PUBLIC HEALTH IN OTTOMAN EMPIRE



Kekhilafahan Utsmaniyyah periode akhir (1800an-1900an) selain berhadapan dengan arus pemikiran pembaharuan hasil didikan Eropa yang jelas destruktif, pun harus menghadapi polemik pada aspek kesehatan. 
Saat itu, muncul berbagai macam penyakit, terutama penyakit infeksi. Suatu penyakit yang diakibatkan oleh agen biologis, baik bakteri maupun virus. Bersebab itu penyebarannya sangat sporadik dan akhirnya mewabah.  
Kondisi ini cukup merepotkan pemerintah saat itu. Walau sebenarnya wabah ini tidak saja menyerang wilayah Kekhilafahan Utsmaniyyah, pun juga menjangkiti beberapa negara di Eropa. Namun, kondisi ini ternyata memicu semacam intrik politik negara lain untuk mengkooptasi Kekhilafahan Utsmaniyyah.  Tercatat, mulai dari Inggris hingga Perancis bernafsu untuk itu. 
Mereka melakukan propaganda bahwa Kekhilafahan Utsmaniyyah tidak dapat menyelesaikan permasalahan wabah penyakit tersebut. Selain itu, mereka juga mencoba menyakinkan Kekhilafahan Utsmaniyyah untuk memasukan inovasi ala mereka dalam menanggulangi wabah penyakit tersebut. Semacam kamp pengasingan bagi para penderita. Mengisolasi penderita agar tidak menjangkiti masyarakat umum. 
Disisi lain, pada saat yang sama kondisi pemikiran umat Islam saat itu. Mulai dari masyarakat awam, ulama, dan juga pemegang kebijakan, termasuk Menteri Kesehatan saat itu, bahkan ada yg menyikapi permasalahan penyakit menular adalah sebuah "QadhaNya" sehingga tidak perlu melakukan tindakan preventif maupun kuratif, "Toh, itu sebuah ketetapan 'langit'". Pemikiran fatalisme itu benar ada, walau tidak menyeluruh. 
Singkat cerita, intrik politik untuk mensukseskan pembuatan kamp pengasingan itu ditolak Kekhilafahan Utsmaniyyah. Dibalik propaganda itu ternyata ada motif ekonomi negara-negara Eropa. Sebab itulah yang dikhawatirkan dapat 'menyetir' kebijakan-kebijakan Kekhilafahan Utsmaniyyah.
Lalu apa yg dilakukan oleh Kekhilafahan Utsmaniyyah?
Ternyata, sebelum wabah itu melanda, Kekhilafahan Utsmaniyyah sudah lebih dulu dan sangat serius menyiapkan infrastruktur yg sangat mendukung tercapainya public health yg baik. Salah satunya dalam pengaturan sanitasi yg baik dan sehat. Mulai dari pembuatan kanal-kanal, saluran air, hingga pembangunan sumber air bersih yang mencukupi. James DeKay, seorang Traveler asal Amerika Serikat (AS) yang meninjau secara langsung pun berdecak kagum. Bagaimana Kekhilafahan Utsmaniyyah sangat serius mengurusi sanitasi lingungan. Bahkan menurut DeKay pada periode yg sama sanitasi di Kekhilafahan Utsmaniyyah lebih baik dari Amerika Serikat (AS).
Di Kota Istanbul saja, setidaknya terdapat kanal air sepanjang sekitar 80 km. Kekhilafahan Utsmaniyyah juga membuat infrastruktur sistem pipa aliran untuk memasok air bersih di Kota Istanbul yg diambil dari pegunungan sekitar. Pengaturan sanitasi ini lah yang lebih dahulu diprioritaskan untuk menyelesaikan permasalahan kesehatan dibandingkan dengan pembuatan kamp pengasingan 'ala' negara-negara Eropa pada periode abad ke-19an.
Menilik sejarah singkat diatas. Ternyata, dalam Ilmu Kesehatan Masyarakat modern saat ini pun, ketersediaan air bersih menjadi kebutuhan yg penting dan mendasar. Ketersedian air bersih adalah prasyarat dalam peningkatan kualitas kesehatan individu dan masyarakat, dewasa ini. Pembuatan kanal-kanal, saluran air, dan pembangunan sumber air bersih yang cukup dalam rangka menciptakan suatu sanitasi lingkungan yang baik dan sehat bahkan saat ini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan Indonesia bahkan Dunia. 
Apa yg dilakukan oleh Kekhilafahan Utsmaniyyah saat itu adalah suatu terobosan yg sesuai  dengan Ilmu Kesehatan Masyarakat Modern. Sekaligus ini menunjukan bahwa, Kekhilafahan Utsmaniyyah adalah suatu negara dengan tingkat kesehatan dan moderenitas yang tinggi. Dan sungguh, inilah salah satu aspek yang memang telah diajarkan Islam, terlebih Islam adalah agama amaliyah, tak hanya sekedar ilmu tapi jua mendorong umat nya untuk mempraktikan apa yang tlah dipelajarinya []. 

*Disandur dari buku, "Plague, Quarantines, and Geopolitics in The Ottoman Empire" Karya Birsen Bulmus (2012). Edinburgh University Press.  
*sumber foto : https://wall.alphacoders.com/tags.php?tid=3270

You Might Also Like

0 comments