BIBLIOSIDA PERANG BOSNIA


Kondisi Bosnia

Penduduk Bosnia adalah komposisi antara keturunan etnis Serbia, Kroasia, serta sebagian kecil sisa-sisa Khilafah Turki Utsmani.

Penaklukan Khilafah Turki Utsmani memberikan dampak menarik. 4 abad lama nya kepemimpinan Khilafah membuat banyak warga yg secara sukarela menjadi mualaf, bahkan dari etnis Serbia sendiri. Hingga akhirnya secara statistik Umat Muslim mayoritas di sana, sekitar 45 %.

Kondisi ini lah yg kemudian menyulut kecemburuan sosial etnis Serbia yang latar ortodoks. Dikemudian hari kecemburuan ini semakin mengakar bahkan merekapun membuat identitas pembedaan, etnis muslim, etnis serbia, dan etnis kroasia. Padahal etnis Muslim sendiri mayoritas adalah keturunan asli Bosnia.

Perebutan kekuasaan dan pengalaman konflik diwilayah ini memang sudah terjadi lama. Terlebih, setelah meletus nya Perang Dunia I yang juga ditenggarai berlatar konflik antar etnis.

Klimaks nya, terjadilah Perang Bosnia (lebih tepat nya disebut dengan pembantaian) pada kurun yg terjadi pada kurun 1992 hingga 1995 tentu menjadi pengalaman pahit lagi menyesakkan dada umat manusia, terkhusus Kaum Muslim.

Kaum Muslim menjadi korban utama dan memang menjadi modus peperangan. Pembantaian atas kaum muslim menjadi salah satu bencana kemanusiaan terbesar yang permah ada. Tercatat 150.000 orang meninggal, 2 juta jiwa terusir dari rumah nya, gedung-gedung hancur, ratusan masjid hancur. Perang Bosnia jelas merupakan praktek etnic cleansing, penghapusan etnis Muslim.

Pengancuran Buku di Perang Bosnia

Mengutip Almansour, "Dimana manusia membakar buku, disitu pula pembantaian atas manusia terjadi". Genosida dan pengancuran budaya dan ingatan masyarakat benar-benar dilakukan pada Perang Bosnia. Strategi 'Damnatio memoriae' atau penghapusan ingatan dilakukan dengan sangat keji. Pembakaran jutaan buku dan membunuh manusia adalah jalannya.

Pasukan Serbia sengaja menjadikan perpustakaan dan universitas-universitas sebagai objek yg wajib dihancurkan.

Bahkan, menurut Vjeloslav seorang pustakawan, "Tak ada yg tersisa disini", "Saya melihat asap menbumbung dan kertas-kertas berterbangan ke segala arah. Saya ingin menangis, dan ingin berteriak, tapi saya terdiam bersimpuh dengan tangan memegangi kepala. Selama sisa umur ini, saya harus menangung beban ingatan tentang bagaimana mereka membakar Perpustakaan Nasional Bosnia-Herzegovina di Sarajevo".

"Serangan terhadap Perpustakaan Nasional hanya berlangsung kurang dari setengah jam" Tutur Kemal Bakarsic, Kepala Perpustakaan Museum Nasional Bosnia-Herzegovina.

Padahal Perpustakaan Nasional ini setidaknya menyimpan 1,5 juta buku, 155 ribu teks langka, 478 manuskrip, dan jutaan terbitan berkala dari seluruh dunia.

Adalah Jenderal Serbia, Ratko Mladic yang memerintahkan tentara nya agar bangunan Vijcenica (Perpustakaan Nasional berada) dibakar dengan 25 bom api, meski gedung tersebut tlah ditandai dengan bendera biru yg artinya pantang untuk dijadikan sasaran perang karena sebagai cagar budaya dunia.

Selain penghancuran Perpustakaan Nasional di Sarajevo titik-titik kebudayaan dan pengetahuan lain juga jadi amuk Tentara Serbia. Tercatat Universitas Osijek , Museum dan Perpustakaan Umum Vukovar, Perpustakaan Sains di Zadar, termasuk Institut Kajian Timur di Sarajevo tak luput dari serangan.

"Kerugiannya tidak dapat diukur atau bahkan ditebus" tulis Kemal Baraksic, Kepala Perpustakaan Museum Nasional Bosnia.

Baraksic pun melanjutkan, "Dalam kurun dari dua jam, lima juta manuskrip dalam bahasa Turki, Persia, dan Arab, lebih dari seratus buku pemetaan wilayah dari zaman Ottoman (Khilafah Turki Utsmani), termasuk buku-buku yg menunjukan bahwa Bangsa Slavia yg beragama Islam sudah tinggal selama berabad-abad di Bosnia, serta catatan-catatan lain masa Ottoman (Khilafah Turki Utsmani) yg mencapai 200.000 halaman, 300 mikrofilm tulisan-tulisan Bosnia dari manuskrip-manuskrip di perpustakaan lain, 10.000 buku perpustakaan riset institut, dan 300 set terbitan berkala...Semuanya hangus terbakar".

Bahkan menurut Andras Riedlmayer, Direktur Program Arsitektur Islam Aga Khan Universitas Harvard, "Institut Kajian Timur jelas dijadikan sasaran khusus. Dari beberapa saksi mata yang diwawancarai, gedung itu diberondong serangan bom api yang ditembakman dari puncak-puncak bukit yang menghadap ke pusat kota". Namun aneh nya menurut Andras Riedlmayer, "Tak ada gedung lain di wilayah yang padat itu ikut diserang".

Tentara Serbia tidak hanya menyerang fasilitas perpustakaan publik, perpustakaan pribadi pun ikut dihancurkan. Salah satunya adalah perpustakaan Komunitas Muslim di Stolac, Perpustakaan Masjid Sultan Selim I (yg dibangun pada1519 saat pendudukan Khilafah Turki Utsmani), Perpustakaan Masjid Pogdradska, Perpustakaan keluarga Behmen, Mahmutcehajic, Mehmedbasic, dan Rizvanbegovic tak luput dari sasaran penghancuran.

Bencana Kebudayaan Terbesar

Setelah di lakukan investigasi pasca Perang Bosnia pada kurun perang selama 4 tahun itu, tercatat 188 perpustakaan terkena serangan, 43 diantaranya bahkan musnah. Terdiri dari perpustakaan umum dan perpustakaan milik pribadi.

Tak terkecuali, Dewan Eropa pun mengeluarkan pernyataan, "bencana kebudyaan Eropa dalam kadar yang amat mengerikan". Bahkan Dewan Keamanan (DK) PBB pun mengeluarkan laporan, "penghancuran secara sengaja atas benda-benda budaya yang tidak dapat dijustifikasi oleh kepentingan militer". Menurut Baez, "Nazi pun tidak se-efisien ini dalam memusnahkan buku". Jelas penghancuran ingatan di Perang Bosnia sengaja dan secara terstruktur ditargetkan.

Menghilangkan Ingatan Kaum Muslim

Umat Muslim menangung kerugian besar yang jelas tak bernilai harganya. Selain genosida, bibliosida (pengancuran buku) pun jelas dilakukan. Bukan tanpa alasan, hal tersebut dilakukan sekali lagi untuk menghilangkan jejak hingga tak bersisa.

Seperti ungkapan Bogres :
"Dari berbagai instrumen manusia, tak syak lagi yang paling mencengangkan adalah buku. Yang lain adalah perpanjangan ragamu. Mikrpskrop dan teleskop adalah perpanjangan penglihatan; telepon adalah perpanjangan suara; lalu kita memiliki bajak dan pedang, perpanjangan lengan. Namun buku berbeda : buku adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi".

Buku merupakan pelembagaan atas ingatan bagi suatu umat. Disanalah ingatan itu dirawat dan dilestarikan. Sejatinya tidak untuk masa dimana buku itu ditulis, tapi lestari nya ingatan adalah untuk anak cucu dan generasi setelahnya. Buku pun menjadi warisan budaya suatu masyarakat. Dalam buku tersebut lah tertanam kemampuan dalam memberikan sebuah rasa kepemilikan yg jua dimiliki oleh para pendahulu. Buku juga akan memperkuat dan menstimulus identitas diri suatu masyarakat.


Karena sungguh tak ada identitas tanpa ingatan. Jika buku sebagai kepanjangan sebuah ingatan yang secara turun temurun ada dari satu generasi ke generasi lain nya, maka penghancuran buku (bibliosida) sejatinya adalah penghancuran identitias suatu masyarakat.

Maka, sejatinya bila genosida adalah membunuh manusia untuk menghilangkan suatu masyarakat pada zaman itu. Namun yang jauh mengerikan adalah bibliosida, dia membunuh manusia dan generasi setelahnya, hingga suatu masyarakat tidak dikenal oleh siapapun bahkan dapat dianggap tidak pernah ada di Dunia. Sungguh mengerikan! [].


*Penulis :Muh Imadudin Siddiq

Sumber :
1. Buku Pengancuran Buku : Dari Masa ke Masa, Karya Fernando Baez (2013). Marjin Kiri.
2. Foto : http://www.ohkembara.com/category/rancang/destinasi/eropah/bosnia-herzegovina/ 

You Might Also Like

0 comments