid-murid saya saat ini. Semoga kebaikanNya selalu tercurah untuk beliau-beliau semua. Aamiin.

-M Imadudin Siddiq, 
Seorang guru nubie dari murid masa lalu. 

You Might Also Like

0 comments