IDEOLOGI ISLAM SEBAGAI KEKUATAN UMAT ISLAM


The Great War I (GW I) memang meninggalkan kisah pilu bagi segenap umat Islam. Bagaimana tidak, kehancuran Kekhilafahan Utsmaniyyah semakin menjadi. Kehancuran secara pemikiran sudah terjadi, namun kehancuran fisiklah yang tidak bisa ditolerir oleh siapapun itu, baik kaum liberal, maupun sekuler yang digawangi oleh Organisasi Turki Muda. 

Kehancuran fisik merupakan aib terbesar saat itu. The Sick Man of Europe, sebutannya. Bahkan, ketika perang mempertahankan provinsi libiya yang coba dianeksasi oleh Italia di awal abad ke-19 pun memaksa Cever Pasha, yang kelak akan menjadi salah satu trisula pemimpin dari organisasi turki muda, rela melakukan geriliya di daerah-daerah pedalaman Libya untuk melawan tentara Italia, yang mana sulthan sendiri sudah angkat tangan--karena begitu banyak pemberontakan dan peperangan saat itu-- dan bersiap untuk melepas nya. Walau, namun akhirnya, Cever Pasha dan Organisasi Turki Muda nya, terpaksa melepas kan semangat itu, karena Konflik Balkan yang sengaja dijadikan kartu truf oleh Italia, sehingga Kekhilafahan terpaksa memaksimalkan konsentrasi pada Konflik Balkan yang selalu diganggu oleh Rusia. 

Posisi Kekhilafahan dapat dikatakan memiliki posisi strategis. Bahkan, proses masuknya Kekhilafahan Utsmaniyyah masuk ke GW I penuh dengan intrik dan lobby tingkat tinggi. Saat itu, akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19, Kekhilafahan dapat dikatakan memiliki hubungan yang cukup baik dengan negara yang nantinya masuk dalam Blok Sentral maupun Blok Sekutu. 

Sebelum GW I, Kekhilafahan mengalami beberapa persoalan pelik perihal stabilitas kenegaraan. Mulai dari permasalahan Armenia, pencaplokan negara-negara di Afrika hingga dikatakan hampir seluruh provinsi di Afrika pun terlepas. Konflik Balkan yang akhirnya menyebabkan lepasnya wilayah Yunani. Hal tersebut, menyebabkan terkonsentrasinya pada persoalan peperangan, hingga dapat menyebabkan ekonomi lesu, para pemuda yang dalam masa produktif tidak bekerja, dsb. Sebab itu akhirnya, memaksa Kekhilafahan melakukan peminjaman hutang luar negeri yang salah satunya kepada Prancis, sebesar 100.000.000 dollar US. Kemudian, pembuatan 2 kapal perang canggih dari perusahaan pembuatan kapal perang Inggris, Vickers and Armstrong pada Agustus 1911. Namun, ternayata Prancis maupun Inggris pun memiliki ambisi pada Kekhilafahan Utsmaniyyah. Inggris memiliki perjanjian khusus dengan wilayah negara-negara arab trucial--UAE, Oman, Qatar, Bahrain. Kendali itu ada di mereka. Sedangkan Prancis memiliki wilayah jajahan di daratan Afrika. 

Rusia sendiri merupakan salah satu negara yang paling menginginkan kehancuran Kekhilafahan. Lepas nya Yunani dan konflik Balkan juga ditenggarai dimotori oleh Rusia. Bahkan, Tsar menginginkan Konstatinopel demi impian menempatkan Kristen Koptik di sana. Terkadang, Kekhilafahan Utsmaniyyah menggunakan Perancis dan Inggris untuk meredam ambisi Rusia. Namun itu juga bukan hal yang aman. Kekhilafahan Utsmaniyyah membutuhkan sekutu, hingga Jerman lah menjadi salah satu pilihannya. 

Kedekatan Kekhilafahan Utsmaniyyah dan Jerman segera terjadi. Perjanjian dan hubungan bala bantuan segera terlaksana. Kaisar Wilhelm II mengirimkan seorang jenderal berpengalaman untuk memimpin dan mereformasi ulang angkatan perang Kekhilafahan Utsmaniyyah pasca Perang Balkan. Otto Linman von Sanders dari Prusia dikirimkan untuk itu. Yang kemudian dilanjutkan dengan janji pemberian suntikan dana. 

Juni 1914 terjadilah pembunuhan yang menjadi pelecut GW I. Putra Mahkota Austria, Franz Ferdinand dibunuh sehingga menimbulkan dualisasi di Tanah Eropa. Sebenarnya, Kekhilafahan berada diluar keduanya. Namun, beberapa daerah di Kekhilafahan Utsmaniyyah berada pada posisi sulit dan rentan terkena dampak perang besar tersebut. 

Rusia menginginkan Istanbul, Selat, dan Anatolia Timur. Perancis menginginkan Suriah, Inggris tertarik dengan Mesopotamia, dan Yunani ingin melebarkan sayap cengkramananya atas Aegea. Pemerintah realistis, jika sendirian mempertahankan hal tersebut, sulit bahkan tidak ada peluang untuk dapat melawan musuh yang begitu banyak. 

Pecahnya GW I merupakan titik yang pelik bagi Pemerintah Kekhilafahan Utsmaniyyah. Pengalaman pahit perang yang tanpa henti telah meluluh lantakkan sebegitu rupa, kondisi militer yang belum pulih sedia kala, serta kondisi ekonomi belum stabil menjadikan pemerintah tidak ingin terlibat dalam GW I. Netralitas adalah yang diinginkan. Namun, akhirnya persekutuan itu jatuh pada Jerman.

Persekutuan Jerman-Utsmani menarik untuk direnungi. Tahun 1898, Kaiser Wilhelm II melakukan kunjungan kenegaran ke Kekhilafahan Utsmaniyyah. Di Damaskus, Kaiser menjanjikan persahabatan abadi antara jerman untuk Ustmaniyah khususnya dan para umat Islam di seluruh Dunia umumnya :

“Semoga Sultan dan 300 juta warga muslimnya yang tersebar di seluruh pelosok dunia, yang memuliakannya sebagai khaifahnya, percaya bahwa Kaiser Jerman akan menjadi sahabat mereka selamanya”. 

Kekhilafahan Utsmaniyyah memiliki posisi geostrategic yang cukup penting. Lebih dari 100 juta muslim dibawah kekuasaan Inggris di India, Teluk Persia, dan Mesir. Ini merupakan potensi untuk memanfaatkan semangat Umat Islam sebagai senjata melawan Inggris. 

Adalah Pemikir Islam Politik asal Jerman, Baron Max Oppenheim adalah yg pertama dapat menangkap kekuatan Kaum Muslim yang akhirnya menyarankan kepada Kaiser Wilhelm untuk semakin mempererat hubungan dengan Khilafah Utsmanyah. Baron Max Oppenheim pernah menyampaikan,

"Pada masa depan, Islam memainkan peran yang jauh lebih besar...kekuatan dahsyat dan keunggulan demografi negara-negara Islam pada suatu saat nanti akan memiliki arti yang sangat penting bagi negara-negara Eropa" 

Akhirnya, setelah melalui serangkaian kejadian, memaksa Kekhilafahan Utsmaniyyah masuk ke gelanggang pertandingan walau dengan kondisi yang sangat tidak optimal. Akhirnya terjadilah malapetaka besar. Kekalahan Blok Sentral yang Kekhilafahan Turki Utsmani termasuk didalamnya diperparah dengan Perjanjian Gelap saat GW I terjadi, Perjanjian antara diplomat Prancis, François Georges-Picot dan diplomat Inggris, Mark Sykes. Yang ini hari dikenal dengan Perjanjian Sky-Picot tahun 1916, semakin menghancurkan eksistensi Kekhilafahan Utsmaniyyah.  

Ada sebuah hikmah besar. Adalah Ideologi Islam sebagai pemersatu perjuangan. Sebagai ruh dalam segala bentuk perlawanan, penindasan, dan segala tindak kedzaliman. Pun selain itu Ideologi Islam ini perlu dimotori oleh seorang pemimpin yang akan memberikan arahan strategi.

Dengan begitu Ideologi Islam menjadi ruh dan pemimpin Umat Islam sebagai jenderal lapangan yang siap mengarahkan ‘moncong-moncong perjuangan’. Sekali lagi, demi sebuah panggilan keimanan, “untuk menyebar Islam sebagai rahmatan lilalamin…”

Namun, sayang nya saat ini, dalam diri kaum muslim sendiri, masih ada pula yg belum dapat menangkap kekuatan umat Islam tersebut. Masih saja egosentris kewilayahan yang lebih  dikedepankan. Padahal sejarah telah membuktikan, Kaum Kafir (Jerman) saja paham bahkan mereka paham sejak 3 abad yg lalu. Lalu, mengapa kita tak mengambil hikmah nya?[].


*Diadaptasi dari Buku "The Fall of Khilafah" karya Eugen Rogan (2016). Penerbit Serambi. 
*Sumber foto : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/18/03/03/p50gg6282-yahudi-aktor-di-balik-kehancuran-khalifah-utsmani

You Might Also Like

0 comments