PRAKTEK KEFARMASIAN ERA KEKHILAFAHAN UTSMANIYYAH


Perabadan Islam memang akan tetap menjadi daya tarik. Takkan pernah selesai untuk dikaji dan didalami. Tak ayal, ilmuan barat pun mencatat itu dalam beragam buku dan tulisan mereka. Beragam bidang kehidupan peradaban Islam ternyata menarik minat mereka, tak terkecuali bidang kesehatan. Pada abad ke 15-17 bidang kesehatan Kekhilafahan Utsmaniyyah berkembang pesat dan menjadi mercusuar kesehatan dunia.

Hong (2014) dalam artikelnya, An Historical Examination of Smallpox Vaccinations: Past and Present Immunization Challenges menyatakan bahwa Imunologi--ilmu tentang sistem imun manusia--yang terkenal saat ini pun, ternyata hasil impor ilmu dari Kekhilafahan Utsamniyyah. Tahun 1714, Royal Society of London--perkumpulan Ilmuan tertua di daratan Eropa--menerima sepucuk surat dari Emanuel Timoni yang menggambarkan teknik variolasi yang dia saksikan di Kota Istanbul, Ibu Kota Kekhilafahan Utsmaniyyah. 

Terungkap pada, pada tahun 1723 sebuah surat tulisan Lady Mary Mortley Montague, Istri Dubes Inggris untuk Khilafah Utsmaniyyah, menyatakan bahwa teknik variolasi telah dilakukan di Khilafah Utsmaniyyah dan kemudian Istri Dubes tersebut lah yang membawa ilmu itu kepada Ilmuan di Inggris. 

Salah satu cabang keilmuan kesehatan modern yang kita ketahui adalah ilmu farmasi. Ilmu yang berhubungan secara mendalam terkait dunia perobatan, mulai dari pembuatan produk obat, pemberian obat, serta monitoring dan evaluasi obat saat-pasca penggunaan. Pada periode itu pula, ternyata praktek kefarmasian ini pun sudah dilakukan di wilayah Kekhilafahan Utsmaniyyah.

Praktek kefarmasian ini sudah dilakukan dengan kompetensi yg khas. Yaitu dilakukan oleh seorang apoteker--farmasis. Kemampuan nya terutama dalam hal compounding obat--pembuatan dan penyiapan obat. Praktek itu dilakukan di rumah sakit yang ada, termasuk di rumah sakit di Kota Istanbul.

Memang pada periode tersebut, belum ditemukan adanya departemen Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) seperti saat ini. Dimungkinkan hal tersebut masih include dalam sistem Rumah Sakit. Namun fungsi seorang apoteker beberapa sudah dilakukan saat itu. Mulai dari penyiapan resep obat dari seorang dokter, pemberian konseling atas penyakit dan obat yang diberikan. Hal itu dilakukan demi meningkatkan kualitas hidup pasien juga agar pasien memahami bagaimana mereka menggunakan obat dengan baik dan benar demi tercapai nya 3 prinsip penggunaan obat, Efficacy, Quality, and Safety

Bahkan, pada saat itu, Rumah Sakit di Kota Istanbul pun sudah melakukan pembuatan formularium rumah sakit. Sebuah dokumen yang berisikan daftar obat dan segala hal yang berkaitan terkait terapi obat--farmakoterapi. 

Selain itu, di periode tersebut juga sudah banyak ditemukan berbagai bentuk sedian--bentuk obat--yg mafhum dalam ilmu kefarmasian modern. Mulai dari pulveres, pil, suppositoria, bahkan sedian nasal spray yg saat ini banyak digunakan dengan indikasi penyakit asma.

Menariknya, ternyata perkembangan di Kekhilafahan Utsmaniyyah ini sangatlah kontras dengan negara lain, terutama Eropa pada periode yang sama. 

Miri Sheffer-Mosshenshon (2012), seorang profesor di Universitas Tel-Aviv, Israel menulis dalam buku nya, Ottoman Medicine : Healing and Medical Institution, menyatakan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu :

1. Political will pemerintah
2. Ketaatan kepada agama

Pertama, pemerintah Kekhilafahan Utsmaniyyah sangat serius mengurusi perihal kesehatan untuk masyarakat nya, bahkan masyarakat dibebaskan dari biaya berobat di Rumah Sakit (RS). Namun, gratisnya biaya berobat bukan menjadi bumerang untuk tenaga kesehatan yang bekerja, baik dokter, apoteker, dan yang lain nya. Mereka tetap digaji secara cukup setiap bulan nya, selain itu mereka pun diangkat menjadi semacam pegawai negeri sipil (PNS) demi menjamin keejahteraan mereka. Tenaga kesehatan pun tidak hanya direkrut dari kalangan muslim, non muslim pun dapat menjadi tenaga kesehatan di rumah sakit di wilayah Kekhilafahan Utsmaniyyah. Hal ini menjadi jelas bahwa tidak ada diskrimasi dalam kehidupan sosial dalam Islam. 

Kedua, ketaatan kepada agama yg dipegang erat tidak hanya oleh masyarakat, namun juga oleh tenaga kesehatan dan pemerintah saat itu. Salah satu yang menarik dari sisi ini, pada periode tersebut, dokter-dokter muslim di Kekhilafahan Utsmaniyyah saat menuliskan resep mereka selalu mengawali resep mereka dengan, 

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...". 

Inilah yang menurut Miri Shefer Mossensohn sebut dengan, The Marriage of Medicine and Religion. Suatu keyakinan bahwa berobat adalah ikhtiar untuk sehat walau sejatinya kesehatan sendiri tetap bergantung pada Qadha Allah Swt. 

Menilik sejarah diatas tentunya memberikan motivasi besar bahwa kita--Umat Islam--bisa menjadi mercusuar keilmuan dunia. Toh, dulu kita bisa. Walau saat ini 'selimut' inferioritas masih menguat. Yakinlah, dengan ketekunan dan ketaatan hanya kepadaNya, semua itu kelak dapat terulang kembali. Sungguh Umat Islam akan kembali jaya! [].

Sumber :

*Foto : https://creativemarket.com/Netkoff/285895-hand-draw-medicine-pattern

You Might Also Like

0 comments