JAWA


Proses penghilangan jejak Islam di Tanah Jawa bukan tanpa sebab, ini merupakan sebuah 'karya' sistematis dan sangat terencana dari Pemerintah Kolonial Belanda.
Sebuah strategi berjudul, “Strategi Memangkas Islam" pernah disampaikan oleh Mantan zendings consul van Radjwick. Sebagai berikut :
“Islam adalah musuh yang menakutkan, yang tidak harus diserang secara langsung, tetapi kekuatannya harus dikurangi melui berbagai cara yang ada—dari mempromosikan kebiasaan rakyat kuno, adat, dan agama rakyat, dialek daerah—yang berbeda dengan Bahasa Melayu, yang dikaitkan dengan Islam—sampai modernisasi perawatan kesehatan dan pendidikan khususnya”.
Praktek nya dapat disaksikan, pada era Kolonialisme Belanda, diberlakukan sebuah strategi yang dinamakan, “Nativisasi Kebudayaan”. Yakni sebuah strategi dengan mengembalikan kembali Jawa sebelum masa pra-Islam.
Di tahun 1830 Pemerintah Kolonial Belanda akhirnya mendirikan Institute voor het Javaansche Tall (Lembaga Bahasa Jawa) di Surakarta. Berkumpulah Para Javanolog (Ahli-Ahli Jawa) kebangsaan Belanda untuk menggali kesusastraan, Bahasa dan sejarah Jawa Kuno yang telah lama hilang di kalangan orang Jawa.
Javanolog Belanda lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda”.
Hasil nya, lembaga ini akhirnya berhasil menciptakan sebuah kultur yang menjadikan Islam sebagai unsur asing dalam budaya jawa.
Dampak nya teramat nyata. Ini hari kita pahami dan rasakan. Ketika berbicara Jawa, maka yang sering muncul dalam benak kita adalah mistisme, raja-raja zaman hindu-budha, dsb.
Rasanya, Jawa itu tidak terlihat jejak keislamannya. Bahkan dampak nya sampai kepada 'pengkaburan' terhadap sejarah walisongo, yang kemudian lebih kental perihal mistik dibanding sejarah Walisongo dalam melakukan Islamisasi di Tanah Jawa [].

*Penulis : Muh Imadudin Siddiq

Diadaptasi dari :
- “Kawan dalam Pertikaian” karya Karel Steenbrink
- “Berebut Indonesia” karya Arif Wibowo.


You Might Also Like

0 comments