BELAJAR DARI M. NATSIR


“Islam bukanlah semata-mata suatu agama, tapi adalah pandangan hidup yang meliputi soal-soal politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan. Islam adalah sumber segala perjuangan atau revolusi itu sendiri, sumber dari penentangan setiap macam penjajahan : eksploitasi manusia atas manusia; pemberantasan kebodohan, kejahilan, dan pendewaan dan juga sumber pemberantasan kemelaratan dan kemiskinan. Islam tidak memisahkan agama dan kenegaraan.”

-Moh. Natsir

Risalah dan seruan-seruan ia selalu menarik buat didalami. Sintesis antara seorang modernis, politikus, aktivis yg kuat ditambah tempaan ulama besar A. Hasan membuat ia menjelma menjadi sosok yang tangguh dan kuat.

Bagaimana keras nya ia menyerang secara gentle atA serangan orientalisme serta misi zending terhadap Islam dimasa politik etis, tulisan demi tulisan, propaganda demi propaganda yg cukup membuat kalang kabut Pemerintah Kolonial saat itu. Tak cukup disitu, pertarungan terhadap arus sekulerisme juga ia serius.

Soekarno tentu memahami bagaimana keras nya pertentangan beliau terhadap sekulerisme. Mulai dari Islam Akal Merdeka versus Islam Sontoloyo hingga panas nya sidang konstituante menjadi rekam sejarah.

Meskipun begitu, ia adalah potret bagaimana rajutan lawan-kawan itu adalah hal normal. Beda konsep, apalagi berbeda fundamen, tentu Islam lah yang ia bawa, tawarkan dan terus unggulkan. Sekaligus, tak pernah ia lewatkan untuk terus menyerang hal-hal yang bertentangan dengan Dienul Islam. Semua terekam jelas direntetan sejarah Persidangan Sidang Konstituante. PKI, PNI tahu persis akan hal itu.

Tapi, apa? Di kafetaria gedung dewan, ia kerap bercengkrama dengan D.N. Aidit. Ngopi bareng. Meregangkan urat-urat dan tensi pertentangan. Ia paham, adakalanya ia 'menyerang' ada kalanya ia bertegur sapa dan kabar.

Ia pun bukan seorang pendendam. Ketika dekrit presiden resmi membubarkan sidang konstituante hingga kemudian merembet ke permesta, hingga berujung pada pembubaran masyumi, bahkan dibalik jeruji besi pun pernah ia rasakan. Namun, apa? Ia memilih menyerahkan semuanya padaNya. Bahwa itu QadhaNya untuk dirinya.

Akhir kata, ia adalah sosok yang tak kan lekang oleh waktu. Gajah boleh mati, meninggalkan gading walau ada yang tak sempurna. Raga boleh meninggalkan kita. Tapi, spirit dan perjuangannya wajib terus hidup ditengah-tengah kita. Hari ini hingga kelak nanti. Selalu teriring doa kebaikan tuk ia, Moh. Natsir! [].

*Muh Imadudin Siddiq



***
Ingin tau lebih banyak tentang ia?
1. Sejarah singkat beliau : http://www.kangimad.com/2017/11/m.natsir.html
2. Buku-buku pdf perihal beliau : http://www.kangimad.com/2017/11/download.buku.m.natsir.html

**sumber foto : http://www.radarmalang.id/mengenag-mosi-integral-natsir-pencetus-proklamasi-kedua-nkri/

You Might Also Like

0 comments