JOKOWI UNDERCOVER-BAMBANG TRI



Sabtu, 1 Juli 2017 kemarin tanpa disangka saya dapat berjumpa dengan Bambang Tri. Sosok yang tenar mulai tahun 2016 ini. Bukan karena nama-latar belakang beliau. Bersebab karya beliau, sebuah buku fenomenal, Jokowi Undercover. Sosoknya bagi sebagain kalangan bukan lah apa-apa. Tapi bagi sebagian lain nya, sosok Bambang Tri sangatlah ‘misterius’. Saya pun menilai demikian.

Sosok misterius ini memang menarik bagi saya. Seingat saya, sekitar pertengahan tahun 2016 saya membaca berita beliau di laman online. Gempar bersebab tesis beliau, Jokowi adalah keturunan China dan PKI. Respon saya kala itu, hanya “Gila ini orang, ‘teori’ dari mana...??!” walau saya tidak setuju dengan sistem & rezim Jokowi, tapi bagi saya bersikap adil adalah yang utama, dalam artian segala sikap saya ini harus selalu--saya usahakan--based on datas, terlebih penilaian ini harus berdasarkan landasan hukum syara’. Saya pun bukan penyuka teori-teori labelling person dengan identitas yang pejoratif, seperti orang PKI, orang China, dsb. Tak berselang lama, saya pun dikirimi oleh seseorang buku, beliau tersebut. Walau sampai saat ini pun, belum keseluruhan buku beliau saya baca. Jujur, saya cukup penasaran dengan tesis beliau.

Pertemuan saya dengan beliau memang tidak terlalu lama. Sekitar sejam setengah saya mendengarkan beliau bercerita, sesekali saya bertanya meminta konfirmasi. Namun disini saya tidak akan banyak membahas tesis beliau, Karena itu cukup kita baca dari buku beliau. Saya ingin mengulas sisi lain nya. Membongkar kedok praktek kebringasan rezim Jokowi. 

Sebagai informasi saja, saya mendapatkan kabar beliau terkena pasal bersebab ketidakilmiahan dan kengawuran isi buku beliau. Saya yakin bila teman-teman semua hanya mengikuti media mainstream, maka kesimpulan itu pula yang kita dapati. 

Beliau bertutur, beliau sudah divonis 3 tahun penjara. Vonis itu jatuh awal Ramadhan 1438H, kemarin. Beliau menyampaikan tidak akan melakukan banding. Beliau berseloroh, “Kalo dibanding bakal lebih lama loh..” sambil ketawa menyampaikan. Tentu saya mulai penasaran disana, “Loh, kok bisa..???”. Menurut beliau, apa yang menjerat beliau, keseluruhannya adalah ‘by design’ sekaligus memarginalkan beliau akibat ketakutan Rezim Jokowi. Beliau memberikan sebuah retorika sederhana, “Kalo (rezim) sampai melakukan seperti ini, apa kah ini menandakan Rezim ini takut terkuak nya kebenaran?” Hal  ini bukan tanpa sebab, hal ini dapat kita lihat indikasi yang menyertai nya. 

Pertama, kelucuan menurut beliau adalah ‘permainan’ media dan fakta persidangan yang sangatlah berbeda. Media mainstream mengabarkan vonis pengadilan bersebab diakibatkan ketidakilmiahan dan ketidaksesuaian fakta. Namun, beliau pun menampis hal tersebut. Beliau ‘dikandangkan’ bersebab UU ITE dengan dalih menebarkan kebencian--SARA. Bila kita lihat tesis beliau, maka dua golongan yang beliau sebut, PKI dan CHINA. Menurut beliau ini, pemaksaan dan sangat tidak berdasar. Pertama, PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia, tentu sah-sah saja secara pribadi beliau benci, terlebih melihat track record nya. Kedua, dalih kebencian terhadap CHINA semakin tidak berdasar. Perlu kita ketahui, istri beliau kedua—setelah dengan yang pertama bercerai—adalah seorang CHINA. Bagaimana mungkin, beliau membenci golongan Istri yang tentu beliau cintai? Terlebih menurut beliau, memang dimana letak kebencian terhadap PKI dan CHINA tersebut? Toh menurut beliau, menjabarkan fakta bukan pada PKI dan CHINA tapi pada diri Jokowi dan keluarganya. Namun, aneh nya, isu ketidakilmiahan dan ketidak sesuaian atau pencemaran nama baik tidak pernah dipermasalahkan. Disamping itu, tidak pernah pula ada bantahan secara vis a vis terhadap buku tersebut. Menurut beliau, ini adalah watak rezim pembungkam!

Kedua, proses penangkapan dan proses BAP yang janggal. Menurut beliau, BAP yang akhirnya benar-benar ditulis hanya satu, dan itu pun hanya berisikan biodata saja. Sedangkan BAP yang justru lebih jelas menjurus tidak di-BAP-kan. Beliau berseloroh, “saya itu di tanyai sama brigjen-brigjen, mereka baik-baik, bahkan salah satu brigjen menyampaikan kepada saya untuk sabar—karena mereka tahu ini permainan”.  

Bicara isu keilmiahan dan ketidaksesuain fakta. Tentu ini perlu didalami seharusnya. Namun disini saya menemukan hal menarik. Awal nya saya kira beliau ini hanya seorang yang suka cari sensasi saja. Namun, ternyata menurut penuturan beliau, penggalian fakta ini sudah sangat lama, bahkan sejak 1999 lalu. Satu yang baru saya ketahui pula, beliau pernah merasakan kuliah di UNSOED, Fakultas Pertanian. Walau ketika proses skirpsi tidak diselesaikan. Beliau berseloroh, “Lah, wong aku fokus reformasi..” Terlebih, beliau adalah salah satu wartawan di Media Jepang, Shimbun bahkan sejak beliau kuliah. 

Ketiga, proses persidangan. Ini yang menarik. Saya merasa aneh, ketika beliau menyampaikan beliau divonis 3 tahun penjara, dengan dalih yang tidak sesuai namun beliau tidak melawan menggunakan pengacara. Menurutnya, pengacara yang beliau miliki adalah ‘titipan’ Pak Ganjar dan diberikan melalui kakak nya--Bambang Sadono--sekali lagi ini masalah dana. Kata beliau, “Lah wong, pengacara ne yo orang Jokowi--PDIP--‘melango-melongo’ wae, gregetan aku iki pas persidangan”. Selesai itu, beliau dipindah ke Rutan Blora. Menurut nya, ini pengasingan agar tak tertangkap media [].  

*guess what? kali itu pertama kali nya saya masuk rutan :) 
** reportase saja
***hasil diskusi hampir setahun yang lalu 

sumber foto :
https://www.jawapos.com/read/2017/01/09/100987/dari-penulisan-buku-jokowi-undercover-bambang-tri-raup-keuntungan-segini

You Might Also Like

0 comments